Rabu, 8 Februari 23

Menteri Agama Minta Elit Serius Sikapi Kasus Yuyun

Menteri Agama Minta Elit Serius Sikapi Kasus Yuyun

Jakarta, Obsessionnews Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin minta kepada elit Indonesia untuk serius menyikapi kasus kematian Yuyun. Kasus kekerasan terhadap anak seperti ‘bola salju’, dan harus distop sekarang juga.

“Elit formal, mulai dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. Juga elit informal seperti tokoh masyarakat, pendidik, dan tokoh agama. Juga orangtua harus lebih serius menyikapi hal ini,” demikian penegasan Lukman, Senin (09/05), seperti dilansir laman Kemenag.go.id.

Sebelumnya politisi PPP itu telah membuat puisi berjudul “Nyala Untuk Yuyun”. Namun dia enggan menyebutnya sebagai sebuah puisi, tapi sekedar curahan hati. “Saya tidak ingin mengotori atau merusak para ahli puisi. Ini hanya sekadar curahan mungkin tidak layak disebut puisi,” terangnya.

Disebut curahan, karena Menag merasa sangat terhenyak ketika mendengar kabar berita kasus kematian Yuyun. Dia bahkan mengaku sulit tidur karena terfikirkan betapa masyarakat Indonesia harus lebih serius lagi bekerja agar kompleksitas persoalan sosial yang sampai merenggut nyawa anak, apalagi perempuan, dengan cara yang begitu mengengenaskan tidak terjadi lagi.

“Pada masyarakat yang semakin beradab seharusnya tidak boleh terjadi. Kematian Yuyun harus betul-betul kita tangkap maknanya dan harus kita jadikan pelajaran yang begitu berarti,” tegasnya.

Pada saat yang sama, Menag Lukman juga tidak memungkiri bahwa pelaku kejahatan terhadap Yuyun yang masih remaja juga korban. para pelaku yang masih remaja, sebagian masih duduk di bangku sekolah adalah harapan orang tua. Karenanya, tanpa mengecilkan kejahatan yang sudah dilakukan, Menag menilai mereka juga korban.

“Karena kondisi kemiskinan, lalu dipicu miras dan pengaruh pornografi, mereka melakukan kegiatan tidak terpuji. Jadi ini adalah korban dari sistem yang harus kita benahi bersama,” tuturnya.

Akan hal ini, Menag Lukman mengatakan bahwa ada lima hal yang bisa dilakukan ke depan. Satu hal bersifat kuratif, empat hal lainnya preventif. Hal kuratifnya adalah memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada pelaku dengan tetap berpegang pada azas keadilan.

Adapun keempat hal preventif yang bisa dilakukan: pertama, memperkuat ketahanan keluarga sebagai banteng dan jaring pengaman sosial. Kedua, memperbanyak aktivitas keremajaan. “Para remaja mempunyai energi yang luar biasa sehingga harus disalurkan ke beragam aktivitas positif,” ujarnya.

Ketiga, hindari paham misoginis. Menurut Menag, misoginis adalah paham tidak senang dengan anak perempuan sehingga dalam menghadapi apapun, reaksi yang muncul adalah menyalahkan perempuan. “Keempat, meningkatkn sensivitas kita terkait potensi pelanggaran kekerasan terhadap anak dan perempuan dalam semua komunitas kita,” terangnya.

baca juga:

Menag Buat Puisi ‘Nyala Untuk Yuyun’

14 Pemuda Perkosa Yuyun Hingga Tewas, Pendidikan Gagal

Aksi Solidaritas Yuyun di Semarang

Aktivis Perempuan di Padang Prihatin Kasus Yuyun

“Kita harus lebih banyak bersiap melakukan tindakan preventif,” tambahnya.

Mendikbud Anis Baswedan dalam kesempatan yang sama juga mengatakan bahwa kasus Yuyun adalah kebiadaban. Menurutnya, tanguis orang tua Yuyun adalah tangis bangsa Indonesia. “Ini adalah peringatan buat kita semua. Mari biasakan anak kita dari kecil untuk menghormati, terutama hormati perempuan. Tidak boleh laki-laki bertindak biadab seperti itu. Menghardik saja sudah harus ditegur. Peristiwa ini tidak boleh terulang,” katanya.

Mendikbud mengamini puisi Menag Lukman yang memberi pesan bahwa persoalan ini merupakan sesuatu yang kompkeks yang berujung pada peristiwa yang tidak terbayangkan. Karenanya, Mendikbud mengajak semua pihak untuk mengambil tangung jawab.

“Orang dewasa, perhatikan anak muda dan adik kita seperti adik kandung sendiri. Bila mereka berada di tempat yang beresiko, sapa dan ajak kembali. Bila mereka di jalan yang ramai, sapa jangan tunggu ada kecelakaan. Ini semua adik kita,” pesannya.

Pemerhati anak, Seto Mulyadi juga mempunyai pandangan yang sama dan berharap kasus serupa tidak terulang. Kak Seto menggarisbawahi bagian akhir puisi Menag Lukman dan berharap pesan didalamnya bisa disadari semua pihak, bahwa Lentera perlindungan anak dan perempuan harus terus menyala.

“Marilah lentera perlindungan anak ini kita terus nyalakan bersama dengan membentuk satgas perlindungan anak di RT dan RW. Di sekolah juga perlu dibentuk satgas perlindungan anak untuk memantau apakah sekolah aman pulang sekiolah,” tandasnya.@reza_indrayana

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.