Senin, 26 September 22

Menristek: Jumlah Doktor di Indonesia Masih Minim

Menristek: Jumlah Doktor di Indonesia Masih Minim
Bandung, Obsessionnews – Walikota Bandung Ridwan Kamil bersama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhamad Nasir, menjadi pembicara dalam acara talkshow Indonesia Mencari Doktor yang digelar di Aula Barat, ITB, Jalan Ganeca, Bandung, Kamis (8/10/2015).

Dalam kesempatan tersebut Ridwan sempat mengatakan pemerintah kota Bandung bertekad membantu anak-anak Bandung untuk dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin dengan program beasiswa.

“Saya mau negosiasi dengan DPRD intinya memberi beasiswa sehinga anak bandung pintarnya tidak hanya mentok sampai SMA terus S1 S2 bahkan S3, tapi S3 yang studinya hasilnya bisa langsung dimanfaatkan oleh pemkot,” Kata Ridwan saat ditemui seusai acara.

Selain itu Ridwan sempat menilai sosok Menristekdikti M Nasir yang menurutnya merupakan menteri yang memiliki inovasi. “Menteri ini bagus banyak inovasinya memberikan ketegasan juga,” terangnya.

emil menristek2
Dalam talkshow dihadapan menteri Ridwan mengatakan curhatan pribadinya tentang sulitnya mendapatkan nilai baik saat kuliah di Indonesia, dari pada kuliah di Amerika Serikat saat mendapat gelar master yang dengan mudah mendapat nilai tinggi.

“Saya kuliah di ITB hanya mendapatkan IPK 2,7 sedangkan di Amerika relatif lebih mudah, saya mendapatkan IPK 3,9,” Katanya.

Sementara itu, Menristek M Nasir dalam acara tersebut mengatakan program tersebut merupakan salah satu terobosan pendidikan dalam memenuhi pembangunan nasional.

Nasir memaparkan sampai akhir tahun 2013, tenaga dosen tetap yang tercatat di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi adalah 154.968 dosen dengan komposisi kualifikasi akademis sebanyak 54 persen setara magister (S2), 11 persen doktor (S3) dan 36 persen sarjana atau diploma.

emil menristek3

Melihat angka tersebut, jumlah Doktor perlu ditingkatkan, minimal 20 persen dari jumlah seluruh dosen perguruan tinggi. Karena, jika mengandalkan program pendidikan doktor reguler yang ada saat ini, dengan produktivitas paling banyak 1.000 doktor setiap tahun, maka dibutuhkan waktu sekitar 13 sampai 14 tahun untuk mencapai proporsi 20 persen.

“Dalam konteks inilah tersebut diharapkan selain mempercepat pemenuhan kebutuhan SDM dengan kualifikasi doktor, juga menjadi salah satu program untuk menghasilkan berbagai temuan baru untuk memperkuat inovasi nasional dan daya saing bangsa,” kata Nasir.

lanjut Nasir, meskipun program studi terbilang singkat, namun karateristik pendidikan doktor tetap tidak bisa ditawar dan menghasilkan doktor yang unggul. Program tersebut, dikembangkan bukan hanya untuk mencetak doktor yang ahli dan penemu yang hebat. Namun juga mencetak doktor yang cendikiawan, berilmu dan bijaksana. (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.