Kamis, 9 Desember 21

Menperin Sesalkan Harga Gas Industri Lebih Tinggi di Indonesia

Menperin Sesalkan Harga Gas Industri Lebih Tinggi di Indonesia

Jakarta, Obsessionnews.com – Penurunan harga gas bagi industri menjadi langkah awal untuk memperoleh multiplier effect yang berpengaruh positif kepada perekonomian nasional. Oleh karena itu harga gas di Indonesia diharapkan produk Indonesia memiliki daya saing yang kuat.

Demikian yang disampaikan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto pada Focus Group Discussion yang digagas oleh Forum Wartawan Industri (Forwin) dengan tema Efek Berganda dari Penurunan Harga Gas Industri dan Dampaknya Bagi Perekonomian Nasional di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Menperin mengatakan, idealnya harga gas untuk industri dipatok pada harga USD4-5 per million metric british thermal unit (MMBTU). Namun harga gas industri di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga ASEAN, seperti Singapura sekitar USD4-5 per MMBTU, Malaysia hanya USD 4,47 per MMBTU dan Vietnam seebesar USD7,5 per MMBTU.

“Namun, kondisinya industri kita membeli gas pada kisaran harga USD7-10 per MMBTU bahkan ada yang mencapai USD12-14 MMBTU,” ungkapnya, Kamis (22/9/2016).

“Apabila harga gas di Indonesia berada pada level yang sama dengan negara-negara tetangga, maka kami yakin produk-produk Indonesia akan memiliki daya saing yang makin kuat,” tegas Airlangga.

Namun disisi lain Kementerian Perindustrian menyambut positif penerbitan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016, yang menjadi dasar hukum revisi harga gas ke industri sejak Mei lalu.

“Dengan beleid tersebut, diharapkan harga gas untuk industri yang saat ini di atas USD 6 per MMBTU berpotensi dapat diturunkan,” ujarnya. Namun demikian, Menperin memandang bahwa sektor-sektor yang telah tertuang dalam Perpres 40/2016 masih perlu diperluas.

Pihaknya juga mengusulkan adanya revisi dari Perpres ini dengan menambah cakupan sektor industri dari tujuh sektor menjadi 10 sektor serta ditambah industri-industri yang berlokasi di kawasan industri

Kesepuluh sektor industri tersebut, yakni Industri Pupuk, Industri Petrokimia, Industri Oleokimia, Industri Baja/Logam Lainnya, Industri Keramik, Industri Kaca, Industri Ban dan Sarung Tangan Karet, Industri Pulp dan Kertas, Industri Makanan dan Minuman, serta Industri Tekstil dan Alas Kaki.

Untuk diketahui, di Tahun 2015, penggunaan gas bumi untuk sektor industri mencapai 2.280 million metric standard cubic feet per day (MMscfd). Adapun pembagiannya, yakni untuk bahan baku industri pupuk dan petrokimia sebesar 1.086 MMscfd, untuk kontak langsung dengan produk di industri keramik, kaca, dan semen sebanyak 337 MMscfd, serta sebagai energi untuk industri lain sebesar 857 MMscfd.(Aprilia Rahapit)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.