Rabu, 28 Oktober 20

Meningkat, Orang China Tak Punya Hasrat Seksual!

Meningkat, Orang China Tak Punya Hasrat Seksual!
* ilustrasi aseksual. (BBC)

Aseksual, atau orang-orang tanpa hasrat seksual, meningkat jumlahnya di China. Bagaimana kisah mereka berhadapan dengan budaya di sana?

Diane Xie tak khawatir ia tak punya ketertarikan seksual dan tak bisa membayangkan harus berhubungan seks dengan seseorang.

“Menurut saya terbebas dari hasrat seks bagus buat saya karena menurut saya seks itu tak bermakna dan tidak produktif.”

Tak ada angka pasti berapa jumlah orang yang mengaku aseksual di China. Psikolog Kanada profesor Anthony Bogaert memperkirakan untuk Inggris, jumlahnya bisa satu persen populasi orang dewasa.

Dengan memakai perkiraan ini, peneliti di China menduga ada 10,8 juta orang aseksual di China, dengan angka 1,08 miliar orang berusia di atas 20 tahun menurut perhitungan terakhir.

Orang aseksual di China kini aktif di beberapa forum daring di beberapa media sosial di sana. Banyak yang bertukar pengalaman secara rutin dan mengembangkan kosa kata sendiri.

ilustrasi aseksual. (mashable)

Gejala
Diane berusia 20-an. Ia pernah kuliah di Hong Kong, Inggris dan Belanda. Pertamakali mengenali dirinya sebagai aseksual ketika ia berpacaran dengan seorang pria Belanda yang ia temui di universitas.

Sesudahnya ia merasa bingung kenapa tak punya ketertarikan seksual kepada teman kencannya, sekalipun ia merasa punya hubungan romantis. Akhirnya ia berhasil mengenali “gejala” itu ketika mendiagnosa diri secara daring.

Ia kemudian mengenai AVEN — Asexual Visibility and Education Network — komunitas aseksual daring terbesar. Sesudah membaca definisi aseksual di sana, ia merasa itulah dirinya.

Menurut Diane sebagai perempuan China, mengaku aseksual sangatlah sulit karena budaya yang mengedepankan nilai keluarga. Orangtua pasti panik dengan kemungkinan tak menikah dan tak punya anak.

Tekanan
Tekanan untuk menikah dan punya anak juga datang dari pemerintah, seiring kekhawatiran krisis demografi di China. Juga ada kekhawatiran surplus jumlah laki-laki akibat aborsi selektif yang dilakukan terhadap perempuan karena kebijakan satu anak di masa lalu.

“Saya berulangkali mencoba bercerita kepada orang tua saya. Sekarang ibu saya mengerti dan berjanji tak akan memaksa saya menikah jika itu membuat saya tak bahagia.

Namun ayah berkeras, ia berpikir saya belum bertemu saja dengan orang yang saya suka,” kata Diane.

Jebakan besar
Tetapi Diane hanya satu dari sejumlah besar perempuan China yang menimbang ulang tak hanya soal seks dan hubungan, tapi juga nilai pernikahan dan reproduksi. “Menurut saya pernikahan itu jebakan besar buat perempuan,” katanya.

“Kalau reproduksi bisa dilakukan tanpa seks dan pernikahan, orang bisa menikmati lebih banyak kebebasan pribadi.”

Diane mengatakan ia punya teman baik, tapi percaya bahwa ia akan sendiri saja sampai akhir hidupnya. Menurutnya sulit untuk menemukan orang yang cocok secara romantis tapi juga aseksual di saat yang sama. (*/BBC)

Sumber: BBC Magazine

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.