Rabu, 27 Oktober 21

Mengurai Misteri Pertemuan Freeport

Mengurai Misteri Pertemuan Freeport
* Pengkaji geopolitik Hendrajit.

Jakarta, Obsessionnews – Pengkaji geopolitik Hendrajit merasa ada yang yang aneh dalam kasus Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) yang diadukan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, Senin (16/11/2015). Setnov diduga mencatut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang meminta saham untuk perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. (Baca: Hendrajit: Freeport Berhasil Adu Domba Pemerintah dan DPR)

Hendrajit mencoba mengurai misteri pertemuan Freeport, pengusaha minyak Riza Chalid, dan Presiden Direktur Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin. Dia menduga Jokowi memerintahkan Sudirman membuka kasus Setnov. Sudirman menuruti perintah Jokowi mengadukan Setnov ke MKD dan bukan ke kepolisian. (Baca: Jokowi Didesak Copot Menteri Antek Asing!)

“Di sini saja sudah aneh sebenarnya. Kalau merasa namanya dicatut, berarti bukan saja jabatan Presiden dan Wakil Presiden dibawa-bawa. Tapi sudah merupakan penghancuran reputasi dan kredibilitas Jokowi dan JK secara pribadi. Kenapa Sudirman dilarang membawa kasus ini ke kepolisian? Masa iya hancurnya reputasi kedua pemimpin nasional ini cukup puas dengan tebusan pemecatan Setnov atas dasar pelanggaran etik. Masuk akalkah? Tapi okelah. Nyatanya opsi ke MKD yang dipilih,” kata Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) ini seperti dikutip Obsessionnews.com dalam tulisannya di akun facebooknya, Jumat (27/11/2015). (Baca: Seandainya Semua Emas Freeport Dimiliki Indonesia (Bagian 1))

Tetapi, lanjutnya, di luar dugaan, terjadi perlawanan dari Koalisi Merah Putih (KMP). Yang lebih mengerikan lagi, Prabowo Subianto baik secara pribadi maupun selaku petinggi KMP membela Setnov. (Baca: Seandainya Semua Emas Freeport Dimiliki Indonesia (Bagian 2 – Selesai))

“Kalau cuma KMP yang membela Setnov, nggak aneh. Tapi Prabowo mendukung juga, ikut memberi energi tersendiri untuk mementahkan manuver Sudirman,” ujarnya.

Menurutnya, MKD menampik aduan Sudirman dengan dalih soal status hukum si pengadu. Intinya, manuver Sudirman mati angin.

Logikanya semua jajaran kabinet dan staf presiden satu suara mendukung Sudirman yang menjalankan instruksi Jokowi mengadukan Setnov ke MKD. Tapi, faktanya tidak demikian. Menko Polkam Luhut Panjaitan tidak membenarkan langkah Sudirman itu.

“Ini berarti Sudirman merasa dikhianati dong. Karena sikap Luhut sejatinya juga sama dengan sikap Jokowi. Walaupun sampai sekarang Jokowi belum membuat pernyataan,” tutur Hendrajit.

Apakah Luhut membangkang kepada Jokowi? “Rasanya tidak masuk akal. Pasti, pengaduan Sudirman ke MKD maupun sikap penentangan Luhut terhadap sepak terjang Sudirman, sejatinya berasal dari satu sumber, yaitu perintah Jokowi,” ucapnya.

Apalagi, lanjutnya, hal ini diperkuat oleh pernyataan JK, bahwa Sudirman sudah bertemu Jokowi sebelum mengadu ke MKD. Meski mengaku tidak tahu apa isi pembicaraan mereka, JK menegaskan pertemuan Jokowi dan Sudirman merupakan fakta, bukan fiksi.

“Kesimpulannya, ada dua jalur di pusat kekuasaan, yang menjalin kontak dengan Freeport. Dan kedua kongsi itu saling bertempur. Dan gara-gara itu saling bongkar,” pungkasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.