Rabu, 5 Agustus 20

Mengenang Kasman Singodimedjo

Mengenang Kasman Singodimedjo
* Kasman Singodimedjo.

Oleh: M. Fuad Nasar, Konsultan The Fatwa Center Jakarta

 

Suasana duka meliputi Masjid Jami’ Sekolah Tinggi Kedokteran YARSI (kini Universitas YARSI) di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Selasa 26 Oktober 1982. Siang itu jamaah shalat zuhur yang mencapai ribuan orang melimpah hingga ke halaman masjid. Sejumlah tokoh Islam, di antaranya Mohammad Natsir, Buya H.A. Malik Ahmad, K.H. Dr. Idham Chalid, K.H. Saifuddin Zuhri, M.Yunan Nasution, Ketua Umum MUI K.H. Hasan Basri, Lukman Harun, dan banyak lagi yang lain hadir untuk shalat jenazah tokoh Islam yang meninggal dunia yaitu almarhum Prof. Mr. H. Kasman Singodimedjo. Kasman meninggal di RS Islam Jakarta 25 Oktober 1982, pukul 19.45 WIB dalam usia 78 tahun. Kediaman beliau di daerah Cempaka Putih juga tidak jauh dari komplek YARSI.

Sambutan pelepasan jenazah di Masjid Jami’ YARSI disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah K.H. A.R. Fachruddin, mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir, serta sambutan Prof. K.H. Saifuddin Zuhri mantan Menteri Agama RI yang juga tokoh organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam pidatonya K.H. Saifuddin Zuhri, ayah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin itu menyatakan semua kita tidak terkecuali kehilangan seorang pemimpin dan sekaligus seorang guru. Saifuddin Zuhri mengajak hadirin untuk memberikan pengakuan bahwa almarhum adalah orang baik dan memohon kepada Allah agar almarhum wafat dalam keadaan husnul khatimah dan mengharap agar Pak Kasman termasuk pahlawan/rijal yang berada di sisi Allah Swt.

Jenazah tokoh Islam yang terkenal dengan sikap tegas dan pendirian yang teguh itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan. Para pelayat yang turut mengantarkan jenazah Kasman di TPU Tanah Kusir antara lain Mohammad Natsir, K.H. A.R. Fakhruddin, Mohamad Roem, K.H. Masjkur, Prof. Dr. H.M. Rasjidi, Ketua DPA K.H. Dr. Idham Chalid,  Prof. Osman Raliby, Ali Sadikin,  Jenderal Pol (Purn) Hoegeng, Dr. Anwar Harjono, H. Ghazali Ismail,  H. Djanamar Adjam, Wie Tjin Hin (H. Abdul Karim), Lukman Harun, Ir. A.M. Luthfi, Adi Sasono, dan sejumlah tokoh lainnya. Dalam suasana hening dan khidmat Ketua Dewan Pertimbangan Agung K.H. Dr. Idham Chalid menyampaikan kata akhirnya dalam upacara pemakaman jenazah almarhum Kasman Singodimedjo.

Kasman Singodimedjo adalah pengurus dan tokoh senior Muhammadiyah yang disegani. Dia adalah tokoh nasional, pejuang kemerdekaan dan pemimpin Islam yang berani serta teguh memegang prinsip. Saat dirawat di rumah sakit dalam kondisi lemah sebelum berpulang ke rahmatullah dia berpesan kepada sahabat seperjuangannya Mohammad Natsir yang menjenguknya, “Sir…..teruskan perjuangan..!”

Pengabdian Kasman sebagai tokoh pimpinan organisasi Muhammadiyah dan muballigh diungkapkan antara lain dalam kesaksian Lukman Harun pada buku 75 Tahun Kasman Singodimedjo: Hidup Itu Berjuang (Bulan Bintang, 1982)  “….. kalau diundang untuk memberi ceramah, beliau tidak pandang jauh dan dekat. Untuk mencapai suatu daerah beliau bersedia naik kendaraan apa pun. Naik mobil ya boleh, naik truk pun tidak ada halangan, naik sepeda motor bergoncengan sudah biasa, bahkan kalau perlu jalan kaki. Banyak atau sedikitnya pendengar, tingkat Ranting ataupun tingkat Nasional, beliau akan berpidato dengan nada yang sama dan tetap bersemangat. Pak Kasman pernah sakit dan dirawat di rumah sakit, maka beliau akan selalu ingat soal rapat, soal-soal Muhammadiyah, ceramah, kuliah, soal-soal politik dan lain-lain. Kalau keadaan memungkinkan Pak Kasman akan cuti sebentar dari rumah sakit untuk pergi rapat. Pak Kasman mengatakan dirinya penjaga warung Muhammadiyah. Memang beliaulah yang paling rajin datang ke kantor PP Muhammadiyah. Beliaulah yang melayani serta memberi nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk kepada para tamu mengenai berbagai hal.” tulis Lukman Harun.

Hidup Adalah Perjuangan

Kasman Singodimedjo lahir di Purworejo, Jawa Tengah 25 Februari 1904. Semasa muda remaja Kasman aktivis Jong Islamieten Bond, salah satu organisasi penopang Sumpah Pemuda 1928. Kemudian dia menjadi guru serta pengurus Muhammadiyah. Kasman banyak berkontribusi dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan. Menjelang Proklamasi 1945 Kasman ditunjuk menjadi Komandan Batalyon (Daidancho) Pembela Tanah Air (PETA) Jakarta. Dia adalah Daidancho paling senior ketika itu. Pada 18 Agustus 1945 diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang merumuskan Undang-Undang Dasar 1945.

Jenderal TNI (Purn) Dr. A. H. Nasution dalam buku 75 Tahun Kasman Singodimedjomengemukakan, “Di waktu sekitar Proklamasi adalah lazim kami di kalangan pemuda menyebut Soekarno – Hatta -Kasman, dimana Bapak Kasman Singodimedjo  dirasakan sebagai tokoh militer yang terdepan ketika itu, sebagaimana kombinasi tiga nama ini  berkali-kali  terdapat  dalam  buku TNI yang saya  tulis  di  tahun 1953.”

Dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan, Nasution menyebut,  “hanya dengan pimpinan Soekarno-Hatta-Kasman Singodimedjo rakyat dapat digerakkan secara massal, dan kegiatan tanpa disertai ketiga pemimpin ini, dewasa itu akan merupakan suatu gerakan yang hanya setengah-setengah saja,” bahwa “dewasa itu sangat diperlukan pimpinan dari yang telah memegang kepercayaan rakyat dan tentara serta telah mempunyai kedudukan berkomando, yakni Soekarno-Hatta-Kasman Singodimedjo,” dan bahwa “perwira-perwiranya (PETA) taat sepenuhnya kepada Kasman Singodimedjo dan Soekarno-Hatta, sedangkan yang muda-muda banyak yang telah menggabungkan diri dengan pemuda-pemuda revolusioner.”

Ketika ibukota RI Yogyakarta diserang dan diduduki tentara Belanda dalam Agresi Militer II 19 Desember 1948, dimana para pemimpin Republik ditawan, Kasman sebagai Juru Bicara Pemerintah Pusat berkeliling, seringkali dengan berjalan kaki, ke basis-basis Republik di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memberikan penerangan bahwa meskipun Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan para menteri ditawan oleh Belanda, roda pemerintahan Republik Indonesia masih terus berjalan. Dia mengobarkan semangat rakyat untuk terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Ketika pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) tanggal 20 Agustus 1945, Otto Iskandar Dinata ditunjuk menjadi Kepala BKR dan Kasman Singodimedjo sebagai Wakil. Oleh karena Otto Iskandardinata tidak pernah datang, diduga hilang atau gugur di daerah Tangerang, maka praktis Kasman memimpin BKR yang merupakan bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada 29 Agustus 1945, Kasman terpilih menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). KNIP adalah parlemen pertama di era kemerdekaan. Kasman memimpin KNIP sampai 15 Oktober 1945 dan kemudian menyerahkan jabatan itu kepada Sutan Sjahrir. Kasman kemudian diangkat menjadi Jaksa Agung menggantikan Jaksa Agung yang pertama Mr. Gatot, yang tinggal di Purwokerto namun belum sempat efektif menjalankan tugas karena situasi waktu itu. Sebagai Jaksa Agung dengan masa jabatan cukup singkat, Kasman mengeluarkan Maklumat Jaksa Agung No 3 tertanggal 15 Januari 1946 yang ditujukan kepada para Gubernur, Jaksa, dan Kepala Polisi. Isu maklumat tersebut mengajak para pejabat kejaksaan untuk membuktikan bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara hukum, yaitu negara yang selalu menyelenggarakan pengadilan yang cepat dan tepat.

Setelah berhenti dari jabatan Jaksa Agung, Kasman ditunjuk menjadi Kepala Urusan Kehakiman dan Mahkamah Tinggi pada Kementerian Pertahanan RI dengan pangkat Jenderal Mayor. Selanjutnya diangkat menjadi Kepala Kehakiman dan Pengadilan Militer pada Kementerian Pertahanan. Jabatan terakhirnya di pemerintahan adalah sebagai Menteri Muda Kehakiman dalam Kabinet Amir Sjarifuddin II. Pada Pemilihan Umum 1955 dia terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante dan diberi amanah menjadi Ketua Fraksi Islam yang merupakan gabungan dari anggota Partai Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Syarikat Islam Indonesia, dan Partai Islam PERTI  di Konstituante.  Kasman aktif di partai Masyumi sampai Masyumi membubarkan diri pada tahun 1960. Selama puluhan tahun Kasman aktif di dalam organisasi Muhammadiyah.

Sebagai politisi Kasman Singodimedjo tidaklah berpolitik untuk mencapai tujuan dan kepentingan pribadi, apalagi sekadar untuk memperkaya diri. Kasman berpolitik berdasarkan cita-cita dan keyakinan sebagai seorang Muslim yang mencintai tanah air. Kasman pernah mengalami ditangkap dan ditahan di masa Orde Lama dan dicekal di masa Orde Baru.

Sikap kritis Kasman di masa Orde Baru antara lain mengajukan Petisi mengenai pemilihan umum, dan Pernyataan Keprihatinan (Petisi 50) yang mengeritik dua pidato Presiden Soeharto pada awal 1980, dan yang menyebabkan hak-hak sipilnya diberangus oleh penguasa. Ketika Presiden Soeharto pada 12 Agustus 1992 menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada para mantan anggota BPUPK dan PPKI, nama Kasman Singodimedjo sengaja dilewati.

Segala risiko tidak menyebabkan Kasman surut dari garis perjuangan. “Seorang Muslim – kata beliau – harus berjuang terus karena hidup itu adalah perjuangan. Seorang Muslim harus berjuang terus, betapa pun keadaannya lebih sulit dari sebelumnya. Adanya kesulitan-kesulitan itu tidak membebaskan seorang Muslim untuk berhenti berjuang, bahkan ia harus berjuang lebih gigih daripada waktu lampau dengan strategi tertentu dan taktik yang lebih tepat dan sesuai.”

Di mata Mohammad Natsir, “Kasman Singodimedjo adalah orang yang rela berkorban dan rela menderita demi untuk kepentingan perjuangan bagi agama dan bangsa.” Sebagaimana disimpulkan oleh Lukman Hakiem dalam tulisan Menapaki Jejak Trio Ulama-Patriot Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimedjo,dan K.H. Abdul Kahar Mudzakkir (2015) bahwa Mr. Kasman Singodimedjo bagai ditakdirkan untuk selalu tampil sebagai perintis di saat-saat kritis. Kasman Singodimedjo adalah seorang nasionalis yang memperjuangkan tegaknya Islam, sekaligus pemimpin Islam yang berjuang untuk kepentingan nasional. Dia seorang politikus yang sekaligus seorang pekerja sosial. Dia seorang cendekiawan yang selalu berada di tengah-tengah rakyat. Dia seorang intelek sekaligus seorang kiai. Lebih dari itu semua, Kasman adalah seorang pejuang tanpa pamrih yang nyaris dilupakan oleh bangsanya

Mengutip Jenderal A.H. Nasution, keterampilan ikut memimpin negara dan tentara pada saat-saat yang amat kritik  itu, tidak akan datang dari “pemimpin-pemimpin rutin.” Tugas memimpin di masa-masa kritik pasti jauh lebih berbahaya dan lebih menentukan bagi nasib bangsa, dibanding dengan di masa negara dan tentara telah tegak terkonsolidasi.

Peran Kasman dalam Perumusan Dasar Negara

Sore hari 17 Agustus 1945 Bung Hatta menerima tamu seorang opsir Kaigun(Angkatan Laut Jepang). Opsir itu yang Bung Hatta lupa namanya, datang sebagai utusan Kaigun yang memberitahukan bahwa wakil-wakil Protestan dan Katolik di daerah yang dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang di wilayah Timur merasa keberatan dengan kalimat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar, yaitu “Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Jika kalimat tersebut ditetapkan, mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia. Demikian ultimatum tanpa perlu dialog dan musyawarah.

Bung Hatta tidak menerima begitu saja keberatan demikian, “Saya katakan bahwa itu bukan suatu diskriminasi, sebab penetapan itu hanya mengenai rakyat yang beragama Islam. Waktu merumuskan Pembukaan Undang-Undang Dasar itu, Mr. Maramis yang ikut serta dalam Panitia Sembilan, tidak mempunyai keberatan apa-apa dan pada tanggal 22 Juni ia ikut menanda-tanganinya.”  tulis Bung Hatta dalam buku Sekitar Proklamasi.

Ketika itu Bung Hatta menjanjikan akan menyampaikan kepada sidang PPKI esok harinya. Pada 18 Agustus 1945 menjelang dimulainya sidang PPKI yang mengagendakan pengesahan Undang-Undang Dasar, Bung Hatta membicarakan soal tersebut dengan tiga orang anggota PPKI yang dianggap “mewakili golongan Islam”, yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Teuku M. Hasan. Pada sebagian literatur menyebut K.H.A. Wahid Hasjim juga hadir. Menurut Prawoto Mangkusasmito dan diperkuat oleh keterangan Ibu Solichah A.Wahid Hasjim tahun 1984, K.H.A. Wahid Hasjim tidak hadir dalam sidang PPKI di Jakarta tanggal 18 Agustus 1945 itu.

Bung Hatta meminta para tokoh Islam ketika itu agar menyetujui untuk menghapus tujuh kata dalam rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar dan menggantinya dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ki Bagus Hadikusumo, pucuk pimpinan Muhammadiyah, satu-satunya eksponen perjuangan Islam yang paling senior ketika itu pada mulanya berkeberatan. Kasman Singodimedjo dan Teuku M. Hasan membujuk Ki Bagus agar menerima saran Bung Hatta karena keputusan terakhir ada pada Ki Bagus Hadikusumo. Segala tekanan psikologis bertumpu pada Ki Bagus. Kasman menggambarkan betapa marah Ki Bagus atas usulan Bung Hatta yang tiba-tiba mementahkan kompromi yang telah dicapai dengan susah payah dalam sidang BPUPKI. Bujukan Kasman Singodimedjo dengan menggunakan bahasa Jawa halus dapat meluluhkan hati Ki Bagus.

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah warisan para pejuang yang tidak boleh disia-siakan oleh generasi penerus. Dalam hubungan ini, Letnan Jenderal TNI (Purn) Alamsjah Ratu Perwiranegara selaku Menteri Agama tahun 1978 ketika berpidato di suatu acara di Jakarta menegaskan, “Pancasila merupakan hadiah terbesar umat Islam bagi kemerdekaan dan persatuan Indonesia.” Alamsjah Ratu Perwiranegara mengucapkan kalimat itu sambil mengarahkan telunjuknya kepada Mr. Kasman Singodimedjo yang hadir di acara tersebut.

Dalam buku Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo mengemukakan pendapatnya, “Perubahan tujuh kata rumus “Ke-Tuhanan” itu amat penting, karena “Yang Maha Esa” menentukan arti dari Ketuhanan. Pancasila yang kini secara geruisloos menjadi filsafat negara kita itu, tidak mengenal Ke-Tuhanan sembarang ketuhanan. Sekali lagi bukan ketuhanan sembarang ketuhanan, tetapi yang dikenal oleh Pancasila ialah Ke-Tuhanan Yang Maha Esa. Bung Hatta sendiri pada bulan Juni dan Agustus 1945 menjelaskan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ialah Allah, tidak lain kecuali Allah.”

Kasman Singodimedjo sangat layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas darma baktinya kepada negara dan bangsa. Mengutip pernyataan Bung Hatta dalam buku Hidup Itu Berjuang“Sdr. Mr. Kasman Singodimedjo tidak sedikit jasanya untuk kepentingan Negara dan Bangsa.”

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.