Rabu, 8 April 20

Mengenang Agus Edi Santoso

Mengenang Agus Edi Santoso
* Agus Edi Santoso. (Foto: istimewa)

Oleh: Hendrajit, Alumni ISAFIS, Aktivis, dan Mahasiswa 1980-an

Agus Edi Santoso berpulang. Begitu berita saya terima tadi malam. Saya kenal Agus sejak 1986, kali pertama berkiprah di dunia aktivis pergerakan mahasiswa dekade 1980an. Di era ketika mendiknas Daud Yusuf menerapkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus. Yang mana beda dengan era para senior 1974 seperti Bang Hariman Siregar, atau 1978 seperti bang Rizal Ramli, angkatan kami 1980an dilarang keras berpolitik di kampus.

Namun kebijakan NKK Pak Daud, justru menimbulkan dialektika, sebagai respons terhadap larangan berpolitik di kampus. Para mahasiswa angkatan 1980an yang punya kesadaran politik dan kepeduliaan sosial, justru tertantang untuk membentuk modus baru dalam berpolitik.

Bahkan bukan itu aja. Di kalangan para mahasiswa aktivis pergerakan 1980an, termasuk saya, mulai mengajukan pertanyaan lebih strategis. Apakah berpolitik di kampus berarti hanya demonstrasi turun ke jalan?

Tanpa kami sadari, jawabannya muncul dengan sendirinya melalui proses. kami terinspirasi oleh perjuangan para founding fathers ketika membentuk kelompok-kelompok studi di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Maka lahirlah para pemimpin bangsa melalui study club ini seperti Sukarno, Hatta, Cipto Mangunkusumo, Ali Sastroamijoyo, dan lain-lain.

Entah bagaimana ceritanya, klub studi dan pers kampus menjadi modus sekaligus lokus pergerakan mahasiswa di luar kampus, seraya merajut jaringan para aktivis lintas kampus baik antar kampus di Jakarta, maupun antara Jakarta dan luar Jakarta.

Maka sejak 1985-1986 berbagai kelompok studi mulai marak. Kelompok Studi Proklamasi dimotori dua anak muda UI, Denny JA dan Elza Peldi Taher. Lingkaran Studi Indonesia, dimotori beberapa mahasiswa UIN Jakarta (dulu masih IAIN) antara lain Ismet Hasan Putro. Di Yogya Taufik Rahzen bikin klub studi Teosofi. Di Bandung Hari Wibowo Cd bikin Free School. Para mahasiswa Univ Jayabaya yang lagi suntuk dengan stagnasi kampusnya, membentuk Kelompok Studi Pena yang dimotori Geiz Khalifah, Abdul Hamid dan Ahmad Fadila.

Seturut dengan fenomena itu, ada beberapa senior mahasiswa yang mana kelak saya bergabung di dalamnya, membentuk Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS) pada 1984 yang dimotori antara lain Faisal Motik, Adnan Pandu Praja, Imam Prasojo, Irma Hutabarat dan Suryani Sidik Motik. Geiz Khalifah, bergabung setahun kemudian. Saya sendiri bergabung dua tahun setelah berdiri, pada 1986.

Saat yang sama, muncul sosok anomali dalam pergerakan mahasiswa 1980an, alm Amir Daulay. Yang kelak memberi warna baru dalam format pergerakan mahasiswa 1980an di luar kampus. Yaitu lewat Pers Mahasiswa.

Begitulah. Gegara NKK nya Daud Yusuf, muncullah the unintended qonsequencies. Munculnya pergerakan mahasiswa di luar lampus berbasis kelompok studi dan pers mahasiswa.

Dalam setting pergerakan dan dinamika kemahasiswaan 1980an inilah, muncullah berbagai sosok dengan kepribadiannya yang unik. Salah satunya adalah, Agus Edi Santoso.

Saya sendiri tidak ingat persis bagaimana bisa kenal dan akrab dengan Agus. Rasanya sih ngalir gitu saja. Orang bilang kemistrinya sama. Seperti menemukan orang yang gelombangnya sama.

Padahal Agus ini, termasuk yang sinis pada awalnya terhadap keberadaan ISAFIS, yang menurut pandangannya terlalu ekslusif dan elitis. Apalagi poskonya di jalan Banyumas Menteng yang termasuk kawasan elit Jakarta. Tambahan lagi, bang Ical Motik waktu itu adik ipar mentri pula.

Bergabungnya Geiz dan saya di ISAFIS, yang merasa kemistri baik dengan eksponen kelompok studi maupun pers mahasiswa, pandangan sinis Agus maupun Amir Daulay yang lebih lekat dengan pergerakan pers mahasiswa, mulai berkurang. Bahkan perkawanan kami makin akrab satu sama lain.

Berbeda metode pergerakan, namun satu visi. Bicara soal satu visi inilah, selera Agus pada buku-buku kiri yang seram seram, justru yang menjembatani kedekatan kami berdua. Buku buku Tan Malala sampai Ali Shariati jadi bahan obrolan, malah kadang perdebatan yang cukup sengit, di antara kami berdua.

Saya ingat satu ketika Agus kami undang di diskusi intern ISAFIS yang kebetulan saya yang mengorganisir bertahun-tahun, membahas tentang Islam dan Pergerakan Internasional. Ketika sampai pada bahasan tentang Sarikat Islam, Agus yang pernah gabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) namun bersimpati pada gerakan kiri di dalam tubuh Sarikat Islam, dengan sengit menyerang kiprah HOS Cokroaminoto dan Agus Salim.

Saya, seperti halnya Agus, yang sama sama pengagum Tan Malaka, merupakan satu satunya yang membela posisi Agus dalam perdebatan dengan para eksponen ISAFIS lainnya yang notabene sebagian besar HMI. Meski saya pribadi mengagumi Hos Cokro dan Agus Salim.

Namun begitulah romantika, dialektika dan dinamika para aktivis mahasiswa 1980an kala itu. Perbenturan pemikiran intelektual atau bahkan ideologi, berbanding lurus dengan kehangatan persahabatan pribadi antar para eksponen.

Bagi Agus yang persahabatan dan jalinan kontaknya cukup luas dengan para aktivis baik sayap kanan maupun kiri, agaknya buat putra asli Madura ini, orang berkarakter lebih penting daripada ideologi yang dianutnya. Berkarakter dan berprinsip. Tidak abu-abu. Agaknya itulah tolokukur Agus untuk berteman dengan siapapun. Yang tidak dalam kategori itu, sepertinya sulit berteman dengan Agus.

Apa yang ada dalam benak Agus tentang diri saya, hanya Agus yang tahu. Nyatanya, meski tidak terlalu intens dan dekat pertemuan kami berdua, namun saya rasakan 35 tahun persahabatan kami tetap hangat.

Saya senang termasuk salah satu dari teman Agus. Dan merasakan kehangatan persahabatan sejati, dan tanpa pretensi dan tanpa pamrih. Selamat jalan bung Agus. Sampai bertemu kembali entah kapan.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.