Kamis, 24 Oktober 19

Mengenal Sosok Keji ‘Jack The Ripper’

Mengenal Sosok Keji ‘Jack The Ripper’
* Gao Chengyong (54), pembunuh berantai yang dijuluki 'Jack the Ripper' China dieksekusi mati pada Kamis (3/1/2019) pagi. (Foto: REUTERS)

Beijing, Obsessionnews.com – Otoritas China mengeksekusi mati seorang pembunuh berantai Tiongkok bernama Gao Chengyong (54). Gao Chengyong yang oleh media Tiongkok dijuluki “Jack the Ripper” itu dihukum karena terlibat kasus perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan belasan gadis perempuan antara tahun 1988 dan 2002 di wilayah Gansu dan Inner Mongolia. 

Seperti dilansir AFP, Kamis (3/1/2019), pengadilan di kota Baiyin, Provinsi Gansu, mengumumkan via Weibo bahwa Gao Chengyong telah dieksekusi mati pada Kamis (3/1/2019) pagi waktu setempat. Disebutkan pengadilan kota Baiyin bahwa Mahkamah Agung China telah memberikan persetujuan untuk eksekusi mati terhadap Gao tersebut.

Gao ditahan oleh pihak berwenang pada Agustus 2016 di toko sembako miliknya. Keberadaannya terendus menyusul hasil sebuah tes DNA dari kejahatan yang telah dilakukan oleh salah satu saudaranya. Penangkapannya mengakhiri pencarian Gao selama 28 tahun.

Pada bulan Maret 2018 dia dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Rakyat Menengah Kota Baiyin dan menjatuhkan hukuman mati atas tuduhan perampokan dan pembunuhan yang disengaja. Sedangkan hukuman lebih ringan dijatuhkan atas tindakannya memerkosa jasad para korban.

Gao menargetkan wanita muda yang mengenakan pakaian merah. Dia mengikuti para korbannya ketika dalam perjalanan pulang. Menurut laporan media pemerintah, seperti dikutip AFP, Gao sering memotong leher para korbannya dan memutilasi tubuh mereka. Korban termuda berusia delapan tahun.

Menurut laporan Beijing Youth Daily, organ reproduksi beberapa korban dikeluarkan. Laporan itu mengutip pengakuan Gao ketika dia ditangkap pada 2016. “Untuk memuaskan keinginan mesumnya guna merendahkan dan menista jasad, banyak jasad korban rusak dan dilanggar,” kata pihak pengadilan dalam pengumumannya di Weibo ketika dia dinyatakan bersalah.

“Motif kejahatan terdakwa tercela, metodenya sangat kejam, sifat tindakannya keji dan rincian kejahatannya serius,” lanjut pengadilan.

Jack the Ripper adalah julukan paling terkenal atas kejadian pembunuhan berantai di kawasan kumuh di Whitechapel, London pada 1888. Julukan ini muncul dari surat yang dibuat oleh orang yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan. Surat tersebut secara luas diyakini adalah tipuan, dan kemungkinan ditulis oleh seorang jurnalis yang berupaya untuk meningkatkan minat publik terhadap misteri tersebut.

Pembunuhan yang dilakukan Ripper umumnya melibatkan wanita tunasusila yang berasal dari daerah kumuh dengan cara memotong tenggorokan kemudian memutilasi perut mereka. Hilangnya organ-organ dalam dari tiga korban Ripper memunculkan dugaan bahwa pelaku memiliki pengetahuan anatomi atau bedah. 

Desas-desus yang menyatakan bahwa pembunuhan ini saling berhubungan merebak pada bulan September dan Oktober 1888, dan beberapa surat yang dikirimkan oleh seseorang yang mengaku sebagai pembunuh diterima oleh media dan Scotland Yard. 

Surat ‘From Hell’ yang diterima oleh George Lusk dari Whitechapel Virgilance Committee (Komite Kewaspadaan Whitechapel), juga berisikan separo ginjal manusia yang diawetkan, diduga ginjal tersebut merupakan milik salah seorang korban. Karena teknik pembunuhan yang luar biasa brutal, dan karena tingginya penafsiran media terhadap misteri ini, masyarakat semakin percaya bahwa pembunuhan ini merupakan pembunuhan berantai tunggal yang dilakukan oleh ‘Jack the Ripper’.

Luasnya liputan surat kabar terhadap misteri ini menyebabkan Ripper meraih ketenaran internasional. Serangkaian penyelidikan mengenai pembunuhan lainnya yang dikenal sebagai Pembunuhan Whitechapel hingga tahun 1891 tidak mampu menghubungkan peristiwa pembunuhan ini dengan pembunuhan pada tahun 1888, namun legenda Jack the Ripper tetap dipercayai. 

Karena misteri pembunuhan ini tidak pernah terungkap, legenda tersebut semakin kuat, yang turut diiringi dengan penelitian sejarah asli, desas-desus, cerita rakyat, dan sejarah semu. Istilah ‘ripperologi’ diciptakan untuk menggambarkan kajian dan analisis mengenai kasus Ripper. Hingga saat ini, terdapat lebih dari seratus teori mengenai identitas Ripper, dan misteri pembunuhan ini juga telah mengilhami lahirnya berbagai karya fiksi. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.