Senin, 17 Januari 22

Mengapa Vagina Berdarah Saat Berhubungan Seksual?

Mengapa Vagina Berdarah Saat Berhubungan Seksual?
* ilustrasi penampang vagina. (ist)

Ketika mengalami vagina berdarah saat berhubungan seksual di luar masa menstruasi, maka tidak perlu panik atau takut. Menurut dokter, vagina berdarah saat berhubungan seksual adalah hal yang sering terjadi. Penyebabnya memang beragam tapi kebanyakan tidak berbahaya.

Meski begitu, kalau pendarahan berlanjut, Dr. Jennifer Shu, seorang ahli kesehatan di CNN Health Living Well, menyarankan sebaiknya periksakan kondisimu ke dokter. Berikut adalah penjelasan mengapa vagina bisa berdarah saat berhubungan seksual.

Penyebab Vagina Berdarah
Dr. Gary Glasser, seorang ahli kandungan dan kebidanan dari Atlanta, mengatakan bahwa vagina berdarah setelah berhubungan seksual, atau yang disebut post-coital bleeding tidak jarang terjadi.

Sekitar 10 persen dari wanita pernah mengalaminya. Berita baiknya, kemungkinan munculnya kanker sebagai penyebab terjadinya pendarahan ini sangatlah kecil. Hanya satu diantara 1000 wanita yang mengalami pendarahan vagina ini yang ditemukan mengidap kanker.

Sumber darah tersebut mungkin datang dari vagina. Robekan kecil yang diakibatkan hubungan seksual bisa terjadi di umur berapa pun. Namun, robekan ini lebih sering terjadi pada wanita yang sudah mengalami menopause. Keringnya vagina atau berkurangnya elastisitas vagina menyebabkan vagina robek saat berhubungan seksual.

Selain itu vagina berdarah saat berhubungan seks juga dikarenakan beberapa kondisi berikut:

1. Gejala Radang Serviks
Hal lain yang mungkin menyebabkan vagina berdarah saat berhubungan seksual adalah radang serviks atau leher rahim. Kondisi ini disebut juga sebagai erosi serviks dan umumnya terjadi pada wanita hamil, wanita muda dan mereka yang menggunakan alat kontrasepsi pil. Pendarahan ini bisa juga diakibatkan oleh polip serviks jinak. Polip serviks yang jinak dapat dengan mudah diangkat oleh dokter tanpa perlu operasi khusus.

2. Infeksi Menular Seks
Infeksi menular seksual (IMS), seperti klamidia dan gonore dapat menyebabkan pendarahan saat berhubungan seks. Selain pendarahan, gejala lain yang mengiringinya adalah nyeri panggul, gatal, sensasi terbakar, keputihan, dan frekuensi buang air kecil yang sering dan menyakitkan.

Setiap jenis infeksi memiliki gejala khasnya sendiri, dan peradangan yang disebabkan oleh salah satu dari IMS ini dapat menyebabkan perdarahan. Trikomoniasis adalah jenis IMS yang disebabkan oleh parasit bersel tunggal. Cairan serviks dan perdarahan serviks adalah dua karakteristik paling umum dari penyakit tersebut.

Sifilis dan herpes genital juga dapat menyebabkan lesi terbuka dan ulseratif yang mudah berdarah jika teriritasi. Luka sering muncul secara eksternal, kadang-kadang dapat berkembang di dalam vagina dan tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak diketahui sampai akhirnya menimbulkan pendarahan.

3. Vaginitis Atrofi
Wanita pascamenopause akan sering mengalami pendarahan selama atau setelah berhubungan seks. Ini dikarenakan berkurangnya kadar estrogen menyebabkan dinding vagina menipis dan menghasilkan lebih sedikit lendir yang melumasi.

Kondisi ini disebut sebagai vaginitis atrofi, suatu kondisi yang juga dikaitkan dengan gatal dan rasa terbakar pada vagina. Vaginitis atrofi jdapat diobati dengan terapi estrogen, baik diminum dalam bentuk pil, sebagai tambalan kulit atau krim, atau dimasukkan secara intra-vagina dengan supositoria.

Terapi penggantian estrogen oral membawa beberapa risiko. Pil estrogen dapat meningkatkan risiko kanker endometrium bagi wanita yang masih memiliki rahim, oleh karena itu, harus digunakan untuk pengobatan jangka pendek atau dikombinasikan dengan progestin untuk melindungi lapisan rahim.

Tanda Masih Perawan
Banyak mitos yang beradar di masyakarat, jika organ intim perempuan berdarah saat bercinta itu tandanya masih perawan. Bagaimana jika perempuan sudah berulang kali bercinta, dan organ intimnya mengeluarkan darah? Apakah masih perawan?

Mengenai hal ini, satu hal yang harus kita ketahui berdarah atau tidaknya perempuan saat berhubungan intim, bukan tanda perawatn atau tidak perawan. Justru jika perempuan saat bercinta vaginanya berdarah, sedikit atau banyak, itu pertdan berikut ini;

1. Mengidap IMS yang tidak terdiagnosis

Pendarahan setelah hubungan seksual adalah contoh utama gejala Infeksi Menular Seksual (IMS) pada wanita.

2. Polip pada leher rahim

Meskipun memiliki kebiasaan pendarahan yang mengganggu, ini biasanya tidak bersifat kanker dan dapat dengan mudah diatasi oleh dokter. “Polip dapat dirawat pada pasien rawat jalan dengan operasi kecil,” kata Dr. Henderson.

3. Vagina kurang pelumas

Kekeringan ditambah gesekan berlebihan bisa menyebabkan pendarahan. Kekeringan vagina pun bisa terjadi karena sejumlah alasan, salah satunya menopause. Atau bisa jadi kamu tidak terangsang dengan baik.

“Jika seks terasa tidak nyaman, pelumas tambahan sangat membantu,” kata Dr Ian Currie, konsultan ginekolog di BMI The Chiltern Hospital.

4. Perdarahan ektropion

Ini mungkin terdengar menakutkan, tetapi perdarahan ektropion juga dikenal sebagai erosi serviks. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita muda. Karena area pembuluh darah halus di pintu masuk serviks lebih sensitif.

Seiring bertambahnya usia, area sel ini bergerak ke dalam serviks. Tidak perlu khawatir jika ini hanya terjadi sekali. Tetapi jika muncul secara teratur, jangan diabaikan.

5. Menderita endometriosis

Endometriosis adalah tempat sel-sel, seperti yang ada di lapisan rahim. Ini ditemukan di tempat lain pada tubuh dan jika sel-sel ini mengendap di leher rahim atau di dalam vagina, bisa memicu pendarahan setelah berhubungan seks. Namun, ini jarang terjadi.

6. Pendarahan terobosan

“Beberapa wanita mengalami pendarahan hebat saat mereka menggunakan pil dan secara kebetulan ini bisa terjadi saat mereka berhubungan seks,” kata Currie.

Bercinta itu sendiri tidak menyebabkan perdarahan, tetapi gerakan itu mungkin mendorongnya untuk terjadi.

7. Baru melahirkan

Dengan semua robekan yang terjadi saat melahirkan, tidak heran jika pendarahan saat berhubungan seks mungkin muncul setelahnya. Namun, bisa juga disebabkan perubahan hormonal.

“Perubahan hormonal selama kehamilan menyebabkan lapisan saluran serviks menonjol ke bagian utama serviks,” kata Dr. Henderson.

8. Mengalami kanker serviks

Ini bukan alasan umum, tetapi penting untuk selalu waspada terhadap gejala kanker vagina, rahim, dan serviks. “Pendarahan yang terus-menerus atau lebih berat dapat mengindikasikan perubahan pra-kanker atau kanker,” kata Dr. Henderson.”

Jadi jika mengalami hal ini, baiknya segera konsultasikan ke doter. (Halodoc/Grid/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.