Jumat, 7 Agustus 20

Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru? (Jawaban Edisi Pertama)

Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru? (Jawaban Edisi Pertama)

Oleh: Muchtar Effendi Harahap, Peneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS), dan alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986

 

Mengapa rakyat Jakarta butuh Gubernur baru? Jawaban inti adalah karena Gubernur lama (Ahok) tak mampu dan gagal melaksanakan urusan pemerintahan.

Pertanyaan berikutnya, urusan pemerintahan apa saja Ahok  tidak mampu dan gagal?  Inilah jawaban edisi pertama:

  1. Pendapatan daerah: Tak pernah berhasil meraih target capaian alias gagal melulu. Hanya mampu realisasi rencana pendapatan daerah sekitar 70%, tergolong kinerja lebih buruk.
  2. Belanja daerah: Juga tak mampu meraih target capaian. Hanya mampu meraih sekitar 65%, kinerja sangat buruk.
  3. Pendidikan: Tahun 2016, proyek rehabilitasi 45 sekolah mangkrak. Lebih 40% rakyat Jakarta Utara usia sekolah tidak menikmati pendidikan   di SLTA .
  4. Kesehatan: Gagal berat meraih target capaian penyerapan anggaran. Hanya 47% tercapai. Belum optimal sistem pelayanan kesehatan; masih terbatas jumlah dan kualitas pelayanan RS dan Puskesmas. Dapatkan Angka Harapan Hidup (AHH) hanya sekitar 70 tahun, masih kurang 5 tahun. Kinerja sangat.. sangat buruk.
  5. Pekerjaan umum: Gagal berat meraih target capaian penyerapan anggaran. Hanya 47% tercapai. Kinerja sangat.. sangat buruk. Ada 44 proyek konstruksi   mangkrak.
  6. Perumahan rakyat: Tak sama sekali menyediakan perumahan hak milik kepada rakyat DKI, kecuali Rusunawa. Itupun gagal. Target rencana 45.000 unit Rusunawa, hanya tercapai sekitar 1.500 unit. Gagal total.
  7. Perhubungan: Rencana pembangunan 3 koridor busway belum terealisir.  Penyediaan armada busway target jauh tercapai, bahkan 180 unit dimusnahkan. Proyek  Light  Rail Transit  (LRT) mangkrak, diambil alih oleh pemerintah pusat. Luas jalan terbangun, masih sangat minim jauh  di bawah target. Jumlah jembatan terbangun juga masih jauh di bawah target. Target tercapai 1.000 armada angkutan umum diremajakan, gagal total. 4 tahun ini hanya tercapai kurang 400 unit diremajakan. Sangat…sangat buruk.
  8. Lingkungan hidup: Penyerapan anggaran hanya 46%, sangat buruk. Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) gagal total, realisasi pembelian lahan nol. Tidak pernah dapat Penghargaan Adipura, kecuali satu kota, yakni Jakarta Pusat. Padahal era Fauzi Bowo semua kota dapat Adipura.
  9. Kemacetan: isu strategis tahunan kemacetan tak mampu terpecahkan, bahkan meningkat. Jakarta kota termacet sedunia.
  10. Banjir: Isu strategis banjir terus terjadi. Bahkan, cukup merata di sejumlah Ibukota. Tahun 2016 terjadi banjir terbesar sejak 2007. Banjir jalan terus dan belum berkurang signifikan.
  11. Perumahan Kumuh: Untuk memecahkan isu strategis kawasan dan perumahan kumuh,  dibuat program penataan ulang, bukan penggusuran paksa. Fakta: pilihan Ahok adalah  penggusuran paksa. Lembaga Bantuan Hukum (LBH))  dan Komnas HAM menilai telah melanggar HAM. Gagal urus penataan ulang perumahan kumuh. (Bersambung)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.