Senin, 25 Mei 20

Mengapa Peralatan Medis Covid-19 Buatan China Ditolak?

Mengapa Peralatan Medis Covid-19 Buatan China Ditolak?

Mengapa sejumlah negara menolak peralatan medis buatan China untuk penanganan virus Corona (Covid-19) ?

Ribuan alat uji dan masker medis buatan China memiliki kualitas di bawah standar, menurut pemerintah Spanyol, Turki dan Belanda.

Ratusan ribu kasus virus corona dilaporkan terjadi Eropa. Lebih dari 10.000 orang meninggal dunia di Italia sejak wabah terjadi.

Virus Covid-19 ini pertama kali dideteksi di China pada akhir tahun 2019. Pemerintah menerapkan langkah ‘lockdown’ atau karantina wilayah ketat untuk mengontrolnya.

Ada apa dengan peralatan medis buatan China? Pada hari Sabtu (28/3), kementerian kesehatan Belanda mengumumkan penarikan 600 ribu masker wajah. Peralatan buatan China tersebut tiba pada tanggal 21 Maret lalu dan telah dibagikan ke tim medis garda terdepan.

Para pejabat Belanda mengatakan masker-masker tersebut tidak pas dan penyaringnya tidak bekerja dengan baik, meskipun telah memiliki sertifikasi kualitas.

Dokter di Spanyol mengatakan khawatir dan kelelahan dalam menghadapi epidemi virus corona. “Sisa pengiriman barang segera dihentikan sementara dan tidak didistribusikan,” demikian dinyatakan pemerintah Belanda.

“Sekarang telah diputuskan untuk tidak memakainya sama sekali,” tegasnya seperti dilansir BBC News, Selasa (31/3).

Pemerintah Spanyol menghadapi sejumlah masalah yang sama terkait dengan perangkat pengujian yang dipesan dari sebuah perusahaan China.

Spanyol menyatakan telah membeli ratusan ribu perangkat untuk mengatasi virus, tetapi mengungkapkan beberapa hari kemudian bahwa hampir 60.000 buah tidak bisa dipakai dalam memastikan apakah seseorang terkena Covid 19.

Kedutaan besar China di Spanyol lewat cuitannya menyatakan perusahaan di balik alat uji ini, Shenzhen Bioeasy Biotechnology, tidak memiliki izin resmi dari pihak kesehatan China untuk menjual produknya.

Sejumlah negara Eropa menolak peralatan buatan China yang dirancang untuk mengatasi wabah virus corona. (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.