Senin, 27 September 21

Mengapa Paslon Anies-Sandi Menang?

Mengapa Paslon Anies-Sandi Menang?

Oleh: Muchtar Effendi Harahap, Peneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS), dan alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986

 

Pertanyaan mengapa pasangan calon (paslon) Anies-Sandi menang di Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua,  dapat dijawab secara hipotetis sebagai berikut:

Pertama, dukungan kelompok Islam politik sekitar 40%. Seperti prilaku pemilih di Indonesia, di Jakarta kita mengenal politik aliran. Umat Islam politik memberi suara baik untuk tokoh mapun parpol dalam pemilihan sejak Pemilu 1955, dipengaruhi kesamaan agama dalam hal ini Islam. Pada Pemilu 1955, mereka memilih Partai Masyumi, sekitar 3 %. Pada Pemilu di era Orde Baru, awalnya juga 33% memilih parpol-parpol Islam.

Era reformasi fakta prilaku pemilih ini tidak berubah, kelompok Islam politik tetap memberikan suara kepada parpol Islam. Belakangan, terutama sejak gerakan bela Islam yang memprotes prilaku Ahok menista Islam, hasil survei menunjukkan suara meningkat sekitar 40% pilih gubernur Muslim. Mereka takkan pilih Ahok yang non Muslim. Primordial agama mempengaruhi mereka memilih paslon Anies-Sandi yang dinilai sebagai tokoh Islam. Sementara paslon Ahok-Djarot dinilai bukan tokoh Islam.

Tambahan suara kelompok Islam politik terhadap Anies-Sandi pada putaran kedua datang dari pemilih  Agus-Selvi di putaran pertama. Sebagian besar pemilih Agus-Selvi  ini adalah pemilih/konstituen parpol Islam seperti PPP, PKB dan PAN sebagai parpol pendukung.

Kedua, dukungan kelas menengah atas, termasuk mantan perwira militer yang anti amandemen UUD 1945 , dan anti dominasi Cina di bidang ekonomi. Kelompok ini sejak awal tahun 2015 mengkritik dan menolak Ahok sebagai Gubernur DKI. Salah satu alasannya karena Ahok lebih mengutamakan kepentingan pengembang Cina. Terdapat penilaian pembangunan pulau palsu/reklamasi untuk kepentingan pengembang Cina dan memasukkan rakyat negara Cina ke DKI lewat perumahan yang dibangun di pulau-pulau palsu itu.

Dilandasi semangat dan pola pikir pembelaan terhadap negara bangsa, kelompok ini menentang Gubernur Ahok, dan mendukung paslon apa saja asal bukan Ahok karena Cina, yang dikenal dengan sebutan ASBAK (Asal Bukan Ahok). Mereka percaya, keberadaan Ahok dalam politik pemerintahan bagian cinanisasi Indonesia.

Tatkala putaran kedua, kelompok ini bersatu memilih  Anies-Sandi. Pada umumnya kelompok ini telah muncul sebelum resmi  Anies-Sandi sebagai peserta Pilkada.

Ketiga, dukungan ormas dan parpol . Beragam ormas mendeklarasikan diri mendukung Anies-Sandi baik langsung menggunakan nama resmi ormas tersebut, maupun menggunakan nama baru. Ormas ini beragam, ada yang berdasarkan Islam, Pancasila, profesi, dan juga keberpihakan pada pribumi. Ormas-ormas ini merupakan kelompok aksi di tengah-tengah rakyat pemilih, mempromosikan dan mengampanyekan Anies-Sandi. Dalam beberapa kasus,  mereka menyebut diri sebagai relawan.

Di samping itu, parpol-parpol pendukung tentu membantu kemenangan Anies-Sandi, tetapi relatif kurang signifikan terhadap  jumlah perolehan  pemilih.

Keempat, program prioritas yang ditawarkan dalam kampanye. Prilaku pemilih juga ditentukan faktor janji atau program prioritas yang ditawarkan paslon dalam kampanye. Pemilih seperti ini sangat minor, paling sekitar 15%. Anies-Sandi lebih unggul menawarkan program prioritas. Hal ini diakui oleh berbagai media massa melalui hasil jajak pendapat segera setelah berlangsung publikasi debat paslon via TV.

Saya mengakui Anies-Sandi sebagai penantang lebih bagus ketimbang Ahok-Djarot yang selama berkuasa di Pemprov DKI tak mampu menunjukkan  prestasi urusan penerintahan berdasarkan perencanaan pembangunan yang tertuang di dalam  Perda No.2 tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta 2013-2017. Faktanya, Ahok-Djarot gagal melaksanakan program-program pembangunan. Sebagian besar rakyat DKI paham itu.

Kelima, citra Ahok-Djarot didukung rezim berkuasa dan melakukan kecurangan, antara lain pemberian sembako dan politik uang. Rakyat di luar pemerintahan, terutama kelas menengah DKI, menolak sikap pemerintah memihak ini, sehingga bersimpati pada paslon bukan Ahok-Djarot. Bagi mereka, keberpihakan pemerintah dan pembiaran kecurangan adalah mencederai demokrasi, memperburuk kualitas Pilkada, dan bahkan menciptakan prilaku politik amoral. Harus dilawan. Caranya, berpartisipasi dukung Anies-Sandi.

Keenam, bagi mereka yang percaya, pasti menjadikan Tuhan sebagai faktor penentu kemenangan Anies-Sandi. Hal ini mengingat kemampuan politik dan ekonomi pendukung Ahok-Djarot yang digunakan untuk kecurangan seperti pemberian sembako, politik uang, kekerasan psikologis dan administratif terhadap Anies-Sandi dan juga keberpihakan rezim terhadap Ahok-Djarot. Semua kemampuan politik ekonomi pendukung Ahok-Djarot ini menjadi “nol” karena intervensi pihak “tak terhingga” (Tuhan). Yang terakhir ini hanya bagi mereka berpikir metafisis (meta sains), bukan ilmu pengetahuan (sains). (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.