Sabtu, 23 Februari 19

Mengapa Ada Orang Sholat Tapi Suka Berbohong?

Mengapa Ada Orang Sholat Tapi Suka Berbohong?
* Ilustrasi ibadah sholat. (Foto Istimewa)

Oleh: Dr. Iswandi SyahputraDosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta

 

Ini pertanyaan saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Alam berfikir saya saat itu masih belum bisa menerima ada orang sholat tapi suka berbohong. Mengapa ini bisa terjadi?

Perjalanan religiusitas kemudian membawa saya pada seorang ahli spiritual. Dari beliaulah saya menemukan jawaban yang sejak lama saya pendam. Penjelasannya tentang sholat sangat logis, tapi hati-hati karena berbahaya pada bagian akhir.

Sholat, seperti artefak kebudayaan, merupakan sebuah perjalanan spiritual seseorang. Jika ada orang yang mengerjakan sholat tapi masih berbuat maksiat, itu menunjukkan perjalanan spiritualitasnya baru sampai pada level aqimussholah, dirikanlah sholat. Belum sampai pada level inna sholata tanha ‘anil fasyaki wal munkar, sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.

Kita boleh berbeda pemahaman dan penafsiran, tapi saya meyakini kebenaran penjelasan guru spiritual saya untuk menjawab  mengapa ada orang sholat tapi suka berbohong?

Jadi, terkait sholat dan orangnya itu ada levelnya. Setiap level akan berbeda, tapi secara eskalatif menuju ke arah ma’rifatullah, level tertinggi sebagai bentuk manunggaling kawula Gusti.

Level Pertama, orang yang tidak/belum mengerjakan sholat. Ini yang paling rendah tapi jangan dihina sebab mereka hanya butuh hidayah untuk mengerjakan atau menjadikan sholat sebagai tiang agama.

Level Kedua, orang yang sholat hanya sekedar mengerjakan sholat. Mereka sholat tapi juga berbuat maksiat, mengerjakan sholat tapi suka menipu dan berbohong pada rakyat. Kelompok orang yang sholat seperti ini masuk dalam golongan mendirikan Sholat.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku” (QS. Al Baqoroh : 43)

Dan bisa juga orang pada level ini mendirikan sholat untuk pamer atau riya di hadapan manusia:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisa : 142)

Orang pada level ini dapat masuk pada kelompok orang yang sholat tapi merugi:

فَوَيْلُ لّلْمُصَلّيْن . اَلَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْن

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya”. (Surah Al-Ma’un : 4-5)

Level Ketiga, Orang yang bukan saja mendirikan sholat tapi sholatnya mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar. Mau berbohong, ingat sholat. Mau ingkar janji, ingat sholat. Sholatnya memberi dampak positif secara sosial dan personal. Kelompok orang yang sholat seperti ini masuk dalam golongan Sholat mencegah perbuatan keji dan munkar:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab   dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari  keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih  besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(QS. Al Ankabut : 45)

Level Keempat, Orang yang bukan saja mendirikan sholat dan sholatnya mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, tapi sholat sudah menjadi tiang agama (Islam). Kalau sholatnya rusak, maka rusaklah agamanya. Karena itu sholat merupakan ibadah yang akan pertama kali dihisab (dihitung) di akhirat.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِك

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Hakim, Baihaqi)

Kelompok orang yang sholat seperti ini masuk dalam golongan Sholat adalah tiang agama:

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدّيْنِ فَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدّيْنِ

“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan shalat, maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama”. (HR. Bukhari Muslim)

Level Kelima, level ini sebenarnya tidak untuk disampaikan karena jika disalah gunakan bisa menimbulkan gejolak spiritual. Tapi untuk pencerahan dan pengetahuan, silahkan saja dimaknai dan didiskusikan sebagai pengetahuan.

Pada level ini, orang selalu menjaga agamanya dengan selalu berbuat baik bagi alam semesta dan segala isinya. Semesta dan segala isinya adalah pancaran Ilahi. Dia adalah DIA yang ditakdir ada di dunia. Apapun yang dilakukannya adalah cara untuk selalu mengingat Tuhan. Hingga jika sudah sampai pada level ini, proses maunggaling kawula Gusti terjadi. Sholat hanya persoalan syari’at, bukan ma’riqfat.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan  selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Toha : 14)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.