Senin, 21 September 20

Mengaku Keturunan Raja Demak, Suminto Bantah Ajarkan Aliran Sesat

Mengaku Keturunan Raja Demak, Suminto Bantah Ajarkan Aliran Sesat

Jakarta, Obsessionnews – Ketua Yayasan Karaton Glagah Wangi Dhimak, Raden Suminto Joyokusuma, yang merupakan keturunan Kerajaan Demak Jawa Tengah, membantah telah mengajarkan ajaran sesat. Kabar itu sudah tersebar luas di kalangan masyarakat. Bahkan, Yayasan tersebut sudah pernah didatangi Banser Kabupaten Demak guna dimintai keterangan.

Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP LSM Aliansi TAJAM, Abah Sulthon Baseban yang mewakili pihak keturunan Kerajaan Demak, Jumat (1/5/2015). Menurutnya, tidak ada aliaran sesat yang diajarkan oleh Raden Suminto. Bila ‎tuduhan itu benar, maka ia berjanji sebagai pihak pertama yang akan menangkap Raden.

“Semua tuduhan kepada Raden Suminto menurut saya tidak benar. Apalagi sampai tuduhan pembuatan masjid tersebut untuk dijadikan ajaran yang sesat. Jika ada ajaran sesat, saya yang akan pertama-tama yang menangkap Raden Suminto,” ujar Abah Sulton, kepada wartawan di bilangan jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Abah Sulton menjelaskan, pendirian masjid tidak lain digunakan sebagai tempat ibadah shalat. Kemudian memudahkan orang untuk berziarah ke makam Syekh Soebakir. Tanah yang digunakan juga merupakan tanah warisannya, bukan tanah miliki yayasan Sunan Kalijaga yang menurutnya tengah dipermasalahkan.

“Jadi tanah itu tidak ada hubungannya dengan tanah yang dimiliki oleh yayaysan Keturunan Sunan kalijaga,” jelas Abah.

Selain itu, Abah Sulthoni juga menegaskan ‎, Raden Suminto Joyokusuma adalah benar-benar keturunan Raja Demak, Hal itu diperkuat oleh pendapat B.Bur Muras yang berpendapat Raden ‎Suminto adalah keturunan yang sah. Meski, pendapat itu masih dipermasalahkan oleh para kiyai dan ulama di Kabupaten Demak.

“Jadi kegiatan gelar nguri-uri budaya yang kerap dilaksanakan oleh Yayasan Kraton Glagah Wangi Demak yang rutin di adakan setiap tahunnya menjelang bulan Rajab, ini merupakan kegiatan kebudayaan yang luhur,” papar Abah.

Abah menambahkan, Gelar Kebudayaan tersebut, kerap dihadiri oleh tokoh masyarakat dan raja-raja Nusantara, bahkan ada tamu dari manca Negara yang selalu hadir saat acara kebudayaan tersebut.‎ Untuk itu ia menganggap kebudayaan tersebut harus dilestarikan sebagai hasil warisan leluhur. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.