Minggu, 22 Mei 22

Mengagumkan! Tias, Anak Penjual Es Diterima Kuliah di UGM

Mengagumkan! Tias, Anak Penjual Es Diterima Kuliah di UGM
* Ridha Wahyuningtias atau Tias (tengah) bersama orang tua dan kedua saudaranya.

Yogyakarta, Obsessionnews.com – Ridha Wahyuningtias tumbuh dari keluarga yang berekonomi lemah. Namun hal itu bukan penghalang  bagi dirinya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin.

Semangat untuk memperoleh pendidikan terbaik serta dukungan dari sang guru memberanikan Ridha untuk mendaftarkan diri pada seleksi penerimaan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, terlepas dari kekhawatiran orang tuanya yang tak sanggup membayar biaya kuliah. Dan yang mengagumkan, ia berhasil diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran UGM tanpa harus membayar biaya kuliah.

Tias, sapaan akrabnya, mengatakan belajar ilmu kesehatan memang sudah menjadi impiannya. Ketika duduk di bangku sekolah, ia aktif mengikuti kegiatan pramuka, dan banyak terlibat dalam penanganan keadaan medis darurat.

“Dari dulu sering ikut kegiatan pramuka, sempat belajar tentang pertolongan medis juga lalu jadi tertarik dengan ilmu kesehatan dan ingin jadi perawat,” tutur anak ketiga dari empat bersaudara ini seperti dikutip dari siaran pers Humas UGM, Senin (25/7/2016).

Sebelum mendaftar untuk Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, Tias sempat mencari tahu perguruan tinggi yang memiliki program studi berkualitas di bidang kesehatan, dan pilihannya pun jatuh pada UGM. Tetapi, saat itu ia belum berani membayangkan akan berkuliah di UGM, karena ia menyadari keadaan ekonomi keluarganya sangat terbatas. Orang tuanya tidak akan mampu membiayai kuliahnya di UGM, hingga salah satu guru di sekolahnya memberi informasi tentang beasiswa Bidik Misi (Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi).

“Katanya disuruh daftar saja dulu. Kalau untuk masalah biaya ada banyak jalan. Bisa cari beasiswa untuk kuliah,” ujar Tias saat ditemui di kediamannya di kawasan pinggiran Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (20/7).

Ketika memutuskan untuk mendaftar, ia sengaja tidak langsung memberitahukan kedua orang tuanya, karena ia takut orang tuanya akan melarang. Kedua kakaknya yang melanjutkan pendidikan tinggi di Pontianak, sebelumnya memang sempat diterima di beberapa perguruan tinggi bergengsi di Jawa. Namun, kedua orang tua mereka tidak merestui mereka untuk merantau ke luar kota.

“Saya hanya khawatir, kalau kuliah jauh-jauh nanti bayar kuliahnya gimana, biaya hidup gimana, tinggalnya di mana, kalau kos pasti banyak mengeluarkan biaya. Jadi, saya bilang kuliahnya di sini aja, biar tidak susah, tinggal mencari cara untuk membantu biaya kuliah,” kata ibu Tias, Sri Rosmiati.

Orang tua Tias sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan minuman es tebu. Sejak tahun 1992, Jumadi, ayahnya yang beberapa tahun sebelumnya merantau dari Blora, Jawa Timur, berjualan es tebu di alun-alun Kapuas yang menjadi salah satu objek wisata dan pusat keramaian Pontianak. Pemasukan yang ia peroleh dari berjualan selama beberapa jam mulai pukul 3 sore hingga malam hari pun cukup untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. Tapi, setahun belakangan penghasilannya menurun drastis semenjak ia dilarang berjualan di alun-alun.

“Sekarang saya hanya bisa berjualan di depan gang, berjemur dari pagi sampai sore di pinggir jalan. Tapi pendapatannya ya memang jauh lebih sedikit,” ujarnya.

Kini setiap pagi ia harus mengangkut batang-batang tebu dan mendorong gerobak yang dibuatnya sendiri ke tepi jalan Komodor Yos Sudarso yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Jalan ini terbilang tidak terlalu ramai, karena tidak banyak dilalui kendaraan dan bukan terletak di kawasan padat penduduk. Ia hanya berharap memperoleh pemasukan dari beberapa pelanggan tetap serta pengunjung rumah sakit daerah dan SPBU yang letaknya berdekatan dengan lokasi ia berjualan.

Meski hidup dalam keadaan terbatas, bagi kedua orang tua Tias pendidikan bagi anak-anak mereka memang selalu menjadi hal yang diutamakan. Terbukti mereka berhasil menyekolahkan kedua anaknya yang lebih tua hingga ke jenjang perguruan tinggi. Ia pun bersyukur karena anak-anaknya juga menunjukkan niat dan semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, bahkan hingga meraih berbagai prestasi dan memperoleh beasiswa.

“Kalau untuk kebutuhan lain, itu bisa dihemat-hemat. Yang penting anak-anak saya bisa sekolah,” tuturnya.

Karena itu mereka pun akhirnya melepas kepergian Tias untuk kuliah di UGM. Beasiswa Bidik Misi yang ia terima, serta dukungan dari beberapa kakak tingkat Tias yang sudah berkuliah di Yogyakarta meyakinkannya bahwa ia dapat menjalani kuliah dengan baik. Ia pun berdoa agar di UGM Tias dapat menuntut ilmu dengan baik, memperoleh apa yang ia cita-citakan, serta nantinya dapat menggunakan ilmunya untuk kebaikan sesama. (@arif_rhakim)

Baca Juga:

Hebat! Novi, Anak Buruh yang Diterima Kuliah di FH UGM

Dahsyat! Obsesi Anak Sopir Angkot Ini Kuliah di UGM Terwujud

Luar Biasa! Anak Pemulung Ini Sukses Masuk FK UGM

Kisah Inspiratif! Erwan, Anak Tukang Ojek yang Diterima di UGM

Luar Biasa! Anak Kuli Bangunan Ini Diterima di UGM

Wow, Keren! Deny, Anak Buruh Tani yang Kuliah di UGM

Anak Penjual Gorengan Ini Diterima Kuliah di FK UGM

Hebat! Tiffani, Anak Penjaga Toko yang Diterima di UGM

Refo, Anak Penjahit yang Diterima Kuliah di UGM

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.