Rabu, 25 November 20

Meneropong Pilgub Jatim (11)

Meneropong Pilgub Jatim (11)

Pilkada Pasti Ramai


Oleh: Hanif Kristianto, Analis Politik dan Media

Tak mengherankan jika stake holder bersatu diri dalam ciptakan Pilkada damai. Banner, baliho, dan iklan senantiasa didengungkan damai. Hal ini tercermin dari sikap pihak penjaga keamanan. Keinginan pilkada damai merupakan wujud pendidikan politik masyarakat. Sayangnya, apa yang dilakukan untuk mewujudkan pilkada damai bertolak belakang dengan realita.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati, sehingga siapapun itu akan memahami bahwa pesta politik pasti ramai dan rawan konflik.Pertama, masyarakat mayoritas di Indonesia, terkhusus di Jawa Timur masilah golongan apolitis. Hal ini dikarenakan pendidikan politik, baik di sisi formal atau non formal, tidak berjalan massif.

Kedua, partai politik tak pernah berterus terang menjelaskan politik. Lebih seringnya rakyat dijejali janji akan mimpi kesejahteraan dalam pembangunan. Sementara itu, di sisi lain parpol tidak sungguh-sungguh menjadi wahana dan contoh politik yang santun. Ditambah lagi, seringnya parpol memisahkan agama dengan kehidupan.

Ketiga, keengganan masyarakat berpolitik, akibat ulah politisi nakal. Sikap koruptif, manipulatif, dan abaikan urusan rakyat. Karena itulah, media sosial akan tumpah ruah dengan segala kekesalan. Kondisi ini menjadi PR bagi semuanya bahwa penguasa seolah belum ada di hati rakyat.

Keempat, adanya kegaduhan dan konflik di pilkada biasanya aktornya yang tak memiliki taraf berpikir panjang dan mendalam. Artinya, luapan kemarahan tidak disadari bahwa kompetisi pasti ada yang menang dan kalah. Sikap emosional inilah yang akhirnya merusak citra dan harga diri sebagai manusia beradab.

Kelima, sebelumnya banyak aturan yang dikeluarkan KPU dan BAWASLU yang menimbulkan gaduh. Kedua lembaga penyelenggara itu malah melampaui kewenangan. Sebagai contoh, mengatur isi materi khutbah di masa Pilkada. Gonjang-ganjing peraturan terkait calon yang tersangkut kasus korupsi. Bahkan peguasa pernah melontarkan politik harus dipisahkan dari agama, dan menolak politisasi masjid. Hal ini menjadi catatan penting dalam pengelolaan pesta politik.

Catatan Penting
Rumus pilkada damai, tampaknya belum pernah ada. Justru pilkada malah ramai dengan ragam kampanye dan polusi politik. Jika dicermati di Jawa Timur, keramaian pilkada masih dalam batas kewajaran. Kalauah terjadi konflik, skalanya kecil dan tidak meluas.

Untuk pencerdasan politik pada rakyat ada beberapa catatan penting: Pertama, rakyat jangan dijejali dengan slogan “cukup lima menit di bilik akan ada perubahan”. Pernyataan itu, tak sesuai dengan teori perubahan masyarakat baik skala kecil ataupun meluas. Pemimpin terpilih bukanlah superman dan bukan manusia ajaib.

Kedua, jangan ada upaya menakuti dengan istilah “Golput Haram”. Pernyataan itu jelas mempolitisasi Islam. Karena pemilihan ini bukan dalam rangka memilih pemimpin yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. Di sisi lain, memilih itu hak rakyat dan tidak bisa dipaksakan.

Ketiga, pemerintah haruslah adil dan memberikan teladan politik santun. Politik demokrasi tidak mengenal santun dan tidak santun. Karena standarnya kebebasan. Mengharapkan pesta politik dengan nilai humanis sangat mustahil. Selama politik demokrasi dijalankan, nuansa perebutan kekuasaan lebih kental daripada niatan ikhlas mengurusi rakyat.

Oleh karena itu, pilkada Jawa Timur pasti ramai. Udara penuh dengan polusi politik. Yang ramai yaitu uangnnya, pendukungnya di dunia maya dan nyata, baliho dan iklan di mana-mana, serta keramaian dalam pesta yang berbiaya mahal. Rakyat pun akhirnya tahu bahwa pesta itu bukan untuk kami, tapi untuk mereka yang telah mengeluarkan biaya.

Penting diharapkan bahwa mayoritas masyarakat Jatim adalah muslim. Partai politik sebagai lembaga politik haruslah mampu mengambil intisari politik Islam. Begitupula pemimpin terpilih dan semua stake holder mau merujuk politik Islam yang bermakna mengurusi urusan umat dengan aturan Allah Yang Maha Hebat. Pencipta dan pengatur manusia serta alam semesta. Yuk, nonton ramai-ramai. Pilkada yang katanya damai. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.