Rabu, 15 Juli 20

Mencintai Islam, Jokowi Pilih Pendamping Ulama Besar

Mencintai Islam, Jokowi Pilih Pendamping Ulama Besar
* Pasangan capres-cawapres Pilpres 2019, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. (Foto: Twitter @KPU_ID)

Kamis, 9 Agustus 2018 menjadi babak baru dalam sejarah Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi menjatuhkan pilihan untuk didampingi KH Ma’ruf Amin dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Hari itu para ketua umum dan sekretaris jenderal (Sekjen) parpol koalisi pengusung berkumpul dengan Jokowi di Restoran Plataran Menteng, Jakarta. Di sela obrolan, Sekjen PKB Abdul Kadir Karding mengunggah cicitan di Twitter, yang kemudian dikutip banyak media.

“Rapat antara pak @jokowi dan ketum-ketum, sekjen partai pendukung memutuskan Prof Dr Kh Ma’ruf Amin sebagai calon wapres Pak Jokowi,” tulis Karding.

Jokowi yang tiba di restoran itu sekitar pukul 17:07 WIB tak memberikan keterangan banyak kepada wartawan. Mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana hitam, Jokowi hanya melemparkan senyum sambil berujar, “Belum, belum, belum,” kepada awak media yang berkumpul.

Selepas Maghrib, Jokowi menggelar keterangan pers dan secara resmi mendeklarasikan diri sebagai capres di Pilpres 2019 sekaligus juga mengumumkan KH. Ma’ruf Amin sebagai cawapres yang akan mendampinginya.

Jokowi menjelaskan, keputusan dirinya kembali maju setelah mendengar masukan dari ulama, ketua umum parpol, relawan, dan masyarakat luas.

“Maka, dengan mengucap Bismillah saya memutuskan kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden,” ujarnya.

Jokowi melanjutkan, setelah melalui perenungan dan mendengar masukan dan saran dari elemen masyarakat, capres pejawat itu memutuskan jika KH Ma’ruf Amin dipilih sebagai cawapres.

“Maka, saya memutuskan dan mendapat persetujuan dari parpol, yang akan mendampingi saya sebagai calon wakil presiden (cawapres) adalah KH Ma’ruf Amin,” tegasnya.

Keputusan Jokowi memilih Kiai Ma’ruf sontak mengundang banyak tanya. Kenapa Jokowi memilih cawapres dari kalangan ulama? Mengapa tidak memilihnya dari kalangan parpol pendukung?

Paling tidak ada empat alasan yang dikemukakan Jokowi. Keempat alasan ini pula yang dijadikan rujukan media-media asing dan lokal untuk mengetahui alasan dipilihnya Kiai Ma’ruf oleh Jokowi.

Pertama, Jokowi menyebut Kiai Ma’ruf sebagai ulama yang bijaksana. Alasan ini disebut Jokowi saat menggelar jumpa pers bersama pimpinan partai politik pendukungnya, Kamis (9/8/2018) malam.

“Mungkin ada beberapa pertanyaan dari masyarakat luas di seluruh tanah air mengapa Kiai Maruf Amin yang dipilih. Profesor Doktor Kiai Haji Maruf Amin lahir di Tangerang, 11 Maret 1943 adalah sosok agama bijaksana,” kata Jokowi.

Kedua, Kiai Ma’ruf dikenal Jokowi tidak hanya sebagai ulama. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Am PBNU ini juga dikenal Jokowi memiliki rekam jejak politik yang mumpuni.

Kiai Maruf Amin pernah menjadi wakil rakyat di sejumlah tingkat, mulai dari daerah, tingkat pusat, sampai anggota lembaga tertinggi negara. Kiai Maruf pun menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) di era Jokowi. “Prof Dr Maruf Amin pernah menjadi anggota DPRD, DPR, dan juga MPR Ri,” sebut Jokowi.

Ketiga, Kiai Ma’ruf merupakan tokoh Kebhinekaan. Menurut Jokowi, selain seorang ulama, Kiai Maruf juga dikenal sebagai seorang yang menghargai kebhinekaan. Di samping itu, Maruf Amin, juga dinilai sebagai sosok yang sangat paham Pancasila.

“Dalam kaitan dengan kebhinekaan, Maruf Amin juga Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila,” kata Jokowi.

Dan keempat, Jokowi beralasan jika Kiai Ma’ruf telah mendapat restu dari 9 partai politik (parpol) pengusung Jokowi pada Pilpres 2019, yakni PDI Perjuangan, PPP, PKB, Partai Golkar, Partai Nasdem, Partai Hanura, Perindo, PKPI, dan PSI.

“9 Parpol sudah menyetujui. Ketua Umum dan Sekjen sudah menandatangani pencalonan. Besok jam sembilan kita akan mendaftar ke KPU, berangkat dari Gedung Joang,” ujar Jokowi.

Dipilihnya Kiai Ma’ruf, sekali lagi menegaskan kecintaan Jokowi kepada umat Islam, khususnya ulama. Di eranya, Jokowi mengeluarkan banyak kebijakan yang berpihak pada umat mayoritas di tanah air ini.

Misalnya, Jokowi menetapkan Hari Santri Nasional (HSN) melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015. Implikasinya, Jokowi pun sering ‘blusukan’ keluar-masuk pondok pesantren dari ujung barat hingga timur Indonesia.

Di era Jokowi ini pula muncul kebijakan-kebijakan yang mendukung ekonomi umat Islam. Seperti didirikannya 40 bank wakaf mikro di basis-basis massa Muslim Indonesia. Selain itu, Jokowi juga mendorong kerjasama antara perusahaan besar dengan organisasi Islam dalam rangka meningkatkan ekonomi umat.

Dan, masih banyak sederetan bukti kecintaan Jokowi kepada umat Islam. Maka tak heran jika ia kemudian diganjar kembali masuk dalam daftar top 50 tokoh muslim berpengaruh 2019.The Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berkedudukan di Amman, Jordania menempatkan Jokowi di posisi ke-16 dari deretan 50 tokoh muslim dunia paling berpengaruh tahun 2019.

 

Kiai Ma’ruf, Sosok Islami-Nasionalis

Terpilihnya Kiai Ma’ruf juga tampaknya didasarkan pada pertimbangan elektabilitas. Kiai Ma’ruf dinilai sebagai sosok yang bisa diterima oleh sejumlah kalangan yang beraneka ragam.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy menilai, Kiai Ma’ruf memiliki segala syarat yang menggabungkan kalangan Islam dan nasionalis.

“Secara politik, beliau juga mewarnai seluruh spektrum politik yang ada di koalisi karena tentu spektrum politik itu juga ada spektrum politik nasionalis, ada spektrum politik religius di mana Kiai Ma’ruf Amin merupakan titik temu itu,” ujar Romy.

Analisis Rommy belakangan didukung hasil riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Pada survei yang melibatkan 1.200 responden dengan metode random sampling, dan dilakukan pada 10 hingga 19 November 2018 itu diketahui bahwa sebagian besar kelompok minoritas agama juga memilih pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) – Maruf Amin.

“Sebagian besar dari pemilih kalangan minoritas agama dan Indonesia timur cukup militan mendukung Jokowi,” ujar peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (27/11/2018).

Ya, meski Kiai Ma’ruf merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) , namun tak berarti ia hanya memikirkan eksistensi umat Islam semata. Pemahamannya soal kebangsaan dan kebhinekaan tak perlu diragukan. Ia bahkan tak ubahnya penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena kerap kali mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Meski pada konteks akidah umat Islam, ia akan berdiri di garda terdepan.

Seperti sebuah mata uang, umat Islam dan NKRI adalah dua sisi yang tak terpisahkan. Umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas negeri ini (85 persen dari total penduduk Indonesia), secara otomatis menjadi komunitas terbesar yang bertanggung jawab atas keutuhan NKRI. Oleh karenanya, menjaga persatuan umat Islam menjadi kunci terpeliharanya kesatuan NKRI.

Ketika umat Islam dihadapkan pada situasi terkotak-kotak, misalnya, Kiai Ma’ruf harus tampil sebagai sosok yang menyatukan. Dalam konteks ini, sabda Rasulullah Saw. bahwa mukmin yang satu dengan yang lainnya adalah saudara, mesti benar-benar dikawalnya agar tercipta ukhuwah islamiyah.

Kendati demikian, Kiai Ma’ruf juga tegas melempar kritik kepada suatu kelompok yang menamakan dirinya sebagai Muslim, tetapi berulah tak pantas laiknya seorang Muslim bahkan cenderung mengancam keutuhan NKRI. Dalam konteks inilah, Obsession Media Group (OMG) memberikan anugerah Lifetime Achievement di ajang Obsession Award 2018 pada 23 Maret 2018 lalu.

Keberpihakannya pada ideologi Pancasila sangat jelas. Pada sejumlah kesempatan, ia berulang kali menegaskan bahwa pembahasan Islam dan negara di tanah air telah usai. Baginya, Pancasila adalah solusi kebangsaan atau hulul wathaniyah yang menjadi titik kesepakatan dan kompromi dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan, roh agama menjadi kekuatan besar yang mengilhami kelahiran Pancasila itu.

Mantan Ketua Komisi Fatwa MUI ini juga dikenal dekat dengan masyarakat. Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Banten, ini dikenal sebagai kiai yang moderat, pemikir, ramah, dan sejuk. Kendati demikian, ia juga tegas dalam memegang prinsip, terlebih yang terkait dengan syariat Islam. Jauh sebelum menjadi pimpinan tertinggi di MUI, ia dikenal sebagai ulama ahli fiqh yang disegani.

Selain menjadi Ketua Umum MUI, Kiai Ma’ruf juga menduduki jabatan tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU). Di Ormas Islam terbesar di tanah air ini, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2007-2014) tersebut juga menjabat Rais ‘Am atau Ketua Umum dalam arti sebenarnya untuk periode 2015-2020. Sebuah posisi yang membuatnya menjadi ulama paling dihormati di kalangan Nahdliyin.

 

Santri Tulen, Cicit Ulama Besar

Catatan hidup Kiai Ma’ruf juga penuh dengan warna. Jadi wajar jika ia memiliki segudang talenta. Tak melulu dikenal sebagai seorang ulama, namun jauh sebelum itu ia juga dikenal sebagai seorang politisi handal, dimana ia pernah mengecap bangku DPRD DKI Jakarta di usianya ke-28.

Karier lelaki lulusan Pondok Pesantren Tebu Ireng ini dimulai dari bawah. Lahir dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Ma’ruf, memiliki kecakapan dalam ilmu agama dan wawasan kebangsaannya yang luas sehingga pernah mengantarkannya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2007-2010) dan saat ini sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Keluasan ilmu dan pengalamannya tampak benar saat ia sering kali menjadi penengah dalam banyak persoalan. Mantan Ketua Komisi Fatwa MUI ini selalu hadir dengan pernyataannya yang menyejukkan dan menenangkan umat Islam karena mengedepankan kemaslahatan. Spektrum keilmuannya yang luas tampaknya berasal dari sejarah panjang pendidikannya di beragam pondok pesantren. Namun lebih dari itu, trah ulama besar melekat kuat dalam diri Rais Aam PBNU tersebut.

Ya, Kiai M’aruf merupakan cicit dari ulama besar Nusantara, Syeikh Nawawi Al-Bantani, yang pada zamannya didapuk menjadi imam Masjidil Haram dan kesohor ke berbagai belahan dunia. Syeikh Nawawi memiliki posisi intelektual terhormat di Tanah Haram. Soal ini, seorang Snouck Hurgronje memiliki catatannya.

Hurgronje menyebut Syeikh Nawawi sebagai orang yang paling alim dan rendah hati dari Nusantara. Karena kepintarannya, pemerintahan kekhalifahan Ottoman Turki memperbolehkan dia mengajar dan menjadi imam Masjidil Haram. Kemasyhuran Syeikh Nawawi yang wafat sekitar tahun 1897 itu sampai kini masih banyak jejaknya. Hampir semua kitabnya hingga kini masih dipelajari di pesantren. Berbeda dengan ulama Nusantara sebelumnya, Syeikh Nawawi menulis kitabnya dalam bahasa Arab. Tidak kurang dari lima puluh kitab yang dia tulis, 22 kitab masih beredar, dan 11 kitabnya termasuk 100 kitab yang paling banyak digunakan di pesantren.

Coba menapaktilasi sang buyut, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Desa Tanara, Tirtayasa, Serang, Banten, ini pun dikenal sebagai ulama yang produktif menelurkan karya, satu di antaranya yang terkenal adalah “Fatwa dalam Sistem Hukum Islam”. Buku tersebut menjadi sumber rujukan sekaligus landasan teori dan alat untuk membaca lebih lengkap fatwa-fatwa yang dihasilkan MUI.

Pendidikan Kiai Ma’ruf diawali di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Ma`ruf mulai dari jenjang dasar, Madrasah Ibtidaiyah. Ia nyantri di Jombang pada KH. Abdul Kholiq Hasyim (1916-1965), putra keenam KH. Hasyim As`ari.

Sepulang Dari Tebu Ireng, Ma`ruf Amin pernah masuk SMA Muhamadiyyah di Jakarta. Ia ingin belajar pengetahuan umum. Tapi akhirnya tidak diselesaikan. Ia kemudian mondok lagi ke beberapa pesantren di Banten. Dalam waktu singkat-singkat. Antara lain, Pesantren Caringin, Labuan, Pesantren Petir, Serang, dan Pesantren Pelamunan, Serang. Kiai Ma’ruf kemudian kuliah di Fakultas Ushuludin, Universitas Ibnu Choldun, Jakarta.

Pengakuan atas keilmuan Kiai Ma’ruf semakin lengkap saat mantan anggota DPR/MPR RI dari Fraksi PKB ini mendapatkan gelar profesor dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Magribi, Malang, pada 2017. (Imam Fathurrohman)

 

Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Men’s Obsession Edisi Januari 2019.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.