Minggu, 26 Mei 19

Memprihatinkan! Tidak Semua Destinasi Wisata Ramah terhadap Lansia

Memprihatinkan! Tidak Semua Destinasi Wisata Ramah terhadap Lansia
* Peneliti Pusat Studi Pariwisata (Puspar) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Dr. Dyah Widiyastuti. (Foto: UGM)

Yogyakarta, Obsessionnews.com – Indonesia menjadi salah satu tujuan destinasi wisata bagi wisatawan untuk berlibur. Namun, tidak semua destinasi wisata tersebut ramah terhadap pengunjung lansia. Ini tentu sungguh memprihatinkan! Oleh karena itu pemerintah dan pengelola wisatawan diharapkan bisa menyediakan fasilitas bagi wisatawan dari kelompok lanjut usia (lansia).

Peneliti Pusat Studi Pariwisata (Puspar) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Dr. Dyah Widiyastuti, mengatakan, keinginan berwisata bagi kaum lansia berbeda dengan wisatawan pada umumnya. Keinginan berwisata mereka lebih condong untuk bisa berkumpul bersama dengan orang lain, baik bersama keluarga maupun teman komunitas.

 

Baca juga:

Danau Toba Luncurkan 17 Event Pariwisata Internasional

Dongkrak Kinerja Pariwisata, Kemenpar Terapkan ‘Grand Marketing Strategy’

Puspayoga: Pariwisata Bisa Perkuat Keutuhan NKRI

 

“Motivasi lansia untuk wisata lebih pada sosial impersonal dan motivasi fisik,” kata Dyah dalam diskusi mobilitas dan wisata lansia di ruang seminar Puspar UGM, Selasa (26/2/2019), seperti dikutip obsessionnews.com dari ugm.ac.id.

Dyah menuturkan, pengunjung lansia biasanya datang bersama dengan anggota keluarga, seperti anak, menantu, dan cucu, bahkan ikut berwisata dengan para komunitas. Dari penelitiannya, ia menyebutkan ada delapan aktivitas lansia selama berwisata, yakni duduk, jalan, ngobrol, makan,  membaca,  mengasuh cucu, berfoto ria dan menikmati lingkungan.

“Mereka cenderung  melakukan kegiatan pasif dengan aktivitas yang  dilakukan menyesuaikan ketersediaan fasilitas yang ada di objek wisata yang dikunjungi,” kata Dosen Fakultas Geografi UGM ini.

Menurutnya, berdasarkan pola wisatawan lansia di Yogyakarta didominasi oleh kelompok lansia dengan kondisi sosial demografi dan ekonomi yang rendah. Adapun kegiatan bepergian lansia kota Yogyakarta umumnya hanya berkunjung ke tempat wisata yang ada di sekitar rumah karena terjangkau bagi lansia.

“Lansia yang berkunjung ke objek wisata biasanya datang berkelompok, bukan secara individu,” ujarnya.

Dari penelitian itu ia menyimpulkan pengunjung wisata dari kelompok lanjut usia lebih senang melakukan aktivitas yang dipusatkan pada keluarga. Oleh karena itu ia merekomendasi sebaiknya ruang destinasi wisata menyediakan media atraksi berupa ruang terbuka, walking track, dan konektivitas dengan masa lalu. Lalu aksesibilitas berupa tempat parkir dan dropzone, zona untuk sepeda, andong, bus, mobil, rest area dan jalur pejalan kaki yang landai dan rindang.

Selanjutnya untuk amenitas, diperlukan restoran terbuka dengan sajian makanan sehat, tempat duduk yang terlindung, toko cinderamata yang berhubungan dengan masa lalu dan tersedinya klinik terdekat.

Selain itu, ada petugas yang ramah dan membantu para wisatawan lansia serta ketersediaan papan petunjuk informasi visual yang memudahkan para wisatawan.

Dalam sesi diskusi Feriawan Agung Nugroho selaku pengurus Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta mengatakan, mereka setiap tahunnya mengadakan kegiatan wisata bagi anggota balai.

“Kita mengajak 130 orang lansia dengan lebih dari 50 orang pendamping. Kadang satu pendamping untuk lima orang,” katanya.

Berdasarkan pengalamannya mengajak anggota lansia piknik ke lokasi wisata, sering terhambat oleh area parkir dan dropzone yang jauh dari loket dan objek wisata, sehingga para lansia harus berjalan jauh, sementara kondisi fisik mereka kurang mendukung.

“Lokasi wisata yang paling mudah aksesnya ya ke pantai,” ujarnya.

Tidak hanya itu, kata Feriawan, di tempat wisata ia kesulitan menemukan kamar kecil yang ramah untuk lansia. Bahkan tidak ada sandaran kursi bagi lansia selama berada di objek wisata.

“Sebelumnya, kita survei lokasi wisata yang landai, tidak banyak sandungan dan butuh pendopo atau rest area untuk acara kumpul tapi nyaris penyedia wisata tidak sediakan ini,” paparnya.

Deborah, salah satu penghuni panti lansia di Kota Yogyakarta, mengatakan, kegiatan wisata sangat ditunggu-tunggu bagi anggota panti.

“Kalau besoknya mau berangkat, malamnya kami tidak bisa tidur,” kenangnya.

Fito, pengelola penyedia paket wisata di Yogyakarta, mengaku tidak semua tempat wisata di Yogyakarta menyediakan fasilitas khusus bagi lansia. Saat mendampingi tamu dari luar negeri, ia mengaku kesulitan memilih lokasi wisata yang cocok bagi wisatawan lansia. (ugm/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.