Rabu, 22 Januari 20

Memetik Hikmah dari ‘People Power’ Ala Filipina

Memetik Hikmah dari ‘People Power’ Ala Filipina
* Buku ‘The Marcos Dinasty; karya Sterling Seagrave. (Sumber foto: tokopedia.com)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

 

Membaca ulang buku The Marcos Dinasty karya Sterling Seagrave, pas membaca bab menjelang lengsernya Marcos pada 1986, sekarang saya baru ngerti kenapa yang berkuasa di sini takut benar dengan istilah oposisi. Bukan dalam arti oposisi parlemen. Tapi gerakan anti pemerintah.

Dari jalinan kisah yang dirajut amat menarik ini, Seagrave berkesimpulan jika kekuatan oposisi atau anti pemerintah berhasil melembaga, masalah krusial bukan terletak di kalangan oposisi itu sendiri. Melainkan di dalam lingkar dalam kekuasaan itu sendiri.

Ketika oposisi melembaga di luar lingkar dalam kekuasaan, akan memicu para pemain kunci di ring satu kekuasaan mulai mengondisikan terciptanya suksesi kekuasaan. Sehingga terjadilah kasak-kusuk internal memunculkan putra mahkota.

Nah, kalau saya baca konstruksi cerita Seagrave mengenai kejatuhan Marcos, saya lihat Marcos secara cerdas main rolet yang cukup berbahaya dengan Amerika. Justru memanfaatkan semakin melembaganya gerakan anti pemerintah di luar pemerintahannya. Maupun menajamnya intrik kekuasaan di dalam istananya sendiri.

Dalam pertarungan terselubung antara kroni Marcos dan kroni istrinya, Imelda, menurut saya dalam jangka panjang, diam-diam dia menyiapkan Jenderal Fidel Ramos yang notabene masih kerabat dekatnya sendiri. Tapi harus ada momentumnya dulu.

Melalui penelusuran Seagrave, ditemukam dokumen seakan ditulis oleh CIA, yang mana data mentah itu bisa disimpulkan: Amerika sedang menyiapkan skenario duet Juan Ponce Enrile dan Jenderal Fidel Ramos sebagai pengganti Marcos.

Meski secara intelijen ini masih informasi mentah, ketika dokumen ini beredar di para elite, jadi bahan gorengan sana sini. Artinya dokumen yang sebenarnya hoaks itu, akhirnya malah jadi kenyataan.

Karena Marcos tahu betul Amerika njagoin Ponce Enrile. Tapi Marcos dalam hatinya nyiapin Ramos. Soalnya gini ya. Bapak Fidel Ramos itu, Narcisco Ramos, paman Marcos dan pernah jadi menteri luar negeri. Dah gitu kebetulan kroni Marcos ini umumnya pintar-pintar dan intelek. Nggak kayak kroni Imelda yang bermental orang kaya baru, borju dan hedon.

Tapi, gimana melambungkan Fidel Ramos sementara popularitasnya pun di bawah baying-bayang Menteri Pertahanan Enrile. Maka sekarang saya baru paham kenapa Marcos memilih panglima militernya adalah Jenderal Fabian Ver yang tololnya minta ampun. Tapi selalu patuh dan selalu bilang siap walau disuruh masuk sumur.

Sebetulnya kalau CIA waktu itu jeli, harusnya menangkap paradoks Marcos. Dalam memilih kroninya sendiri biasanya orang-orangnya kompeten, cakap dan profesional. Giliran memilih panglima kenapa malah yang bebal kayak Jenderal Ver? Sedangkan untuk Fidel Ramos, Marcos tetap dia taruh sebagai kepala kepolisian negara dan wakil panglima.

Dari pengamatanku setelah baca konstruksi ceritanya, marcos memang memasang Jenderal Ver buat bikin blunder. Buat jadi tumbal. Ibarat main catur, Fabian Ver memang pion buat dikorbankan. Tapi untuk buka kemungkinan baru.

Membuka kemungkinan baru apa? Yaitu rencana kedatangan tokoh oposisi Benigno Aquino ke Manila. Setelah dalam pengasingan di Amerika. Marcos tahu, dengan kapasitas Ver yang pas-pasan tapi setia, dia akan menyingkirkan Aquino secara vulgar.

Sehingga tewasnya Aquino setiba di bandara di depan ratusan wartawan dalam dan luar negri. Maka semua akan menuding Marcoslah otak pembunuhan Benigno Aquino. Seperti ucapan Marcos sendiri kepada Ver,”Goblok kamu. Sekarang orang nyangka akulah pembunuhnya.” Padahal emang iya sih.

Setelah pembunuhan Benigno Aquino, maka skenario berikutnya yang jadi motor penggerak adalah duet Enrile-Ramos. Di sini Marcos cerdas dan brilian memainkan rolet Rusia.

Dengan membiarkan duet Enrile-Ramos, Amerika merasa di atas angin. Merasa jagoannya jadi pusat penggerak opososi. Namun Marcos lebih paham seluk-beluk dan nuansa bangsa Filipina daripada Amerika.

Gereja Katolik merupakan rahim lahirnya people power. Tokoh sentralnya adalah Kardinal Jaime Sin. Dan rohaniawan Katolik ini sepenuhnya mendukung Qori Aquino, istri Benigno Aquino, bukan saja simbol perlawanan tapi juga capres buat menghadapi Marcos di pemilu.

Ketika Marcos mengklaim kemenangan padahal main curang, maka Enrile dan Ramos tidak bisa tidak bersekutu dengan Qori. Sebab dukungan gereja Katolik kepada Qori bukan sekadar dukungan agama. Melainkan dukungan akar rumput budaya. Grassroot based culture.

Sehingga yang tadinya Enrille-Ramos yang mau disetel CIA buat mengudeta Marcos dengan momentum kecurangan pemilu Marcos terhadap Qory. Kemudian menjelma jadi people power. Sehingga skenario duet Enrille-Ramos mentah.

Tapi inilah politik. Kalah belum tentu habis. Gagalnya skenario bukan berarti aktornya tamat. Enrile jadi Menteri Pertahanan. Ramos jadi panglima tentara..

Perkembangan selanjutnya pasca Marcos tumbang, sesuai teori saya tadi. Hubungan Qori dan Enrille memburuk, akhirnya Enrille tersingkir. Tapi hubungan Qori dan Ramos malah makin solid.

Kelak setelah Qori tidak lagi jadi presiden, Ramos jadi presiden penggantinya. Dan menjabat dua periode.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.