Rabu, 12 Agustus 20

Memelihara Jantung

Memelihara Jantung
* Ilustrasi jantung. (Sumber: realita.co)

Beberapa minggu yang lalu rekan kami di kampus meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung. Tentu saja kami merasa kehilangan karena usia beliau masih relatif muda. Penyakit jantung merupakan penyakit nomor satu yang paling mematikan. Ia bisa menyerang siapa saja, tidak peduli usia muda atau tua. Teman saya semasa kuliah dulu sudah ada berapa orang yang meninggal dunia karena serangan jantung, padahal usianya kala itu juga masih muda.

Ada orang yang menderita penyakit jantung karena bawaan sejak lahir, tetapi lebih banyak lagi orang yang menderita penyakit jantung karena gaya hidup yang tidak memperhatikan keseimbangan, keseimbangan antara yang masuk dan keluar. Terlalu banyak makan yang berlemak tetapi kurang gerak atau olahraga merupakan pemicu penyakit jantung.

Saya bukan dokter, tetapi dari berbagai informasi yang saya ketahui serangan jantung disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah menuju jantung akibat penumpukan lemak kolesterol, atau unsur lain di dalam pembuluh darag. Gangguan aliran darah ke jantung bisa merusak atau menghancurkan otot jantung dan bisa berakibat fatal (Sumber:  Pengertian Serangan Jantung).

Penyakit jantung disebabkan berbagai faktor, antara lain kebiasaan merokok, pola hidup yang kurang sehat (kurang berolahraga, suka makanan berlemak, jarang memakan buah dan sayur), hipertensi, diabetes, obesitas, faktor usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga yang memiliki penyakit jantung (Sumber: Penyebab Penyakit Jantung).

Jadi, mulai sekarang peliharalah jantung milik kita masing-masing, dengan cara memperhatikan faktor-faktor penyebab di atas, salah satunya olahraga secara teratur. Berolahraga memang bagus buat jantung, tetapi memforsir diri untuk berolahraga malah bisa fatal. Olahraga itu ada batasnya, kalau tubuh sudah merasa tidak nyaman atau mata mulai berkunang-kunang ketika berolahraga, badan mulai tidak stabil (sempoyongan), itu pertanda olahraga harus dihentikan saat itu. Segeralah menepi dan memilih beristirahat.

Tahun lalu Rektor sebuah PTN di Bandung meninggal dunia ketiak sedang bermain tenis. Beberapa tahun lalu kita juga mendengar seorang artis pria (Adjie Massaid) meninggal dunia ketika sedang bermain futsal. Masih banyak lagi berita orang yang meninggal dunia secara mendadak ketika berolahraga.

Bagi orang yang berusia di atas 40 tahun (seperti saya), sudah waktunya memilih olahraga yang bisa “dikendalikan”. Maksudnya, sebaiknya kita melakukan olahraga yang bisa kita kontrol sendiri kapan kita harus berhenti dan kapan dilanjutkan. Jika tubuh sudah merasa lelah, maka kita sendiri memutuskan untuk berhenti sejenak atau dalam waktu yang agak lama. Olahraga yang bisa dikendalikan itu antara lain jalan kaki, lari, senam, bersepeda, dan berenang. Semua olahraga ini bersifat privat dan bukan bersifat pertandingan. Kita tidak perlu mengikuti aturan baku dalam olahraga itu, karena kita sendiri yang melakukannya dan kita sendiri yang tahu kapan tubuh kita harus berhenti untuk berisitirahat dan kapan dilanjutkan lagi.

Olahraga yang memerlukan partner atau teamwork dalam pertandingan tidak disarankan bagi orang berusia di atas 40 tahun, karena sangat menguras energi. Olahraga semacam itu misalnya bermain futsal, tenis, badminton, sepakbola, volley, basket, dan sebagainya. Bermain sepakbola misalnya, kita hanya istirahat setelah 90 menit pertandingan. Kita tidak bisa berhenti sesuka hati kita ketika sedang main. Meskipun tubuh sudah sempoyongan, kita terikat aturan permainan untuk terus bermain sampai waktu istirahat tiba (kecuali ada pergantian pemain). Hal yang sama juga berlaku ketika sedang bermain tenis, badminton, volley, futsal, dan sebagainya. Semuanya olahraga yang menguras tenaga, jika jantung tidak kuat memompa darah bisa fatal akibatnya, apalagi kalau punya potensi penyakit jantung.

Jantung adalah pusat dari tubuh kita, yang memompa darah ke semua bagian tubuh, Jika ia berhenti berkerja, maka habislah riwayat kita. Tentu kita berharap memiliki umur yang panjang supaya tetap bisa melihat anak-anak kita tumbuh besar, dewasa, melihat mereka menikah, dan mempunyai cucu. Mari kita syukuri nikmat Allah SWT dengan memelihara jantung kita masing-masing. (Rinaldi Munir, Dosen Teknik Informatika ITB)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.