Selasa, 21 September 21

Membangun Indonesia dan Cegah Neo Kolonialisme Berdasar Kecerdasan Spiritual

Membangun Indonesia dan Cegah Neo Kolonialisme Berdasar Kecerdasan Spiritual

Oleh: Habil Marati (Mantan Anggota DPR RI)

SEJARAH I
Di nusantara ini, Islam sudah ada sebelum Belanda datang, Islam sudah ada baru Indonesia ada, Islam sudah ada sebelum Indonesia merdeka, Islam sudah ada sebelum Pancasila lahir, Islam sudah ada sebelum UUD45 dibuat, demikian juga Islam sudah ada sebelum NKRI ada. Demikian juga, Islam waktu itu tidak mengenal istilah nasionalis karena memang belum ada.

Umat Islam yang dipimpin para Ulama berjuang mengusir Penjajah secara lokal dan tradisional seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umat, Sultan Hasanuddin, Babullah, Patimura , Sisingamangaraja dan Sentot Alibasya. Pada fase pertama ini perjuangan Umat Islam yang di pimpin para Ulama sifat perjuangannya lokal dan tidak terorganisir, motivasi yang mendorong Umat Islam dan Para Ulama berjuang mengusir Belanda adalah dorongan Aqidah dan Syariah, Perang melawan kaum kafir atau Jihad.

Pada fase Pertama ini, Umat Islam dan Ulama berjuang mengusir penjajah belanda sama sekali tidak berpikir mengenai kemerdekaan, tujuan Ulama semata mata mempertahankan Aqidah Umat. Dan hebatnya umat Islam dan Ulama berjuang mengusir Penjajah belanda berlangsung 350 tahun, dan Alhamdullillah Islam tetap bertahan meskipun dijajah 350 Tahun ini tentu karena pertolongan Allah SWT.

SEJARAH II
350 Tahun para Ulama dan Umat Islam berjuang mengusir Penjajah belanda, pada fase ini Umat Islam, Ulama dan organisasi pergerekan berhasil merebut kemerdekaan dari Belanda dan jepang , puncaknya tgl 17 Agustus 1945 President Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia, ingat yang diproklamirkan itu kemerdekaan Bangsa Indonesia Bukan kemerdekaan warga negara.

Selanjutnya Pancasila dan UUD45 di lahirkan serta berdirinya NKRI. Dari perspektif sejarah, sangat jelas bahwa berdasarkan kecerdasan Spritual mulai dari Kemerdekaan, Pancasila, UUD45 sampai dengan NKRI adalah merupakan anak kandung dari hasil perjuangan Umat Islam yang dipelopori Ulama yang berlanngsung selama 350 tahun. Oleh karena itu bagaimana mungkin Umat dan Ulama mau menghianati Pancasila,Justru sebaliknya ada gerakan yang ingin memisahkan Pancasila dari nilai nilai syariah Umat Islam.

Oleh karena itu’ untuk membangun bangsa Indonesia ini di butuhkan kecerdasan spritual, kecerdasan Spritual memuat nilai nilai Ketuhanan sebagai spirit terhadap pelaksanaan nilai nilai Pancasila yang akan melahirkan kesimbangan kesejahteraan dalam pembangunan Bangsa Indonesia, Bangsa Indonesia tidak dapat dibangun hanya berdasarkan kecerdasan materi semata karena bertentangan dengan pancasila. Membangan Indonesia berdasarkan kecerdasan Spritual akan menenpatkan Pancasila sebagai keseimbangan yang berkeadilan.

KECERDASAN SPRITUAL MODAL UTAMA MEMBANGUN BANGSA INDONESIA
Membangun Bangsa Indonesia yang berdasarkan kecerdasan Spritual di mulai dengan mengisi Kekuasaan Pemerintahan dan kekuasaan politik Negara dengan orang orang yang memiliki kecerdasan Spritual, Kecerdasan Spritual ini dibutuhkan untuk realisasi dan internalisasi pembangunan bangsa agar sesuai dengan nilai nilai pancasila yang berkeadilan, cerminan seseorang itu Pancasilais serta memiliki kecerdasan Spritual pada saat orang orang tersebut memegang kekuasaan politik dan kekuasaan hokum.

Jadi, bagi masyarakat yang tidak memegang kekuasaan politik tidak bisa di nilai apakah mereka itu pancasilais atau tidak, tapi justru mereka jadi korban dari penguasa politik yang tidak memilki kecerdasan spritual serta tidak pancasilais. Pengelolaan Kekayaan Alam, pengelolaan tanah dan Air, Pengelolaan pendidikan, Pengelolaan lapangan kerja, pengelolaan infrastruktur,

Pengelolaan lautan, pengelolaan tertib hukum, pengelolaan Agama dan sosial, pengelolaan ekonomi serta kekuasaan kedaulatan rakyat, bisa dibayangkan betapa menderitanya rakyat Indonesia serta hancurnya Negara, apabila kekuasaan di pegang oleh orang orang yang tidak memiliki kecerdasan Spritual.

Dengan demikian kecerdasan spritual itu di butuhkan sebagai modal untuk mewujudkan rasa ke adilan masyarakat apapun Sukunya, Agamanya dan Rasnya sesuai dengan nilai nilai pancasila.

Jadi, buat apa membentuk Unit Kerja President Pembinaan Idiologi Pancasila ( UKP- PIP) kan orang akan kelihatan Pancasilais atau tidak ketika Dia berkuasa, sedangkan masyarakat biasa tidak bisa di nilai Mereka Pancasilais atau tidak Pancasilsis karena tidak bisa mempengaruhi kekuasaan politik, meskipun mereka memiliki kecerdasan Spritual.

Bagaimana caranya orang bisa dinilai bahwa Dia Memiliki kecerdasan Spritual dan Pancasilais ketika sedang berkuasa, Pertama Penista Agama jangan di lindungi, kedua, Korupsi E-KTP siapapun Dia harus di proses, korupsi Sumber waras dan Reklamasi harus diproses.

Jangan ganggu ulama yang berjuang menegakan ke adilan, Kembalikan Sistem Demokrasi sesuai dengan sila ke empat Pancasila, Kembalikan UUD45 ke Aslinya, cegah terjadinya tirani minoritas pada mayoritas, dan sebaliknya, cegah penguasaan tanah dan sumber daya alam dikuasai satu kelompok tertentu, hilangkan hambatan hambatan yang mempersulit rakyat. Hal-hal ini lah yang sedang terjadi di Indonesia.

Kalau betul betul penguasa politik memiliki kecerdasan Spritual dan Pancasilais berani tidak menyelesaikan persoalan bangsa di atas sekalipun Dia kehilangan Jabatannya? Pasti tidak berani kan?, kenapa ? ya itu kecerdasan Spritual dan nilai nilai Pancasila tidak mereka miliki.

Demikian juga harus di ingat bahwa Bangsa Indonesia serta terbentuknya NKRI di mana di dalamnya ada Pancasila dan UUD45 di lahirkan dari kecerdasan spritual Aqidah dan Syariah Islam yang di yakini betul oleh para Ulama dan Umat serta tokoh tokoh Islam bahwa hanya dengan Kecerdasan Aqidah dan Syariah yang bisa mengalahkan Penjajah meskipun taruhannya nyawa.

Apalagi kalau taruhannya cuma jabatan, sehingga untuk bisa menjadi Pemimpin Rakyat Indonesia dibutuhkan orang yang memiliki kecerdasan Spritual karena hanya pemimpin yang memiliki kecerdasan Spritual yang bisa memberikan rasa keadilan sosial dan ekonomi, mengangkat martabat bangsa Indonesi serta menjadikan Negara Indonesia kuat meskipun taruhannya nyawa dan jabatannya.

Seharusnya dan mutlak bahwa Kemerdekaan , Pancasila, UUD45 seharusnya menjadi landasan keseimbangan pembangunan bangsa yang dilaksanakan oleh orang orang yang memiliki kecerdasan spritual, dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Kemerdekaan, Pancasila dan UUD45 ke dalam kerangka pembangunan Nasional.

Bisa dibayangkan betapa rusaknya Bangsa dan Negara ini jika kekuasaan berada pada orang orang yang tidak memiliki Agama, tidak memiliki kecerdasar Spritual, Sekuler, menjauhkan agama dari Negara dan Politik, maka UU dan keputusan pembangunan Bangsa pasti bertentangan dengan nilai nilai Sila sila Pancasila.

Akibatnya, Pembangunan yang di realisasikan dalam bentuk pembangunan nyata berupa keadilan ekonomi, sosial, hukum dan politik hanya akan melahirkan generasi materialisne, hedonisme dan generasi putus asa. Disamping itu alangkah tidak adilnya jika Umat Islam dan Ulama yang telah membuahi kemerdekaan Bangsa Indonesia hingga terbentuknya NKRI menjadi kelompok masyarakat yang tidak memiliki kedaulatan pada Anak kandungnya sendiri.

Oleh karena itu kedaulatan harus di isi oleh orang orang yang memilki kecerdasan spritual, termasuk pada infrastruktur demokrasi untuk menjamin bahwa nilai nilai sejarah Kemerdekaan, Pancasila dan UUD45 tidak di belokan menjadi kapitalistik Sekularistik yang pada ahirnya akan melahirkan kolonialisme obsolut.

Sejarah mengingatkan kita bahwa awal mula masuknya VOC ke nusantara bertujuan untuk menguasai perdagangan rempah rempah, serta monopoli perdagang termasuk menguasai pelabuhan pelabuhan kapal. Disamping itu VOC juga menguasai dan menekan kerajaan kerajaan nusantara.

Dari bertujuan motif ekonomi dengan menguasai dan memonopoli perdagangan rempah rempah dari tahun 16002-1800. Kemudian Belanda resmi menjajah Nusantara 1800-1950, hanya bermodalkan kecerdasan Spritual yang berdasarkan keyakinan Aqidah dan Syariah belanda di kalahkan para pejuang Islam, Ulama dan tokoh tokoh muslim dan Nasionalis mereka bisa memerdekan bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia saat ini setelah amandemen UUD45?, di zamannya President Soeharta Perbankan milik Asing di Indonesia hanya 3%, tapi hari ini Bank milik Asing di Indonesia sudah mencapai 62%. Saat ini 80 % tanah di Indonesia telah dikuasai oleh kelompok tertentu, perkebunan, tambang, pembangkit listrik, property, Peternakan, beras, gula, terigu, semen, perkebunan, textil dan garment, perkapalan, Pembangunan reklamasi pantai utara yang hanya di kuasai itu itu saja telah di kuasai, bukan lagi milik negara, apalagi milik rakyat.

Kalau VOC hanya menguasai perdagangan rempah rempah bisa menjajah Indonesia 350 tahun, lalu bagaimana dengan kondisi sekarang?, oleh karena itu dibutuhkan pemimpin politik bangsa yang memiliki kecerdasan Spritual dan Pancasilais agar berani untuk bisa mengembalikan kekayaan Negara yang saat ini terkonsentrasi pada beberapa kelompok tertentu saja kepada Negara dan digunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Hanya Pemimpin politik yang memiliki kecerdasan Spritualah yang bisa mewujudkan rasa keadilan rakyat sesuai dengan nilai nilai pancasila, sekali lagi saya menyampaikan bahwa kalau kita ingin melihat seseorang itu memiliki kecerdasan Spritual serta Pancasilais lihatlah ketika Dia sedang berada pada puncak kekuasaan Politik atau Dia sedang memiliki kekuasaan politik Negara. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.