Selasa, 10 Desember 19

Melihat Kepemimpinan Jokowi dari Kebudayaan Jawa

Melihat Kepemimpinan Jokowi dari Kebudayaan Jawa

Jakarta – Anom S Putra, Ketua Presidium Jaringan Santri Indonesia yang merupakan pendukung Joko Widodo (Jokowi) mengungkap rahasia kepemimpinan yang dimiliki ‎Jokowi dalam perspektif kebudayaan leluhur suku Jawa.

Menurutnya pelaksanaan Pemilu Presiden 2014, menjadi sejarah baru bagi Jokowi untuk bisa memimpin Indonesia selama lima tahun kedepan. Banyak hal yang bisa dikaitkan antara gaya kepimpinan yang dimiliki oleh Jokowi dengan tradisi yang berlaku dalam kebudayaan Jawa. Terlebih Jokowi adalah keturunan Jawa asli.

Anom mengatakan, ‎Jokowi terlahir dalam keadaan Wuku Sungsang. Wuku Sungsang merupakan simbol pembalikan situasi (“sungsang”) terhadap kondisi demokrasi prosedural yang carut-marut.

“Jokowi terlahir pada tanggal 21 Juni 1961. Dalam kalender jawa, beliau masuk dalam weton Rabu Pon yang cenderung pendiam, pemomong dan penyabar, tetapi jalan pikirannya tak-jarang akan berbeda dengan pandangan umum,” ujarnya dalam siaran pres yang diterima oleh wartawan, Senin (21/7/2014).

Seperti halnya, dalam konteks pemikiran Jokowi mengenai pemberdayaan masyarakat desa, mengenai pengolahan sawah dan lahan perkebunan. Ia mengajukan pandangan pentingnya irigasi sebagai faktor pendahulu dan dilanjutkan dengan kebijakan ketersediaan lahan persawahan.

Bagi pandangan teknokratik, ketersediaan lahan akan menjadi pilot project utama, sedangkan dilain pihak Jokowi mengajukan sumber air dan irigasi sebagai faktor kebijakan utama. Ini menunjukkan karakter Jokowi yang lebih dekat kepada unsur air ketimbang unsur tanah.

“Dalam konteks sangawara/padangon, Jokowi memang berunsur air (Tulus; bhs jawa) sehingga alam bawah sadarnya secara spontan melonjakkan pentingnya air dan baru dilanjutkan dengan tanah‎,” katanya.

Ide-ide itu muncul, menurut Anom karena latar belakang Jokowi, yang pernah kuliah di jurusan kehutanan di UGM, dan terlahir di pedesaan yang kaya dengan sumber daya alamnya. Oleh karenanya kondisi alam bawah sadar tentang ke-diri-annya lebih dominan untuk ditunjukkan ke hadapan publik.

Perhitungan wuku terhadap kelahiran Jokowi adalah wuku sungsang. Simbol dalam wuku sungsang antara lain ialah “pohonnya tangan”.  Artinya ia menyukai kegiatan dan tidak mau berada dalam keadaan menganggur. Ini mencerminkan alam bawah sadar Jokowi bahwa tindakan blusukan yang ia lakukan bukanlah tindakan “by design”, tetapi suatu tindakan yang lama mengendon sejak kelahirannya di bulan Suro tahun 1951 lalu.

Mirip Gaya Kepemimpinan Majapahit

Jika dilihat lebih dalam, Anom justru mengibaratkan pola kepemimpinan Jokowi mirip dengan gaya kerajaan Majapahit yang pernah ditulis oleh Mpu Prapanca yang menyebut “blusukan” adalah kebiasaan yang dilakukan oleh raja-raja Majapahit untuk pergi ke desa-desa. Hal itu tertulis dalam dalam kitab Negarakertagama.

“Tindakan “blusukan” juga dilakukan oleh Gus Dur selama menjadi Presiden. Tujuannya sama, para pemimpin akan memperoleh ketajaman pikir (lantiping pikir), rasa (lantiping rasa) dan pengetahuan (lantiping kawruh),” terangnya.

Selain itu, Anom juga mengkritik anggapan Jokowi sebagai Capres Boneka, dan tindakan Jokowi yang pernah mencium tangannya Megawati. Menurutnya dalam konteks kepemimpinan Jawa justru itu bagian dari simbol penghormatan antara anak dengan orang tua. “Mikul Duwur Mendem Jero”.

“Cium tangan Jokowi kepada Megawati sebenarnya adalah simbol  orang yang lebih muda untuk menghormati kepada orang yang lebih tua dan kesiapan untuk memperoleh tugas dari orang yang lebih tua,” jelasnya.

Tugas‎ kepemimpinan nusantara diistilahkan dengan Tunggak Semi atau tumbuhnya tunas baru. Istilah ini juga digunakan dalam keris berpamor tunggak semi yang ditandai dengan pamor awal di bagian sor-soran dan pamor lain yang terbentuk ke pucuk-panitisan.

Karakter penting dalam perlu dikelola dalam situasi politik yang panas adalah parasan. Parasan Jokowi adalah Lakuning Rembulan. Ini mensimbolkan “paras” Jokowi dianggap seperti bulan di malam hari. Dingin, sejuk, dan membuat tentram hati orang.

“Sulit dibayangkan jika calon pemimpin itu berkarakter Satrio Wirang dimana ia harus berkali-kali melakukan tapa atau meditasi untuk mengatasi hawa panas dalam dirinya,” jelasnya.

‎Pelaksanaan Pilpres pada 9 Juli 2014 juga dinilai sebagai  juga sebagai hari Sarikagung. Hari Sarikagung sebenarnya merupakan hari yang terburuk untuk pengambilan keputusan politik. Situasi akan diliputi saling tuding dan naas bagi individu yang mudah terbakar emosi.  Ia mencontohkan fenomena lain adalah kenaasan pesawat Garuda Boeing 737-400 jatuh di Jogjakarta dan tepat pada hari Sarikagung (Rabu Pon 9 Mei 2012).

Begitupula tanggal 22 Juli 2014 sebagai hari Sangar yang amat naas bagi individu yang berkarakter panas. Tanggal 21 dan 22 Juli 2014 masuk dalam situasi hari yang kurang lebih sama dengan perhelatan 9 Juli 2014 yang jatuh pada hari Sarikagung. Kedua hari tersebut yakni hari Sarikagung (9 Juli 2014) dan hari Sangar (22 Juli 2014) akan memunculkan efek-efek membara di mata, rasa dan pengetahuan kepada individu-individu. Situasi “Kala” mempengaruhi kemunculan karakter pemarah, suka berbohong dan suka mengganggu orang lain.

“Manipulasi beberapa lembaga “quick count”, bully terhadap stasiun TV dan jatuhnya saham TV tertentu adalah sekedar contoh “Bethara Kala” di hari naas Sarikagung pada tanggal 9 Juli 2014,” terangnya.

‎Namun demikian, Anom menyadari Jokowi terlahir sungsang. Yang juga punya watak yang tegas (sungsang mega mendhung). Akan tetapi faktor psikologis dominan dari Jokowi yang akan muncul adalah parasan “Lelakuning Rembulan”. Karakter yang disimbolkan sebagai bulan di malam hari itu akan mendinginkan suasana yang sangat panas, baik pada tanggal 9 Juli 2014 maupun 22 Juli 2014.

Kemudian, lebih lanjut Anom mengatakan, bagi masyarakat Jawa yang mempelajari dan mempraktekkan simbol-simbol dalam ilmu pawukon tentu akan lebih melakukan semadi, meditasi, tapa dan puasa untuk mengatasi efek-efek negatif hari-hari naas tersebut. Oleh karenanya, seruan Jokowi agar para relawan “tidak keluar ke jalan” sangat penting untuk dimaknai sebagai tindakan penghindaran atas efek negatif dari hari Sangar 22 Juli 2014.

“Hari Sangar adalah hari yang tidak baik untuk melakukan segala kegiatan, apalagi kegiatan yang bersifat politis saling-tuding,” katanya.

Satu hal menarik dalam karakter Wuku Sungsang adalah “semakin ia dianiaya, maka semakin muncul pembalikan situasi yang menguntungkan peluangnya”. Situasi Pilpres di alam maya, media sosial dan obrolan-obrolan demokrasi prosedural di stasiun televisi, nantinya akan terwarnai oleh pembalikan situasi.

Pembalikan situasi itu antara lain, misalnya, hasil “quick count” pada hari naas Sarikagung 9 Juli 2014 akan terseleksi derajat kebenarannya pada hari Sangar 22 Juli 2014. Pihak yang manipulatif dalam statistika politik akan terhukum oleh semesta. Nasibnya akan semakin terpuruk tanpa terketahui oleh siapapun, kecuali oleh dirinya sendiri.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.