Senin, 27 Januari 20

Melacak Aktivitas Gunung Anak Krakatau Sampai Akhirnya Tsunami

Melacak Aktivitas Gunung Anak Krakatau Sampai Akhirnya Tsunami
* Gunung Anak Krakatau (Foto Istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com – Indonesia kembali dilanda bencana tsunami, kali ini tsunami terjadi di Selat Sunda dan menerjang tiga wilayah yakni Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten Serang. Bukan karena gempa dugaan kuat tsunami terjadi karena ada erupsi Gunung Anak Krakatau.

Gunung Anak Krakatau memang menjadi Gunung teraktif di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir gunung ini sudah menunjukkan aktivitas erupsi yang mengerikan. Sehingga dampaknya bisa memicu tsunami seperti yang terjadi pada Sabtu malam (22/12/2018).

 

Baca juga:

Tak Ada Alat Deteksi Dini Tsunami Berujung Korban Jiwa

Dunia Berduka Atas Bencana Tsunami Selat Sunda

Belum Pasti Penyebabnya, Tsunami di Selat Sunda Peristiwa Langka

Jokowi Sampaikan Duka Cita untuk Korban Tsunami Selat Sunda

 

Meski Gunung Anak Krakatau sejak pertama kelahirannya sudah menunjukan sebagai gunung aktif. Namun cacatan aktivis erupsi gunung ini bisa diliat dari beberapa tahun terakhir. Berikut data yang kami rangkum.

1. 2013 Gunung Anak Krakatau Mulai Muncul ke Permukaan Laut

Gunung Anak Krakatau adalah gunung api strato tipe A atau gunung api yang terbentuk karena letusan Ekstrusi (Erupsi) Ekslposif dan Ekstrusi (Erupsi) Efusif secara terus-menerus dan saling bergantian.

Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda ini, merupakan gunung api muda yang muncul dalam kaldera atau fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik, pasca-erupsi paroksismal pada 1883 dari kompleks vulkanik Krakatau.

Aktivitas erupsi setelah pembentukan dimulai sejak 1927. Pada saat itu, tubuh gunung api masih di bawah permukaan laut. Namun, pada 2013, tubuh Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan laut.

Sejak saat itu hingga kini, Gunung Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi, yang artinya membangun tubuhnya hingga besar.

2. Mulai Meletus Juni 2016

Gunung Anak Krakatau memiliki elevasi tertinggi yaitu 338 meter dari muka laut. Pengukuran tersebut dilakukan pada September 2018 lalu. Karakter letusannya adalah erupsi magmatik, yang berupa erupsi eksplosif lemah (strombolian) dan erupsi epusif berupa aliran lava.

Pada 20Juni 2016, Gunung Anak Krakatau meletus. Sedangkan pada pada 19 Februari 2017 meletus berupa letusan strombolian. Lalu pada 29 Juni 2018 meletus kembali. Sejak itu sampai saat ini, letusan Gunung Anak Krakatau berupa letusan strombolian.

3. Radius Bahaya Gunung Anak Krakatau Makin Luas

Letusan pada 2018 terjadi karena diawali dengan munculnya gempa tremor dan peningkatan jumlah gempa hembusan dan low frekuensi pada 18-19 Juni 2018.

Gempat tremor sendiri adalah gempa yang bisa mengindikasikan adanya aktivitas vulkanik di gunung api. Jika gempa tremor terjadi, maka bisa diprediksi dalam beberapa jam selanjutnya gunung api akan segera meletus.

Sementara gempa hembusan adalah salah satu tipe gempa yang sumbernya ada di dekat permukaan.Sejak itu, jumlah gempa hembusan yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau terus meningkat, dan akhirnya pada 29 Juni 2018, Gunung Anak Krakatau meletus.

Lontaran material letusan sebagian besar jatuh di sekitar tubuh Gunung Anak Krakatau atau kurang dari 1 km dari kawah. Dan sejak 23 Juli 2018, teramati lontaran material pijar yang jatuh di sekitar pantai, sehingga radius bahaya Gunung Anak Krakatau diperluas dari 1 km menjadi 2 km dari kawah.

4. Aktivitas Gunung Anak Krakatau Waspada

Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terbaru kembali terjadi pada 22 Desember 2018. Sabtu malam kemarin, Gunung Anak Krakatau meletus. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300-1500 meter di atas puncak kawah. Sementara, terekam juga gempa tremor dengan amplitudo overscale berkisar 58 mm.

Berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB), potensi bencana erupsi Gunung Anak Krakatau, menunjukkan hampir seluruh tubuh Gunung Anak Krakatau yang berdiameter kurang lebih 2 km, merupakan kawasan rawan bencana.

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental, hingga 23 Desember 2018, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tetap Level II (Waspada). Sehubungan dengan status Level II (Waspada) tersebut, PVMBG melarang masyarakat mendekati Gunung Krakatau dalam radius 2 km dari kawah.

5. Tsunami di Selat Sunda

Terkait dengan tsunami yang terjadi di Selat Sunda ini, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, tsunami terjadi akibat longsor bawah laut yang disebabkan oleh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan gelombang pasang akibat peristiwa bulan purnama.

“Jadi kalau statement yang disampaikan BMKG faktor penyebab tsunami adalah longsoran bawah laut yang disebabkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau, yang kebetulan terjadi bersamaan dengan gelombang pasang karena bulan purnama,” ungkap Sutopo di Yogyakarta, Minggu (23/12). (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.