Senin, 29 November 21

Mega Mengaku Bangga Jadi Ketua Umum Orang Miskin

Mega Mengaku Bangga Jadi Ketua Umum Orang Miskin
* Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDi-P) Megawati Soekarnoputri berorasi di depan para kadernya. (Foto: FB Megawati)

Jakarta, obsessionnews.com – Megawati Soekarnoputri mewarisi darah politik ayahnya, Presiden pertama Republik Indonesia  Ir Soekarno atau yang populer dengan sebutan Bung Karno. Sejak mahasiswa, saat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Mega selalu aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Baca juga:

Berembus Kabar Megawati Soekarnoputri Akan Turun Tahta

FOTO Penganugerahan Gelar Doktor HC Megawati Soekarnoputri di IPDN

Tahun 1986 Mega mulai masuk ke dunia politik, sebagai wakil ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Cabang Jakarta Pusat. Karier politiknya terbilang melesat. PDI mengklaim sebagai partai wong cilik.

Pada Pemilu 1987 Mega bersama adiknya, Guruh Soekarnoputra, terpilih menjadi anggota DPR periode 1987-1992.

Dalam Kongres Luar Biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya 1993, Mega terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI.

Tetapi rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto tidak puas dengan terpilihnya Mega sebagai Ketua Umum PDI. Mega kemudian didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

Mega tidak menerima pendongkelan dirinya dan tidak mengakui Kongres Medan. Ia masih merasa sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Kantor dan perlengkapannya pun dikuasai oleh pihak Mega. Pihak Mega tidak mau surut satu langkah pun. Ia dan para pendukungnya tetap berusaha mempertahankan kantor DPP PDI. Namun, Soerjadi yang didukung pemerintah memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI yang terletak di Jalan Diponegoro.

Ancaman Soerjadi kemudian menjadi kenyataan. Tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Aksi penyerangan yang menyebabkan puluhan pendukung Mega meninggal itu berbuntut pada kerusuhan massal di Jakarta yang dikenal dengan nama Peristiwa 27 Juli. Kerusuhan itu pula yang membuat beberapa aktivis mendekam di penjara.

Peristiwa penyerangan kantor DPP PDI tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, ia makin mantap mengibarkan perlawanan. Ia memilih jalur hukum, walaupun kemudian kandas di pengadilan. Mega tetap tidak berhenti. Tak pelak PDI pun terbelah menjadi PDI di bawah Soerjadi dan PDI pimpinan Mega. Pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Namun, massa PDI lebih berpihak pada Mega.

Keberpihakan massa PDI kepada Mega makin terlihat pada pemilu 1997. Perolehan suara PDI di bawah Soerjadi merosot tajam. Sebagian massa Mega berpihak ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang kemudian melahirkan istilah “Mega Bintang”. Mega sendiri memilih golongan putih (golput) saat itu.

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Demikian juga dengan kekuasaan.  Akibat unjuk rasa besar-besaran yang dilakukan oleh massa dari berbagai elemen Presiden Soeharto akhirnya mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Ia terpental dari kursi kepresidenan yang didudukinya selama 32 tahun. Mundurnya Soeharto itu mengakhiri kekuasaan Orde Baru.

Indonesia memasuki babak baru: era reformasi. Pengganti Soeharto, yakni BJ Habibie, membuat sejumlah reformasi di bidang politik. Antara lain pemerintah mengizinkan berdirinya partai politik-partau politik baru. Sebelumnya di era Orde Baru hanya terdapat tiga partai politik, yakni Golkar, PPP, dan PDI.

Pada Pemilu 1999, yang merupakan pemilu pertama di era reformasi, PDI Mega yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan berhasil memenangkan pemilu.

Mega merupakan ketua umum partai politik terlama di Indonesia di era reformasi. Hal ini menunjukkan dia dicintai oleh kader-kadernya.

Dalam postingannya di laman Facebook Bu Mega Bercerita, Mega mengaku bangga menjadi ketua umum orang miskin.

Berikut ini tulisan Presiden kelima RI itu di laman Facebook Bu Mega Bercerita:

Pernah ada yang bertanya seperti ini ke saya:

“Ibu kok mau jadi Ketua Umum orang miskin, sandal jepit, rakyat yang bodoh?”

Saya bilang:”Saya bangga jadi Ketua Umum mereka. Karena saya tahu sebagai pemimpin, meskipun mereka dibilang bodoh, sebenarnya tidak. Karena tidak dibuka ruang, harapan, bahwa sebenarnya mereka adalah manusia biasa yang bisa menjadi pemimpin di kemudian hari.” (red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.