Selasa, 26 Oktober 21

Media Diimbau Tak Berlebihan Beritakan Perang Tagar

Media Diimbau Tak Berlebihan Beritakan Perang Tagar
* Diskusi Polemik Tagar. (Foto / Obsessionnews).

Jakarta, Obsessionnews.com – Perang tagar #2019gantipresiden dan #Jokowi2periode masih panas terjadi di masyarakat antara masa pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan masa pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. Mirisnya perang tagar yang tadinya terjadi di dunia maya sekarang terjadi di dunia nyata di kedua kubu bentrok.

Direktur Eksekutif Indonesia New Media Watch Agus Sudibyo mengimbau perang tagar tidak perlu direspons secara berlebihan oleh media. Sebab, persoalan itu hanya akan memperkeruh suasana batin masyarakat. Demikian juga dianggap tidak terlalu menguntungkan media. Terlebih jika media tersebut sudah jelas-jelas mendukung salah satu pasangan calon.

“Perang tagar itu tak perlu direspons secara berlebihan oleh media. Karena selain akan menambah keruh suasana, juga tidak terlalu banyak menguntungkan media, apalagi kalau medianya arahnya sudah mendukung salah satu pasangan calon,” ujar Agus dalam diskusi polemik tagar di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (12/9/2018).

Menurutnya, media yang sudah mendukung salah saya pasangan calon hanya akan disukai oleh satu pihak. Padahal mestinya media berpikir untuk merangkul semua kelompok golongan. Bisa jadi, kata dia, media yang terlalu gencar mendukung pasangan calon kuat secara politik. Namun lemah secara finansial.

“Kalau terlalu keras pemberitaanya bisa jadi media itu kuat secara politik. Tapi lemah secara finansial karena hanya disukai oleh salah pihak dari media yang didukung,” jelasnya.

Agus mengungkapkan, modal kuat dari bisnis media adalah iklan. Tanpa iklan media sulit bertahan. Sedangkan perusahaan-perusahaan besar kini sangat hati-hati dalam melihat situasi politik jelang Pilpres. Mereka tidak akan sembarangan memasang iklan yang tidak memberikan keuntungan. Kondisinya ini kata dia, yang mestinya dipikirkan media.

“Saat masyarakat sudah jenis dengan media yang terlalu ekstrem mendukung salah satu pasangan calon. Perusahaan tentu akan memilih media yang dianggap lebih netral, karena penontonnya masih cucup banyak,” jelasnya.

Diskusi juga menghadirkan dua kubu baik pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga dan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Zuhairi Wisrawi, anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, mengatakan, Gerakan Ganti Presiden yang digagas kelompok oposisi hanya akan menebar kebencian di masyarakat. Dan mendahului masa kampanye.

Sementara itu Wasekjen Partai Gerindra Andre Rosiade menyatakan Gerakan Ganti Presiden tidak ada yang salah, tidak menyalahi aturan, bukan gerakan makar. Ia menyayangkan kenapa gerakan itu selalu dilarang, sementara gerakan mendukung Jokowi 2 periode selalu diizinkan dan mendapat banyak ruang.

“Ini kan jelas sejak awal pemerintah tidak adil. Tidak bisa bersikap bijak, menggunakan alat negara dalam hal ini polisi untuk melindungi kepentingan penguasa. Kaya begini tidak perlu anaslisis yang tajam diri seorang profesor. Masyarakat awam pun sekarang sudah tidak buta politik,” jelasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.