Sabtu, 29 Januari 22

Maya Angelou Melawan Rasisme dengan Puisi

Maya Angelou Melawan Rasisme dengan Puisi
* Maya Angelou (1928-2014). (Foto: grid.id)

Jakarta, Obsessionnews.com – Marguerite Annie Johnson, dengan sapaan populernya Maya Angelou (1928-2014) adalah seorang penulis puisi dan skenario, orator, dan aktris Afrika-Amerika. Ia lahir pada 4 April 1928 di St. Louis, Missouri.

Dia adalah wanita Afrika-Amerika pertama yang diminta untuk membacakan puisi karyanya dalam perhelatan pelantikan pertama William Jefferson Clinton/Bill Clinton (1993-2001) sebagai Presiden Amerika Serikat, pada 20 Januari 1993. Puisi dengan judul One the Pulse if Morning itu mendapatkan penghargaan Grammy Awards pada tahun yang sama.

Melalui pembacaan puisinya di muka umum, Angelou menjadi penyair kedua dalam sejarah Amerika Serikat, yang membacakan puisi dalam pelantikan presiden, dan perempuan keturunan Afrika-Amerika pertama. 

Sementara Robert Lee Frost  (1874-1963) merupakan seorang penyair Amerika Serikat yang paling besar. Karyanya sebagian besar menggambarkan tentang kehidupan pedesaan di New England, wilayah sebelah timur laut Amerika Serikat. 

Ia juga menuliskan puisinya dengan tema-tema sosial dan filsafat yang memberinya empat kali penghargaan Pulitzer. Robert Lee Fros merupakan penyair pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang membacakan puisi dalam pelantikan Presiden John Fitzgerald Kennedy (1961-1963) padan 20 Januari 1961. 

Terlepas dari itu, puisi Maya Angelou yang berjudul : ‘Still I Rise’ (1978) merupakan salah satu puisinya yang  mengangkat isu ras yang terjadi di Amerika Serikat. Tidak salah, jika dikatakan dia melawan rasisme melalui puisi. 

Puisi ini menceritakan tentang orang-orang yang berani bangkit berada di bawah tekanan dan penganiayaan orang kulit putih. Puisi ini yang menjadi perwakilan Google Doodle dan sebelumnya pada 1994 Nelson Rolihlalah Mandela (1994-1996) pernah membacakannya di hadapan publik. 

Berikut puisinya :

Puisi ‘Still I Rise’ (1978)

Anda bisa menulis saya dalam sejarah

Dengan kebohonganmu yang pahit dan bengkok,

Anda bisa menginjak tanah saya

Tapi tetap saja, seperti debu, aku akan bangkit.

Apakah sassiness saya membuat Anda kesal?

Kenapa kamu diliputi kesuraman?

Karena aku berjalan seperti aku punya sumur minyak

Memompa di ruang tamuku

Sama seperti bulan dan seperti matahari,

Dengan kepastian arus pasang surut,

Sama seperti harapan bermunculan tinggi,

Masih saya akan bangkit.

Apakah Anda ingin melihat saya rusak?

Menunduk kepala dan menurunkan mata?

Bahu jatuh seperti tetesan air mata.

Terlambat oleh tangisanku yang penuh perasaan.

Apakah kesedihan saya menyinggung perasaan Anda?

Tidakkah kamu menganggapnya sangat sulit?

Karena aku tertawa seperti aku punya tambang emas

Diggin ‘di halaman belakangku sendiri.

Anda bisa menembak saya dengan kata-kata Anda,

Anda bisa memotong saya dengan mata Anda,

Anda bisa membunuh saya dengan kebencian Anda,

Tapi tetap saja, seperti udara, saya akan bangkit.

Apakah keseksian saya membuatmu kesal?

Apakah ini mengejutkan?

Bahwa aku menari seperti aku punya berlian

Pada pertemuan pahaku?

Keluar dari gubuk rasa malu sejarah

Aku bangkit

Dari masa lalu yang berakar dalam kesakitan

Aku bangkit

Aku samudera hitam, melompat dan melebar,

Welling dan bengkak aku beruang di air pasang.

Meninggalkan malam teror dan ketakutan

Aku bangkit

Ke sebuah fajar yang sangat menakjubkan

Aku bangkit

Membawa hadiah yang diberikan nenek moyang saya,

Akulah mimpinya dan harapan sang budak.

Aku bangkit

Aku bangkit

Aku bangkit. 

Perjalanan hidupnya ternyata tidak sebaik namanya dalam kenangan masyarakat dunia. Ketika orangtuanya bercerai, Maya dan kakak laki-lakinya tinggal bersama sang nenek selama beberapa tahun.

Pada 1936, Maya mengalami hal terburuk dalam hidupnya. Ia diperkosa oleh kekasih ibunya yang kemudian orang itu dibunuh oleh pamannya. Akibat kematian orang tersebut, Maya menjadi bisu dan sulit berbicara selama lima tahun.

Peristiwa ini kemudian menjadi tonggak kebangkitan Maya untuk tumbuh menjadi sosok yang intelektual dan kreatif. Ia memulai kembali hidupnya dengan menjadi seorang ibu, konduktor streetcar perempuan dan kulit hitam pertama di San Francisco. Maya juga berkeliling dunia sebagai anggota pemeran opera Porgy dan Bess. Hal ini membuatnya menguasai beberapa bahasa.

Selain itu, ia juga bekerja sebagai wartawan di Afrika dan menjadi salah satu aktivis hak-hak sipil paling terkemuka pada masanya.

Beberapa pengalaman hidupnya membuatnya tergugah untuk menuangkan ke dalam tulisan. Maya pun mulai menulis dan telah menerbitkan beberapa judul buku. Sebagian dari bukunya berisi tentang kejadian-kejadian yang pernah ia alami.

Beberapa judul buku yang pernah ia tulis diantaranya I Know Why the Caged Bird Sings (1970), Gather Together in My Name (1974) dan A Song Flung Up to Heaven (2002).

Selain sebagai penulis buku, Maya Angelou juga menjadi seorang penulis skenario. Ia menjadi wanita kulit hitam pertama yang menulis skenario dan diproduksi menjadi film dengan judul Georgia, Georgia pada 1971.

Maya Angelou dianggap sebagai sosok yang begitu spesial di mata dunia, khususnya bagi masyarakat Amerika Serikat sendiri.

Salah satu kuote dari Maya Angelou yang terkenal adalah: “Saya telah belajar bahwa orang akan melupakan apa yang anda katakan, orang akan melupakan apa yang anda lakukan, tetapi orang tidak akan pernah melupakan bagaimana anda membuat mereka merasa”.

Melalui semboyan itulah, Maya akhirnya bisa membuktikan bahwa ia mampu menuangkan pikiran dan rasanya ke dalam sebuah karya. Hingga kini, namanya masih dikenang masyarakat dunia dan abadi dalam tulisan. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.