Jumat, 27 Mei 22

Matoh! Bojonegoro Berbagi Kisah Sukses di Seoul Human Right City Forum 2016

Matoh! Bojonegoro Berbagi Kisah Sukses di Seoul Human Right City Forum 2016
* Rahmat Junaidi di Seoul Human Right City Forum 2016.

Seoul, Obsessionnews.com – Bojonegoro mendunia? Itu biasa. Bupati Bojonegoro, Suyoto atau Kang Yoto, bahkan menjadi kepala daerah asal Indonesia yang paling sering bolak-balik bicara soal tata kelola pemerintahan yang baik, kota ramah HAM, hingga pembangunan berkelanjutan.

Kali ini, Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Bojonegoro, Rahmat Junaidi, yang berbagi kisah soal perjalanannya membawa Bojonegoro ke pentas dunia. Rahmat mendapat kesempatan berbicara di hadapan sekitar 500 lebih delegasi negara-negara peserta Seoul Human Right City Forum 2016.

Pada forum yang dihelat 4-6 Desember 2016 itu, selain memperkenalkan Bojonegoro yang sukses melakukan pembangunan, Rahmat juga mengajak peserta untuk memerangi kemiskinan dengan lebih konkret, menghilangkan kelaparan yang melanda seluruh umat manusia, dan berusaha terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pendidikan.

“Saya kemukakan juga bagaimana kami (Pemkab Bojonegoro) selama ini bekerja untuk membangun infrastruktur yang memadai dan jauh dari korupsi, mengimplementasikan kesetaraan gender dan masyarakat yang adil secara nyata, menjaga lingkungan, membentuk pemerintahan yang bersih dan taat hukum, serta kerjasama yang menguntungkan rakyat,” ungkap Rahmat dalam keterangan tertulisnya kepada Obsessionnews.com, Rabu (7/12/2016).

Menurut Rahmat, keterlibatannya dalam acara itu disebabkan adanya perhatian positif dari dunia internasional kepada Kabupaten Bojonegoro. Selama ini Pemkab Bojonegoro diketahui telah melaksanakan pembangunan dengan sangat sistematis yang diawali dari pelaksanaan Bojonegoro yang ramah HAM. Implementasi dari program itu adalah dengan melaksanakan Gerakan Desa Sehat dan Cerdas serta pembangunan yang sangat Inklusif di Bojonegoro.

“Inklusif di sini mencakup inkusif di dunia pendidikan, pengelolaan migas, hingga pelayanan kesehatan dengan dana Jamkesda yang begitu besar. Hasilnya, Indeks Gini yang cukup ideal (hasil analisis BPS: 0.24) menunjukkan jauhnya ketimpangan antara masyarakat kaya dan miskin. Ini yang menjadi alasan lembaga Internasional kembali mempercayai Bojonegoro untuk mewakili Indonesia, untuk bercerita tentang ide-ide dasar ini kepada masyarakat Internasional,” ujarnya.

Kepada peserta, Rahmat juga menegaskan pengalamannya mendampingi Kang Yoto yang dinilainya telah berhasil memimpin Bojonegoro. Menurutnya, Kang Yoto mengawali pemerintahan yang terbuka dengan pendekatan kultural sesuai kebijakan lokal budaya rakyat Bojonegoro.

“Alhamdulillah, saya sangat senang karena ide dan paparan saya mendapat sambutan luar biasa. Bahkan, para peserta peserta menerimanya dan menjadikannya salah satu bagian dari Deklarasi Seoul yang dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2016 saat penutupan,” katanya. (Fath)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.