Rabu, 1 Desember 21

Masyarakat Madani Bangun Nurani

Masyarakat Madani Bangun Nurani

Oleh: Yunidar ZA, Pemerhati Perdamaian, Alumni Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta

Masyarakat madani sebenarnya merujuk pada kehidupan sosial kemasyarakat yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat di kota Madinah.  Sebuah masyarakat cita yang menjadi idaman bagi masyarakat sekarang, khususnya bagi kaum muslimin, karena pada masa awal pembangunan Nabi Muhammad SAW membangun tatanan suatu pemerintahan dan negara di Madinah dalam kehidupan insklusif keteraturan masyarakat baik yang muslim maupun yang non muslim semuanya tunduk dalam hukum yang setara.

 

Kota ini dibangun dengan hubungan yang jelas antara hubungan manusia dengan sesama manusia (makhluk) dan hubungan manusia dengan Tuhan, Allah SWT yang menciptakannya, hubungan yang harmonis saling mengisi nir kekerasan, saling tolong menolong dalam kebajikan. Bahkan juga tertanam suatu karakteristik nilai yang saling membantu dalam memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. terjalin suatu hubungan kemanusian kebersamaan yang dibangun di kota Madinah yang setara, egaliter.

 

Ketenangan masyarakat dalam arti memberikan keleluasaan kepada yang berbeda golongan, suku, ras dan pemeluk agama non Islam. Masing – masing dirasakan saling ketergantungan akan kedamaian, kesejahteraan. Khususnya dalam praktik agama Islam, semua yang berkaitan dengan ibadah kaum muslimin tidak ada pertentangan karena Rasulullah tempat bertanya dan mendapatkan kepastian hukum. Tidak ada pertentangan.

 

Sudah menjadi kodrat manusia sebagai makhluk penuh dengan konflik, ambisi dan kompetisi, nir kekerasan.

 

Dalam kehidupan nyata manusia sebagai makhluk sosial selalu merasa kekurangan, tidak bahagia, akan terus merasa gelisah, memikirkan memaksimalkan keuntungan, kadang lupa daratan, bahkan terjerumus dalam praktik kejahatan korupsi. Memang tidak ada sangkalan bahwa kota-kota besar sekarang yang kita diami berbeda sekali dengan kota Madinah yang penuh keberkahan. Oleh karenanya kita sebagai bangsa besar, Indonesia, merindukan kehidupan masyarakat madani.

 

Berbagai macam konsep dan teori diwacanakan, khususnya pasca reformasi 1998 untuk mencapai cita-cita kebahagiaan bersama, keteraturan bersama. Bahkan dalam pembangunan pun direncanakan sedemikian rupa dengan anggaran yang besar, namun ternyata manusia berkompetisi dan saling menarik pemikiran. Pembangunan untuk kesejahteraan akhirnya kemunafikan pembangunan. Janji-janji yang ditebarkan sebelum dipilih menjadi pemimpin kemudian dianulir sendiri, tidak dilaksakan, dan membuat  masyarakat kecewa.

 

Maniatur dibuat, segala perencanaan dengan para ahlinya membuat skema proses, namun tidak dilandasai dengan religiusitas berpikir, mengenyampingkan nilai-nilai moral, dan perintah agama, sehingga hasil pembangunan sekarang dapat kita lihat sendiri: alam dirusak, kebahagiaan kita bersama terabaikan, korban mengeluh keadilan sangat sulit didapatkan.

 

Nah, bagaimana keterlibatan masyarakat partisipasi untuk tergapainya masyarakat cita, masyarakat madani, tentu saja para pemimpin harus punya naluri kasih sayang terhadap masyarakat dan mengutamakan kepentingan umat. Tdak mementingkan kepentingan pribadi, kepentingan golongan, kelompoknya.

 

Sekarang saya ingin bertanya. Kota apa yang sedang kita pikirkan? Masyarakat yang bagaimana yang akan kita bangun, karakter, nilai, sikap, perilaku yang dapat saling menghargai, menegakkan nilai-nilai perdamaian, saling harga menghargai, dan disiplin dalam berbagai hak dan kewajiban?

 

Membangun kota seperti meletakkan pondasi peradaban. Bila dibangun dengan  kekuatan, pemaksaan, otoriter, akan hancur pada suatu ketika. Pembangunan moral dan karakterlah yang akan menjadikan peradaban untuk semua bangunan yang akan memperindah kota.

 

Manusia dengan ambisinya sebagai sifat dasar manusia yang terus melekat dan tidak pernah usang. Mengapa? Memang manusia dengan keserakahannya ingin melakukan perubahan dengan pikirannya dan cita-cita mereka yang mempunyai kekuasaan.

 

Kejahatan yang dilakukan yang dilakukan oleh siapapun tidak dapat lari. Ia akan berdiri sendiri dan mempertanggungjawabkan malah yang telah mereka semai. Bila terus melakukan kebatilan “bakhil” manajemen konflik kolot untuk membodohi rakyat. Atau dalam bahasa yang sederhana, mereka telah menipu fakta mengalihkan realitas yang sedang terjadi dalam masyarakat, tidak pernah dapat membangun perdamaian.

 

Jakarta khususnya sebagai kota besar, ibu kota negara Indonesia, pasca reformasi seyogyanya menjadi kota madani harapan semua manusia Indonesia dalam menggapai ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Bebas dari rasa takut dan lapar. Celakanya, Jakarta menjadi kota yang tidak ramah, konflik antar warga, tawuran anak sekolah, kriminalitas juga perebutan ekonomi yang tidak berkesudahan, ditambah kemacetan jalanan yang belum ada solusinya. Kita membutuhkan pemimpin bertangan dingin, sedikit bicara, kerja nyata, tangan-tangan yang “dingin” perduli terhadap kaum marginal, kemiskinan, empati kepada para kaum marginal. Mereka membutuhkan pemimpin peduli “lahir batin” untuk membangun kesejahteraan bersama.

 

Kembali ke kota yang dalam buku Mukaddimah Ibnu Khaldun untuk tercapainya kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik, layak di mana adanya suatu kehidupan yang bebas dari sifat-sifat yang tidak baik. Membangun selain dengan rasionalitas, kesadaran juga mengajak semua masyarakat ikut ambil bagian berpartisipasi menegakkan keadilan. Keadilan dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif harus mendapat perhatian serius. Suatu keniscayaan pula sumber keadilan bukan saja hukuman dan aturan. Tapi bagaimana memberikan yang terbaik untuk kehidupan masyarakat.

 

Akhirnya membangun masyarakat madani bukan hanya menegakkan peraturan dan perjanjian saja, akan tetapi jauh daripada itu membangun hati, membangun kebersamaan, membanguan keteraturan bersama, dan membangun kepercayaan. Tidak ada maknanya bila telah hilang kepercayaan dari masyarakat.

 

Keterlibatan semua  stake holder, kepedulian masyarakat menjadi penting dalam membangun nurani menuju masyarakat madani. Semoga kita dapat membangun  kesetaraan dan mewujudkan masyarakat madani di seluruh kota dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.