Selasa, 14 Juli 20

Masyarakat Inginkan Pimpinan Parpol Orang Muda

Masyarakat Inginkan Pimpinan Parpol Orang Muda

Jakarta – Regenerasi kepemimpinan partai politik (parpol) dianggap menjadi hal yang penting oleh masyarakat. Bahkan masyarakat menginginkan perlu memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh yang lebih muda untuk menjadi pemimpin Parpol.

Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hasan Nasbi mengatakan dari hasil survei yang dirilis oleh Cyrus Network dari 1-7 Desember 2014, secara umum 80 persen responden menginginkan agar parpol dipimpin oleh Ketua Umum partai yang berusia 41 – 50 dan 51 – 60 tahun. Selain itu, 61 persen responden menyatakan bahwa sebaiknya tokoh parpol yang berusia 60 tahun ditempatkan sebagai Dewan pembina.

“Sebagi Dewan Pembina, Dewan Pertimbangan atau Dewan Pertimbangan partai, bukan pengurus harian,” ujar Hasan disalah satu Cafe Jl Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Senin (15/12/2014).

Masih kata dia, survei menunjukkan hanya 48 persen responden yang masih menilai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarno Putri layak untuk melanjutkan kepemimpinan di PDIP. Namun, jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh PDIP lainnya dukungan terhadap Megawati untuk menjadi Ketua Umum hanya sebesar 16 persen.

“Lebih rendah dari Puan Maharani 18 persen dan Jokowi 26 persen,” kata Hasan.

Sedangkan, dalam konstituen PDIP sendiri dukungan terhadap Jokowi 28 persen, atau lebih tinggi dari Megawati sebesar 23 persen dan Puan Maharani 17 persen. Temuan ini, lanjut Hasan, mengindikasikan bahwa separuh pendukung PDIP mulai melihat bahwa regenerasi di partai ini adalah sesuatu yang penting untuk ditindaklanjuti.

Selain PDIP, hal yang sama juga terjadi di Partai Golkar. Menurut Hasan, publik menilai sebaiknya Aburizal Bakrie memberikan kursi ketua umum kepada kader Рkader yang lebih  muda.

“Hipotesisnya ibu Mega dan pak Aburizal sudah cukup lama di dunia politik, namanya sudah sering muncul. Selain itu mulai tersedia tokoh pengganti di PDIP dan Golkar,” Hasan mengatakan.

Namun, regenerasi ini dinilai belum perlu terjadi di Partai Demokrat dan Partai Gerindra. Sebab di dalam dua partai itu, belum ada nama tokoh yang mampu menggantikan kharisma ketua umumnya yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto. (Pur)

 

Related posts