Rabu, 13 November 19

Maskapai Asing Masuk RI Bisa Tingkatkan Daya Saing Industri Penerbangan

Maskapai Asing Masuk RI Bisa Tingkatkan Daya Saing Industri Penerbangan
* Ilustrasi maskapai asing. (Foto Heta News)

Jakarta, Obsessionnews.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengusulkan agar maskapai asing dapat masuk ke Indonesia agar tarif tiket pesawat dalam negeri yang saat ini tinggi bisa turun. Masyarakat pengguna transportasi udara mengeluhkan tingginya harga tiket pesawat yang diberlakukan oleh maskapai dalam negeri.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi setuju dengan usulan tersebut. Menurut Budi, saran Jokowi untuk memasukkan perusahaan maskapai asing bagus. Sebab, dengan bertambahnya pemain maka industri penerbangan bisa bersaing lebih baik. Namun dia menjelaskan bahwa izin perusahaan asing nantinya harus bekerja sama dengan entitas lokal.

“Saran presiden untuk maskapai asing, itu saran yang baik karena bukan asingnya, tetapi kompetisinya. Kompetisi itu kalau ada, maka ada keseimbangan baru demand and supply. Harga akan jadi lebih fair. Kalau supply sedikit, demand banyak, harga tinggi,” ungkap dia di kediamannya, Jakarta, Rabu (5/6/2019).

Hal ini sesuai dengan teori ekonomi, supply dan demand. Semakin banyak tersedianya pilihan maka semakin beragam harga yang ditawarkan, termasuk tersedianya harga ekonomis. Ia menjelaskan bila perusahaan maskapai asing mau masuk maka ada izin yang mesti dipatuhi, yakni bekerja sama dengan perusahaan lokal.

“Perusahaan mana pun terkait asing, harus 51%. Ownership (kepemilikan)-nya harus dengan orang lokal. Nggak mesti dengan orang yang punya bisnis penerbangan,” jelas dia.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan hal itu patut dicoba untuk memberi persaingan di dalam negeri. Meski nantinya ada risiko terjadinya kesulitan bersaing oleh maskapai. “Risiko apa, tentu maskapai penerbangan bisa berteriak. ‘huaa ini jadi susah’,” ungkap dia.

Hanya saja, Darmin menilai usulan tersebut bisa dipertimbangkan guna menurunkan harga tiket. Sebab, saat ini hanya terdapat dua pemain yang mengusai penerbangan di dalam negeri, yakni Garuda Indonesia dan Lion Air. Semakin banyak maskapai di dalam negeri maka harga tiket diharapkan bisa tertekan turun.

“Struktur pasar duopoli, Garuda dan Lion Air. Dia nggak akan bisa naikkan jauh-jauh karena saingan yang ada. Idenya adalah kalau struktur pasar cenderung memberikan power kekuatan di produsen maka jawabannya adalah undang saingannya supaya dia teken, turunkan harga itu dia,” terangnya.

“Sekarang pemerintah milih apa. Pemerintah tidak hanya pikir produsen tapi konsumen. Kenaikan itu tidak akan terjadi setajam itu kalau pasar nggak duopoli,” pungkas dia.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana Banguningsih Pramesti menjelaskan bahwa sebenarnya aturan di Indonesia sudah memungkinkan maskapai asing beroperasi di Indonesia. Namun ada persyaratan yang berlaku.

“Sebenarnya kalau di dalam UU kita UU Nomor 1 Tahun 2009 dan di Konvensi Internasional Chicago 1994 itu bahwa ada asas cabotage. Intinya yang menguasai wilayah kita ya orang kita, termasuk angkutan udara berjadwal,” terangnya.

Dalam pedoman itu, intinya maskapai asing tidak bisa serta merta beroperasi di Indonesia dengan tujuan menjaga kedaulatan. Namun ada cara agar maskapai asing masuk yakni dengan mendirikan badan usaha di Indonesia. “Yang dimaksud Pak Presiden maskapai asing itu sesuai dengan ketentuan yang berlaku di BKPM. Namanya maskapai asing boleh beroperasi di Indonesia tapi harus berbentuk badan usaha Indonesia dan itu diatur,” tambahnya.

Selain mendirikan badan usaha, perusahaan itu juga penguasaan sahamnya mayoritas harus pihak Indonesia atau minimal 51%. Seperti PT AirAsia Indonesia Tbk yang mana AirAsia Investment Ltd tercatat hanya menguasai 49%. “Kita tidak pernah menutup atau membatasi maskapai asing masuk tapi persyaratannya banyak,” tuturnya.

Persyaratan lainnya adalah, maskapai asing itu juga hanya memiliki minimal 5 pesawat yang sudah dibeli. Lalu ada batasan angka permodalan yang mumpuni sebelum beroperasi. Belum lagi persyaratan teknis seperti misalnya dari aspek keamanan dan lain sebagainya.

“Memang yang paling berat itu harus punya 5 pesawat. Kemudian kemampuan finansial yang mumpuni. Memang berat, seperti AirAsia X kan sudah tutup, itu karena mereka tidak kuat,” tambah Polana.

Menurut Polana aturan persyaratan-persyaratan itu tak perlu direvisi, sebab maskapai asing masih bisa masuk. Namun dia mengakui memang ada kemungkinan dengan bertambahnya pemain di industri penerbangan berjadwal di Indonesia bisa menekan harga tiket.

(Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.