Selasa, 27 September 22

Masih Banyak Pelaku Hoax Belum Tertangkap

Masih Banyak Pelaku Hoax Belum Tertangkap
* Aktivis Ratna Sarumpaet. (foto: Uzone)

Jakarta, Obsessionnews.comNampaknya kasus hoax dugaan penganiayaan aktivis Ratna Sarumpaet bakal berbuntut panjang. Pasalnya, Ratna menjadi tersangka kasus tersebut setelah dia tertangkap di bandara Soekarno Hatta diduga akan pergi ke luar negeri pada Kamis (4/10/2018). Tak hanya itu, kasus Ratna ini ramai diperbicangkan karena banyak menyeret elit politik, seperti Prabowo Subianto, Amien Rais, Sandiga Uno, dan Fadli Zon. Bahkan para tokoh, ahli dan masyarakat hampir termakan kabar hoax yang diciptakan Ratna.

Kasus ini berawal dari munculnya foto dan tulisan yang beredar di media sosial terkait dugaan penganiayaan Ratna tidak bisa dipertanggungjawabkan. Lalu dari penyelidikan awal polisi, terungkap Ratna menjalani perawatan kecantikan.

Dugaan penganiayaan terhadap Ratna diperjelas dengan adanya twit akun Fadli Zon (@fadlizon). Twit lain dari akun Rachel Maryam (@cumarachel) malah menampilkan wajah bengkak wanita yang disebut Ratna Sarumpaet.

Baca juga: Ruang Gerak Ratna Sarumpaet Semakin Terbatas

Selain dua akun itu, koordinator Jubir Tim Kampanye Prabowo-Sandi, yakni Dahnil Anzar Simanjuntak, sibuk menyatakan dugaan penganiayaan. Hingga akhirnya Ratna ditemui Prabowo Subianto, Amien Rais, dan Fahri Hamzah, pada Selasa sore 2 Oktober kemarin. Capres Prabowo bahkan menyebut hal ini melanggar HAM.

Atas viralnya pesan di media sosial soal penganiayaan terhadap anggota Badan Pemenangan Nasional Pasangan Prabowo-Sandiaga Uno ini, polisi bergerak cepat. Namun, polisi tidak menemukan saksi yang mendengar langsung pengeroyokan yang disebutkan terjadi di Bandung.

Penyelidikan terhadap ponsel Ratna menunjukkan dirinya ada di Jakarta dan menjalani perawatan wajah di Rumah Sakit Bina Estetika. Berdasarkan fakta-fakta yang beredar di media sosial berupa foto rekaman CCTV yang membuktikan Ratna keluar dari rumah sakit memperkuat bahwa Ratna sedang menjalani operasi pelastik, bukan dianiaya.

Baca Juga: Tujuh Pelajaran dari Kebohongan Ratna Sarumpaet

Atas kasus ini, polisi mengancam akan menjerat pidana siapapun penyebar berita palsu terkait penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Setelah beredarnya foto tersebut akhirnya Ratna tak berkutik, sehingga dia menggelar jumpa pers untuk menjelaskan kebohongannya tersebut. Ratna akhirnya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya. Setelah itu, laporan pun berdatangan ke Polda Metro Jaya atas kasus tersebut.

Tentu kalau dilihat dari kasus ini yang merasa dirugikan adalah pihak dari Prabowo Subianto. Kenapa tidak, soalnya Prabowo merasa terbohongi oleh perbuatan Ratna, karena sebelumnya Ratna masuk dalam tim pemenangan Prabowo-Sandiaga justru tega membohongi orang-orang yang selama ini dia perjuangankan. Sadar dengan kelakuannya, Ratna pun meminta maaf kepada Prabowo dan masyarakat karena telah berani berkata bohong.

Baca juga: Kasus Ratna Tidak Boleh Dijadikan Alat Politik Atas Nama Penegakan Hukum

Menindaklanjuti kasus itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, pihaknya telah mengamankan sejumlah barang bukti terkait penetapan tersangka terhadap aktivis Ratna Sarumpaet.

Barang bukti itu adalah kuitansi pembayaran melalui kartu debet ATM untuk operasi plastik sedot lemak wajah di Rumah Sakit Bina Estetika, Jakarta Pusat. “Polisi juga telah memeriksa buku jadwal operasi yang dilakukan Ratna beserta Direktur RS Bina Estetika,” ujar Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

Selain itu, polisi juga telah memeriksa dokter dan 3 perawat rumah sakit. Setelah cukup bukti, polisi menetapkan Ratna sebagai tersangka. Ratna disangkakan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Pidana Hukum dan Undang-Undang ITE Pasal 28 juncto Pasal 45.

Polisi kemudian berkoordinasi dengan pihak imigrasi untuk mencekal Ratna keluar negeri. Pada Kamis pukul 20.00, polisi mendapatkan informasi bahwa Ratna berencana pergi ke Cile, Amerika Selatan. Polisi mengeluarkan surat perintah penangkapan. Setiba di bandara, Ratna diperlihatkan surat penangkapan dan dibawa ke Mapolda Metro Jaya. Alhasil setelah penangkapan tersebut, yang tadinya status Ratna sebagai saksi, kini polisi meningkatkan statusnya sebagai tersangka. Karena diduga Ratna akan melarikan diri ke luar negeri.

Setelah ditangkap, Ratna pun digelandang ke Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan. Setelah menyelesaikan pemeriksaan selama hampir dua jam, mulai dari pukul 22.30 hingga 00.10, kepada wartawan, Ratna mengatakan akan menyambangi rumahnya di Kampung Melayu Kecil, Jakarta Selatan. “Ini mau ke rumah,” kata Ratna pada Kamis malam.

Ratna terlihat keluar dari Polda Metro Jaya menuju rumahnya dengan menumpangi mobil kepolisian. Beberapa mobil kepolisian juga terlihat mengiringi Ratna.

Baca Juga: Hoax Penganiayaan yang Berujung Ratna Sarumpaet Jadi Tersangka

Sementara itu, kuasa hukum Ratna Sarumpaet, yakni Insank Nasruddin membantah bahwa kliennya akan melarikan diri saat ditangkap polisi di Bandara Soekarno-Hatta, saat hendak terbang ke Cile. Menurut dia, kepergian Ratna sudah direncanakan jauh-jauh hari.

“Sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum kasus ini. Bukan untuk melarikan diri,” kata Insank kepada wartawan di depan rumah Ratna Sarumpaet, kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Jumat (5/10) dini hari.

Insank menjelaskan, Ratna hendak ke Cile untuk memenuhi undangan acara Women Playwrights International di Cile. Ratna dijadwalkan tampil pada opening tanggal 7 Oktober 2018.

Insank mengatakan, Ratna baru menerima surat panggilan penyidik pada Kamis siang. Dalam surat panggilan itu statusnya sebagai saksi. “Siang tadi (Kamis) baru terima surat panggilan sebagai saksi. Kemudian diterima lagi surat penyidikan. Padahal, undangan sudah lama diagendakan, makanya bergegas,” kata Insank mengenai alasan Ratna tidak memenuhi pemanggilan penyidik.

Rencananya, lanjut dia, pihak Ratna akan mengajukan penundaan pemeriksaan karena sedang berada di luar negeri. Namun, ternyata Ratna malah ditangkap polisi di Bandara Soekarno-Hatta. “Pada prinsipnya kami akan hadapi proses hukumnya,” ujar Insank.

Mau tidak mau, proses hukum harus terus berjalan. Memang tidak ada yang aneh, namun sebagian orang memandang kasus semacam ini tidak boleh berhenti hanya pada seorang Ratna Sarumpaet. Di luar juga masih banyak kabar hoax yang disebar ke masyarakat melalui media sosial. Sementara pelakunya masih banyak yang belum ditangkap.

“Kasus HOAX ibu RS ini adalah ujian baru tengah bagaimana #NalarHukumDemokratis dijaga. Setelah beberapa kali kita gagal. Delik Penyebaran berita bohong (HOAX) sekarang mulai menjadi alat kelompok tinimbang sebuah alat bersama untuk menjaga rasa keadilan. Mari kita tonton,” ujar Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyikapi kasus Ratna diakun twitternya @Fahrihamzah, Jumat (5/10).

Fahri berharap kasus Ratna ini tidak hanya dijadikan alat politik atas nama penegakan hukum. Sebab dia yakin banyak penyebar hoax dan fitnah yang sampai saat ini tidak tertangani kasusnya oleh hukum. Jika berani bergerak cepat dalam kasus Ratna, maka polisi juga harus berani tegas memperlakukan orang lain dengan tegas sekalipun adalah mereka yang punya kuasa di negeri ini. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.