Senin, 29 November 21

Masalah Struktural Hadang Perekonomian Indonesia

Jakarta, Obsessionnews com – Perekonomian Indonesia tampaknya anteng-anteng saja. Kestabilan makroekonomi cukup terjaga, internal maupun internalaja. Kestabilan makroekonomi cukup terjaga, internal maupun internal.

Namun, jika ditelaah lebih mendalam, tampak ada kecenderungan perekonomian Indonesia menuju keseimbangan ke arah yang lebih rendah.

“Kita sempat menikmati pertumbuhan tinggi pada 1970-an dan paruh pertama dekade 1990-an. Setelah hampir pulih dari krisis, pertumbuhan rerata turun menjadi sekitar 6 persen. Lalu turun lagi menjadi 5 persen dalam empat tahun terakhir. Perekonomian seakan kekurangan tenaga dan daya untuk mengakselerasi,” kata pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri melalui keterangan tertulis, Jumat (7/7/2017).

Faisal menambahkan masalah struktural kedua menyangkut penerimaan pajak. Walaupun ekonomi terus tumbuh, nisbah pajak (tax ratio) mengalami penurunan yang persisten selama lima tahun terakhir. Dalam keadaan normal, nisbah pajak setidaknya tetap atau meningkat.

“Padahal, nisbah pajak kita masih relatif sangat rendah. Penurunan yang terjadi dalam lima tahun terakhir membuat nisbah pajak Indonesia terendah dibandingkan negara tetangga. Kebanyakan negara tetangga menikmati kenaikan nisbah pajak. Nisbah pajak Vietnam memang turun, namun tetap tertinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya,” tandasnya.

Ketiga, derajat keterbukaan (degree of openness) perekonomian Indonesia mengalami penurunan dalam 16 tahun terakhir. Dengan pengecualian Singapura, seluruh negara berdasarkan jumlah penduduk menunjukkan perekonomiannya semakin terbuka. Porsi barang dan jasa yang mereka hasilnya semakin banyak yang diekspor. Pada kurun waktu bersamaan, mereka pun lebih banyak mengimpor barang dan jasa. Jadi, hampir semua negara kian terlibat di pasar dunia di era globalisasi.

Membandingkan dua titik waktu saja (1981 dan 2016) boleh jadi bisa bias, ada faktor kebetulan atau rekayasa pemilihan tahun observasi agar hasilnya sesuai dengan yang diinginkan Faisal.

Untuk mengurangi kemungkinan sakwasangka itu, berikut tertera derajat keterbukaan Indonesia dengan menggunakan rerata lima tahunan selama kurun waktu yang cukup panjang.

Ternyata hasilnya menunjukkan penurunan konsisten, tidak hanya dalam 16 tahun terakhir, melainkan dalam 20 tahun terakhir tanpa jeda.

Tiga masalah struktural yang dihadapi Indonesia membutuhkan pemecahan yang bersifat struktural pula.

“Tidak ada resep cespleng untuk jangka pendek,” tegas Faisal.

Menurutnya, ada beberapa masalah struktural lain yang juga patut memperoleh perhatian. Tiga masalah di atas bisa dipandang yang paling mendasar yang berdampak ke banyak arah, masalah ekonomi, sosial, dan politik. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.