Selasa, 29 November 22

Marwan Akan Hapus Hambatan Birokratis Dalam Memajukan Desa

Marwan Akan Hapus Hambatan Birokratis Dalam Memajukan Desa

Jakarta, Obsessionnews Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar mengatakan, pihaknya akan bekerja keras untuk menghapus segala bentuk hambatan birokratis dalam memajukan desa. Misalnya, dana desa sering tidak lekas cair, lantaran hambatan birokratis.

“Saya termasuk menteri yang sedikit “preman” dalam memangkas birokratis. Semua hal harus dibuat mudah, namun tidak melanggar ketentuan UU yang ada,” ujar Marwan, dalam diskusi “Executive Leaders Talk” di Komunitas Kedondong, Gedung OMG, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2015.

Politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa itu, berharap, semua kalangan, baik perbankan, akademisi, birokrat, pemuda, ormas dan sebagainya, untuk bersinergi dalam memajukan Usaha Kecil dan Menengah, khususnya yang ada di pedesaan. Sebab, jika seluruh desa di Indonesia makmur, maka Insya Allah, Indonesia akan makmur pula.
Lebih lanjut, Marwan, mengeluhkan soal Nawa Kerja yang digagas kantornya yakni Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) yang belum terbentuk. Namun lagi-lagi, lantaran prioritas anggaran belum ada maka belum bisa berjalan.

“Karena semua difokuskan ke infrastruktur dan hampir sektor lain tidak terurus,” kata dia.
Marwan menyebutkan, berbicara soal fundamental ekonomi, APBN cuma menyumbang 20% pertumbuhan ekonomi. Sementara sisanya, berasal dari rakyat.

“BUM Desa hanya berdiri kurang dari 100 unit. Termasuk dari Dirjen PMD Kementerian Dalam Negeri. Ternyata hanya itu karyanya,” kata dia.

Selain soal BUM Desa, Marwan juga mengeluhkan tingginya bunga bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang jumlahnya mencapai 18%. Dia meminta, angka tersebut diturunkan lantaran mayoritas pelaku UMKM masih belum bankable.

“Dan yang didorong baru 20 persen secara nasional. Ini alami ketertinggalan dibanding negara lain yang sudah 30 persen,” sebut dia.(M

Soal dana untuk desa, Marwan berharap, idealnya 30-40% dari APBN. Namun, lantaran tahun ini hanya keluar Rp20 trilun, bagi 74 ribu desa, ya patut disyukuri. “Tapi percayalah, mulut saya ini paling bawel dalam memperjuangkan dana untuk kepentingan desa,” ujar mantan Ketua Fraksi PKB DPR RI itu.

diskusi OMG
Sejak April lalu, menurut Marwan, dana untuk desa tertinggal sebesar Rp240 juta hingga Rp270 juta telah dikucurkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Masing-masing desa akan mendapatkan Rp.1,4 miliar yang akan diberikan secara bertahap. (Baca juga: Penyerapan Dana Desa APBN/APBD Sangat Lambat)

“Tahap pertama diberikan pada April sebesar Rp240 hingga Rp270 juta. Anggaran ini diharapkan bisa dikelola secara akuntabel dan tepat sasaran,” katanya.

Lanjutnya, dana yang dikucurkan tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan perekonomian desa dan mampu menjadi sentra pertumbuhan ekonomi negara. Untuk itu, pihaknya akan membentuk tim pengawas untuk memonitor penggunaan dana di tiap desa.

“Kami berharap di tiap desa untuk dibentuk Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). Dengan terbentuknya Bumdes, akan menjadi sektor penting terwujudnya swasembada pangan nasional,” ungkapnya.
Marwan mengingatkan, agar Dana Desa dapat tersalurkan dengan baik. Sehingga dana tersebut dapat membantu mengembangkan desanya semaksimal mungkin, terutama di desa-desa terpencil.

Marwan menjelaskan, desa terpencil merupakan desa yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional, terutama dalam mengakses informasi. Oleh karena itulah Marwan dengan tegas mengingatkan Pemerintah Daerah (Pemda) agar lebih proaktif dalam menyampaikannya kepada para kepala desa.

“Kami sangat berharap, dengan adanya Dana Desa ini, semua desa khususnya desa yang masuk wilayah terpencil dapat berkembang memanfaatkan dana tersebut semaksimal mungkin,” tuturnya.

Menurut data statistik, dari seluruh desa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, 39.086 termasuk desa tertinggal dan 17.268 desa sangat tertinggal. Di dalamnya termasuk 1.138 desa di daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terdepan, dan terluar. (Mahbud Djunaedi/rez)

Foto: Edwin Budiarso

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.