Jumat, 22 Oktober 21

Marak Penjualan Satwa Langka di Pasar Burung Karimata

Marak Penjualan Satwa Langka di Pasar Burung Karimata

Semarang, Obsessionnews – Terik siang seakan-akan tak menyurutkan minat pengunjung yang datang. Berdesakan orang-orang mencari klangenan di Pasar Burung Karimata, Kota Semarang. Kicau burung campur aduk dengan suara manusia menjajakan hewan dagangannya. Samar terdengar teriakan primata, semacam kera, di antara riuhnya pasar. Mungkinkah di pasar tersebut diperjualbelikan hewan langka?

Berdasarkan investigasi obsessionnews.com baru-baru ini, di bagian bawah pasar memang tidak terlihat hewan langka yang dijual. Namun begitu naik ke lantai dua, pemandangan kontras mulai terasa. Ada beberapa pedagang yang memperdagangkan hewan langka. Mulai dari burung kuntul putih (Bubulcus ibis), hingga monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), bahkan sanca bodo dapat dibeli dengan mudahnya.

Beberapa ekor hewan yang termasuk dalam kategori apendix 2 dijual  dengan bebas
Beberapa ekor hewan yang termasuk dalam kategori apendix 2 dijual dengan bebas

Di lapangan, ada 5 pedagang yang menjual hewan langka. Beberapa pedagang bahkan tanpa malu-malu memajang hewan tersebut di depan lapak mereka. Harga yang ditawarkan pun sanggup membuat mata terbelalak. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Salah seorang pedagang, sebut saja A ketika ditanya dari mana mendapatkan hewan tersebut, dia menjawab banyak para pemburu atau petani dari Magelang, Temanggung, dan Rembang yang menjual hewan tangkapan kepadanya. “Saya biasanya mendapat hewan ini dari orang yang habis berburu di hutan,” kata A.

Harga jual untuk seekor monyet ekor panjang dipatoknya sebesar Rp 450.000. Sedangkan untuk hewan lain seperti kuskus mencapai Rp 1 juta. Apalagi satwa sekelas elang jawa atau burung hantu, harga yang ia berikan bisa mencapai Rp 3 juta. “Ini kalau kuskus yang sudah besar Rp 1,5 juta. Kalau mau saya bisa carikan yang lain. Elang jawa juga bisa,” ujarnya.

Satwa-satwa tersebut diletakkan dalam kandang yang bisa dibilang kurang terawat. Banyak dari hewan itu dibiarkan saja tanpa penanganan memadai. Beberapa dimasukkan dalam kotak seukuran dengan satwa. Tentu saja hal itu membuat hewan tidak bisa bergerak dengan bebas. Imbasnya banyak dari hewan-hewan menjadi stres dan tidak mau makan.

Obsessionnews.com berpura-pura akan membeli seekor elang jawa, dan ternyata ada hari-hari tertentu jika ingin membeli burung langka tersebut. “Nanti datang hari Selasa aja. Sekalian saya bawakan elang jawa juga,” ujarnya.

Begitu pula dengan pedagang lain yang berinisial G. Dia spesialis menjual reptil di daerah ini. Beberapa reptil yang tidak termasuk kategori dilindungi ia pamerkan di depan kios. Sedangkan hewan melata langka dia sembunyikan di bawah rak dan di rumahnya yang tidak jauh dari pasar. Obsessionews.com bertanya apakah dia menjual ular green tree phyton, atau biasa disebut dengan ular chondro. “Chondro ada di rumah. Kalau memang minat saya ambilkan. Saya kasih Rp 750 ribu,” tuturnya.

Sebagai informasi, ular chondro merupakan jenis reptil endemik yang tergolong hampir punah. Morelia Viridis termasuk dalam reptil yang dilarang diperjualbelikan sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 07 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Konsumen satwa langka tidak hanya kalangan masyarakat biasa. Kaum kelas atas juga banyak yang mengoleksi hewan liar sebagai klangenan. Menurut G, ada seorang artis dari Jakarta pernah memesan anakan elang jawa berumur 3 bulan. Kalangan atas tidak segan-segan mengeluarkan uang jutaan rupiah guna mendapatkan hewan langka dari dia. Sewaktu obsessionnews.com menanyakan tentang legalitas hewan tangkapan itu, G hanya mengatakan ia sudah mengetahui hal itu, tetapi tergiur oleh harga jual dari satwa langka di pasaran. “Saya tahu ndak boleh dijual. Tapi mau bagaimana lagi. Wong harganya mahal. Yang penting untung,” cetusnya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sudah berulang kali melakukan operasi terhadap para pedagang nakal ini. Tapi, ternyata banyak cara yang dilakukan oleh mereka untuk mengelabui petugas BKSDA. G menceritakan ia selalu menyembunyikan hewan langka terlebih dahulu. Jika ada konsumen berminat, ia baru mengeluarkan hewan tersebut. Terlebih dengan membungkus satwa dalam karung memudahkan baginya ketika diadakan sidak oleh BKSDA. “Hewan ini saya masukin ke karung agar kalau ada operasi bisa cepet-cepet dilariin,” ujarnya saat obsessionnews.com menanyakan perihal chondro di dalam karung.

Perdagangan satwa langka membuat jumlah populasi di alam liar menjadi berkurang. Banyak yang membeli hewan langka untuk dijadikan koleksi atau sekadar gengsi. Tapi, tak sedikit juga yang dikonsumsi. Masih banyak masyarakat yang percaya akan khasiat daging hewan langka, semisal taring harimau ataupun kulit kijang sebagai jimat.

Sebenarnya Pemerintah sudah memberikan kelonggaran untuk memelihara satwa liar yang dilindungi undang-undang. Sebagaiman diatur dalam Pasal 7, 8, 9 dan 10 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 08 Tahun 1999. Hewan langka yang bisa dijual atau dipelihara adalah yang didapat dari hasil penangkaran, bukan diambil dari alam.

Penangkar yang diperbolehkan membudidayakan satwa langka ialah penangkar yang terdaftar di BKSDA setempat. Di samping itu hanya keturunan ketiga dari hewan yang ditangkarkan yang boleh untuk dijual. Dalam PP Nomor 08 Tahun 1999 dijelaskan hanya hewan Appendix 2 yang diperbolehkan untuk ditangkarkan secara bebas. Untuk hewan Appendix 1 seperti harimau sumatera, cendrawasih, dan jalak bali diperlukan izin dari Presiden bila ingin memelihara sebagai klangenan. Biasanya hewan tersebut digunakan sebagai pertukaran antara kebung binatang dalam negeri dengan mancanegara.

Namun, masih kurangnya pengawasan dari BKSDA sebagai lembaga konservasi alam membuat penjualan hewan langka kian marak. Perlu diadakan sosialisasi mendalam terhadap masyarakat khususnya warga di desa-desa tentang aturan penangkapan hewan langka yang dilindungi oleh pemerintah. (Yusuf Isyrin Hanggara)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.