Kamis, 26 Mei 22

Manhaj Dakwah Islam Nusantara

Manhaj Dakwah Islam Nusantara

Oleh: Agus Mualif Rohadi (KAHMI Jatim)

Setelah saya baca bahtsul masail nya, ternyata yang dimaksud Islam Nusantara hanyalah “manhaj dakwah” baru yang diajukan PW NU Jawa Timur dalam Muktamar NU di Jombang.

Saya baca, tidak ada penjelasan yang komprehensif mengapa PWNU Jatim mengajukan hal itu. Namun dalam papernya terdapat unsur-unsur yang digunakan dalam manhaj dakwahnya.

Terlanjur terekspos seolah olah ada semacam aliran agama baru, tetapi ternyata hanya manhaj dakwah.

Pertanyaan mendasarnya adalah: Mengapa NU perlu manhaj baru ?

NU maupun Muhammadiyah awalnya juga adalah mahaj dakwah yang kemudian menjadi organisasi dakwah yang besar.

Jika NU perlu ada manhaj baru (namun ini sebenarnya di NU sendiri masih dikaji), saya pikir apakah justru hal ini tidak menjadi masalah yang memicu perbedaan di tubuh NU.

Apa ada masalah dengan dakwah yang ada saat ini ?

Secara sepintas saya baca bahtsul masail nya, ada perkembangan eksternal yang perlu direspon oleh dakwah NU, disebut antara lain masalah liberalisasi pemikiran ke Islaman, dakwah Syi’ah dan wahabiyah.

Sedang unsur atau prinsip manhaj dakwah ini akan mengutamakan prisip kedamaian, akomodasi tradisi dan toleransi terhadap agama lain dan aliran Islam di luar aswaja Asy’ariyah.

Unsur itu saya kira bisa digunakan untuk pertanyaan balik. Misal toleransi terhadap Syi’ah dan wahabiyah akan sejauh mana? sedang saat ini sangat terkesan anti pati dengan Syi’ah dan wahabi, bahkan seperti pobia Arab.

Kalau masih seperti itu, sebelum manhaj baru ini diterapkan sebaiknya juga belajar lagi ke Arab dan Timur Tengah tentang toleransi.

Bukankah semua aliran yang jumlahnya puluhan itu lahir dan berkembang di wilayah itu ? Bukankah itu sangat toleran terhadap perbedaan ?

Mungkin NU akan mengembangkan sikap tolerans terhadap dakwah Syi’ah dan Wahabiyah di Nusantara.

Mungkin NU juga akan mengakomodasi tafsir tafsir liberal dan melakukan reinterpretasi terhadap konteks kesejarahan ayat ayat tertentu terkait hubungan dengan bani Israel dan kaum Kristen. Apakah mampu ? wallahu alam.

Sebaiknya kalau yang dimaksud adalah manhaj dakwah, maka nama “Islam Nusantara” menurut saya perlu dikoreksi lagi agar tidak menimbulkan polemik yang disebabkan penggunaan kaidah bahasa Arab maupun pemaknaan nya. Mengapa NU sangat ngotot dengan penamaan seperti itu ? Padahal, nama itu mempunyai makna penyempitan terhadap makna Islam itu sendiri ? (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.