Sabtu, 23 November 19

Majukan Pariwisata Kawasan Perbatasan dengan Homestay Desa Wisata

Majukan Pariwisata Kawasan Perbatasan dengan Homestay Desa Wisata
* Salah sebuah homestay di Yogyakarta.

Jakarta, Obsessionnews.com – Keindahan alam di setiap daerah di Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menarik wisatawan mancanegara (wisman). Maka rasanya bukan hal mustahil jika target 20 juta wisman pada 2019 pun dapat terpenuhi.

Tak terkecuali wilayah perbatasan. Ya, kawasan perbatasan dinilai punya peluang tinggi untuk dikembangkan. Kawasan yang dianggap sebagai beranda belakang tanah air dan jarang disentuh pembangunan, nyatanya, bisa disulap menjadi kawasan yang mendatangkan pendapatan tinggi.

Caranya, kombinasikan homestay desa wisata dan program cross border tourism. Menteri Pariwisata Arief Yahya meyakini, kombinasi tersebut diyakini memiliki potensi luar biasa untuk memajukan wilayah perbatasan. Apalagi biaya pengembangannya pun dinilai tidak terlalu mahal.

“Ciptakan attraction, access, dan accommodation yang terjangkau dengan memanfaatkan kelebihan kapasitas yang ada. Bangun sebanyak mungkin homestay di desa-desa wisata seluruh pelosok Tanah Air. Cost-nya pasti murah karena harga penyewaan homestay sangat terjangkau dan pengelolaannya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat,” kata Arief Yahya ketika berbicara di Forum Bisnis dan Investasi di Daerah Perbatasan di Jakarta, Kamis (1/12/2016).

Arief berani memastikan homestay akan laku. Pasalnya, saat ini Kemenpar sudah Go Digital dan Indonesia Travel Exchange (ITX) yang dimanfaatkan untuk memasarkan potensi pariwisata melalui digital.

Bahkan Arief berinisiatif untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki homestay terbanyak di dunia. Untuk desainnya pun tak perlu bingung karena sudah banyak yang bisa diimplementasikan dari juara Sayembara Desain Rumah Wisata Nusantara 2016 yang digelar Kemenpar.

“Ini sekaligus untuk memenuhi kebutuhan akomodasi yang sangat besar, dalam rangka mewujudkan visi mendatangkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 275 juta perjalanan wisatawan nusantara di tahun 2019,” tegasnya.

 

Homestay Lebih Murah

Dibanding hotel, membangun homestay di berbagai pelosok neger ini diyakini lebih murah. Apalagi nantinya homestay bisa dimiliki masyarakat di sekitar tempat wisata. Arief menegaskan, membangun 100 homestay relatif lebih mudah dibandingkan membangun satu hotel 100 kamar.

Arief menjelaskan bahwa misalnya diperlukan lahan sekitar 1 hektar dan sekitar 30 persen dari lahan tersebut disisihkan untuk fasilitas umum. Maka masih ada 7.000 m2 yang bisa dikapling-kapling untuk dijadikan 100 homestay type LT/LB berukuran 70/36 m2.

Homestay-homestay itu nantinya bisa dikombinasikan dengan Desa Wisata. Program Desa Wisata juga berkesinambungan dengan rencana membangun 100.000 homestay yang bakal dimulai 2017 nanti.

“Saat Desa Wisata itu sudah siap jual, akan langsung dipromosikan. Lalu selling platform-nya juga dimasukkan dalam Digital Market Place. Fungsinya bisa ganda. Bisa sebagai amenitas dengan homestay, akomodasi di rumah penduduk yang sudah sadar wisata. Juga bisa sebagai atraksi,” katanya.

Aktivitas masyarakat pun akan tetap terjaga di Desa Wisata. Masyarakat bisa tetap menanam padi, hortikultura, palawija, dan mengurus ternak. Bahkan servis dan prosesnya menjadi bagian atraksi wisata. Suasana desa wisata yang ramah, gotong royong, penuh dengan rasa kekeluargaan, kaya budaya itu yang dijual sebagai atraksi di destinasi desa wisata.

Membangun pariwisata dari wilayah perbatasan potensinya memang sangat besar. Selain menguntungkan bagi negara, masyarakat sekitar juga ikut mendapatkan keuntungan. Kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat menjadi lebih hidup.

Sebagai perbandingan, jelas Arief, negara-negara Eropa yang teritorinya bisa ditempuh dengan jalan darat, pariwisatanya pasti lebih sukses, jumlah wismannya lebih banyak.

“Turis ke Paris bisa menembus 60 juta, Madrid 50 juta, London 40 juta dalam setahun. Singapura 15 juta, Malaysia 25 juta, dan Thailand 30 juta, saya yakin sumbangan terbesar juga dari borderland tourism, jalur darat tidak tergantung pada flight lagi,” katanya.

 

Investasi harus sesuai potensi dan peluang

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sanjojo, turut mengomentari potensi wilayah perbatasan tersebut. Eko mengatakan, pembangunan daerah perbatasan tidak cukup hanya dengan pendekatan keamanan dan kesejahteraan. Pendekatan ekonomi juga perlu diperkuat dengan mendorong tumbuhnya investasi di daerah perbatasan.

“Investasi di perbatasan tentu harus sesuai dengan potensi dan peluang yang dimiliki. Utamanya, investasi yang masuk harus memerhatikan kelestarian lingkungan dan kearifan lokal. Perlu dibuat regulasi khusus yang dapat menarik dan memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha di daerah perbatasan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu Kemendes PDTT Suprayoga Hadi mengatakan, penyelenggaraan forum bisnis dan investasi daerah perbatasan tahun ini lebih banyak diikuti perusahaan swasta dan BUMN, pengusaha, asosiasi usaha, hingga kedutaan besar negara-negara sahabat.

“Kami menargetkan terjalin kesepakatan antara pemerintah daerah dan pelaku usaha dari BUMN dan pihak swasta untuk menindaklanjuti rencana bisnis dan investasi yang telah ada. Kesepakatan dapat dilakukan melalui pembukaan bisnis baru (business start-up) maupun kesepakatan untuk mendukung investasi dalam jangka panjang,” ujar Suprayoga.

Forum Bisnis dan Investasi Daerah ini juga diisi dengan expo potensi perbatasan. Expo tersebut menampilkan aneka komoditas dan produk unggulan dari daerah perbatasan yang layak untuk dijual. (Fath)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.