Sabtu, 14 Desember 19

Main ‘Curang’ Jatuhkan Capres Saingan, Trump Hadapi Pemakzulan

Main ‘Curang’ Jatuhkan Capres Saingan, Trump Hadapi Pemakzulan
* ilustrasi - Gedung Putih dan Trump. (BBC)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tengah menghadapi sebuah proses impeachment (pemakzulan) yang bisa melengserkannya dari kursi jabatan Presiden Amerika Serikat (AS) di Gedung Putih.

Semuanya berpusat pada tuduhan bahwa Trump meminta bantuan kepada pemerintah Ukraina secara tidak patut demi meningkatkan kans terpilih kembali pada pemilihan presiden 2020.

Partai Demokrat menuding Trump menelepon Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, guna memaksa Ukraina melancarkan penyelidikan dugaan korupsi terhadap mantan Wakil Presiden AS, Joe Biden, dan putranya, Hunter.

Proses pemakzulan Presiden Trump ini masih berada dalam tahap awal. Sesi perdana mendengar kesaksian digelar pada Rabu (13/11) waktu setempat, di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)—majelis rendah Kongres AS yang dikuasai Partai Demokrat.

Namun, Presiden Trump, dari Partai Republik, membantah melakukan kesalahan apapun.

Bagaimanapun, apa yang terjadi dalam rangkaian sesi dengar kesaksian tersebut akan menentukan apakah Trump menghadapi pemakzulan.

Apa tuduhan terhadap Trump?
Presiden Trump dituduh menekan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, untuk menggali informasi mengenai salah satu bakal calon penantangnya dalam Pilpres AS, Joe Biden, serta putranya, Hunter.

Hunter bekerja untuk sebuah perusahaan Ukraina tatkala Joe Biden masih menjabat wakil presiden AS.

Masalahnya, meminta bantuan entitas asing untuk memenangi pilpres AS tergolong ilegal.

Apa buktinya?
Tuduhan ini didasari oleh pemaparan seorang pejabat intelijen yang identitasnya tidak diungkap. Pejabat ini menulis sebuah surat berisi keprihatinan tentang percakapan telepon antara Trump dan Zelensky pada 25 Juli lalu.

Transkrip percakapan telepon tersebut menunjukkan Trump mendesak Presiden Zelensky untuk menyelidiki tuduhan yang mendiskreditkan Joe dan Hunter Biden.

Percakapan ini mengemuka sesaat setelah Trump menahan pengucuran dana bantuan militer ke Ukraina sebesar ratusan juta dollar.

Seorang pejabat senior belakangan bersaksi bahwa Presiden Trump menegaskan agar dana bantuan bisa dikucurkan jika Ukraina menginvestigasi Biden. Namun, Gedung Putih membantah kesaksian tersebut.

Apa perkembangan terbaru?
Dalam sesi mendengar kesaksian di DPR AS, Bill Taylor selaku pelaksana tugas Duta Besar AS untuk Ukraina, mengatakan salah satu anggota stafnya mendapat informasi bahwa Trump sibuk mendesak agar Biden diselidiki.

Awalnya, menurut Bill Taylor, anggota stafnya mendengar percakapan telepon antara Dubes AS untuk Uni Eropa, Gordon Sondland, dengan Presiden Trump di sebuah restoran di Kiev.

Pada percakapan tersebut, Sondland mengatakan kepada Trump bahwa “orang-orang Ukraina siap bergerak maju”.

Setelah percakapan rampung, menurut Bill Taylor, anggota staf itu “bertanya kepada Dubes Sondland tentang apa yang dipikirkan Presiden Trump soal Ukraina”.

Taylor berkata: “Duta Besar Sondland merespons bahwa Presiden Trump lebih peduli soal investigasi terhadap Biden”.

Apa pembelaan Trump?
Ketika ditanya soal percakapan dengan Sondland awal bulan ini, Presiden Trump menjawab: “Saya kurang kenal pria itu”.

Trump juga membantah menggunakan dana bantuan AS sebagai alat tukar dengan Presiden Zelensky. Dia berulang kali menegaskan percakapannya dengan Zelensky “sempurna”.

Trump menyebut penyelidikan pemakzulan adalah “pemburuan penyihir” yang dilakukan Partai Demokrat dan sejumlah media.

Apa yang dimaksud dengan pemakzulan?
Pemakzulan, dalam konteks ini, adalah mengajukan tuntutan di Kongres yang akan membentuk landasan bagi persidangan.
Konstitusi AS menyebutkan presiden “harus dicopot dari jabatannya melalui pemakzulan, dan putusan pengadilan, karena makar, penyuapan, atau kejahatan besar lainnya, atau pelanggaran-pelanggaran”.

Bagaimana prosesnya?
Proses berlangsung dalam dua tahap. Fase awal harus dimulai di DPR AS. Agar proses pemakzulan bisa lolos ke tahap selanjutnya, diperlukan persetujuan mayoritas anggota DPR yang dicapai melalui pemungutan suara.

Jika mayoritas anggota DPR menyetujui, proses berlanjut ke Senat AS—tempat digelarnya persidangan.

Meski demikian, perlu setidaknya dua-pertiga dari seluruh anggota Senat untuk melengserkan presiden. Hal ini belum pernah dicapai sebelumnya dalam sejarah AS. Saat ini, Senat AS dikuasai Partai Republik.

Apakah ada Presiden AS yang pernah dimakzulkan?
Bill Clinton pernah menjalani proses pemakzulan karena mengutarakan kebohongan dan menghalangi keadilan ketika menerangkan kasus perselingkuhannya dengan Monica Lewinsky. Clinton juga dituduh meminta Lewinsky berbohong.

Namun, ketika pengadilan pemakzulan digelar di Senat pada 1999, vonis tidak bisa dijatuhkan lantaran gagal memenuhi kriteria persetujuan dua-pertiga dari seluruh anggota Senat.

Presiden AS lain yang pernah menjalani proses pemakzulan adalah Andrew Johnson pada 1868. Saat itu dia dituding, antara lain, memecat menteri perang yang bertentangan dengan kehendak Kongres AS. Johnson luput karena syarat dua-pertiga dari seluruh anggota Senat kurang satu suara.

Presiden AS lainnya, Richard Nixon, mengundurkan diri pada 1974 sebelum dimakzulkan terkait skandal Watergate.

Siapa yang akan menggantikan Trump jika dia dimakzulkan?
Jika Trump dimakzulkan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Suksesi Presiden tahun 1947, Wakil Presiden Mike Pence akan memimpin AS. (*/BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.