Selasa, 18 Januari 22

Mahasiswa UGM Ikuti Program Pemuda Mendunia di Malaysia

Mahasiswa UGM Ikuti Program Pemuda Mendunia di Malaysia
* Sebanyak 30 pemuda dan pemudi Indonesia, termasuk dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti Program Pemuda Mendunia di Malaysia. tanggal 10-12 Februari 2017 di Kelang, Malaysia.

Yogyakarta, Obsessionnews.com –  Dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yakni  Irvandias Sanjaya (Fakultas Psikologi) dan Mohammad Khotibul Umam (S2 Fisipol), terpilih untuk berpartisipasi dalam program Pemuda Mendunia di Malaysia. Selama tiga hari, 10-12 Februari 2017 di Kelang, Malaysia, mereka menjadi tutor atau pengajar dalam program yang diselenggarakan oleh Studec International.

Mereka terpilih mengikuti program tersebut bersama 28 pemuda dari berbagai wilayah Indonesia.

Irvandias mengatakan, program Pemuda Mendunia ini diikuti 30 pemuda dan pemudi dari latar belakang kehidupan yang beragam dan berbagai daerah di Indonesia. Ketiga puluh orang ini terpilih mengikuti kegiatan setelah bersaing dengan lebih dari 2.000 pendaftar dalam serangkaian seleksi.  Seleksi dilakukan dengan penilaian esai, motivation letter, dan beberapa dokumen penunjang maupun wawancara.

“Cukup senang dan bangga bisa terpilih mengikuti program pemuda mendunia ini,” kata Irvandias seperti dikutip Humas UGM melalui keterangan tertulis, Selasa (14/2).

Dia mengungkapkan, selama mengikuti program tersebut seluruh peserta  mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan melakukan kegiatan mengajar. Mereka membantu mengajar anak-anak SD dan SMP di wilayah Kelang, Malaysia.

“Di sana kami mengajar sekitar 70 anak-anak Indonesia yang mengalami masalah dalam hal kewarganegaraan yang menyebabkan mereka kehilangan hak atas keamanan dan pendidikan,” tuturnya.

Melalui program tersebut para tutor juga melakukan donasi buku kepada anak-anak. Langkah tersebut merupakan salah satu wujud kepedulian mereka terhadap dunia pendidikan. Mereka berharap dengan donasi tersebut dapat membantu anak-anak yang menempuh pendidikan di sekolah informal.

Lebih lanjut Irvandias menjelaskan di wilayah tersebut tidak sedikit anak-anak yang menempuh pendidikan di sekolah informal dan terkadang mendapatkan sebuah razia dari petugas Malaysia setempat. Hal itu sedikit banyak memengaruhi kondisi mental anak-anak.

“Pendidikan yang seharusnya dirasakan oleh setiap anak ternyata belum dapat dirasakan sepenuhnya oleh anak-anak di sana. Sulit mendapat pendidikan yang layak karena persoalan kewarganegaraan,” ujarnya. .

Berbagai pengalaman para tutor selama mengikuti program Pemuda Mendunia di Malaysia ini nantinya akan dituangkan dalam sebuah buku. Melalui buku tersebut diharapkan dapat menginspirasi dan menggerakan generasi muda Indonesia terhadap isu pendidikan terutama untuk anak-anak yang mengalami kesulitan mendapatkan pendidikan akibat permasalahan kewarganegaraan. (arh)

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.