Selasa, 20 Oktober 20

Mahasiswa Thailand Berani Kritik Raja

Mahasiswa Thailand Berani Kritik Raja
* Panusaya pimpin demo, orasi di panggung pertanyakan peran raja. (Foto: BBC)

Mahasiswi Thailand ini berani menantang monarki, satu hal yang mengejutkan bagi publik.

“Ada ketakutan yang mengintai di dalam diri saya, ketakutan yang mendalam akan konsekuensinya,” kata Panusaya Sithijirawattanakul, seorang mahasiswi Thailand berusia 21 tahun.

Agustus lalu, ia dengan gugup naik ke atas panggung di Thailand dan menyuarakan tantangan terbuka kepada monarki.

Thailand diguncang unjuk rasa pro-demokrasi selama berbulan-bulan. (Foto: RTR/BBC)

Di hadapan ribuan mahasiswa dari salah satu universitas top Thailand, ia membacakan 10 poin manifesto yang sekarang terkenal, menyerukan reformasi monarki.

Menentang monarki adalah langkah yang mengejutkan. Sejak lahir, orang Thailand diajari untuk menghormati dan mencintai monarki, tapi juga takut akan konsekuensi jika membicarakan apapun terkait kerajaan.

Thailand adalah salah satu dari sedikit negara dengan hukum lese majeste. Siapapun yang mengkritik raja, ratu, pewaris takhta, atau bupati bisa dipenjara hingga 15 tahun.

Meski hukum lese majeste masih berlaku, dalam beberapa bulan terakhir, aksi protes pro-demokrasi melanda negeri ini, dan mahasiswa seperti Panusaya berada di pusatnya.

“Saya tahu hidup saya tidak akan pernah sama lagi,” ungkapnya kemudian kepada BBC News Thai.

Manifesto diperlihatkan pada Panusaya hanya beberapa jam sebelum ia membacakannya di unjuk rasa besar-besaran yang jarang terjadi di ibu kota, Bangkok.

Aksi protes itu menuntut monarki bertanggung jawab kepada institusi-institusi yang dipilih rakyat, proposal untuk memangkas anggaran kerajaan, dan agar monarki tidak campur tangan dalam urusan politik — pernyataan yang mengejutkan bagi kebanyakan orang Thailand.

“Mereka memberikannya kepada saya, bertanya apakah saya ingin menggunakannya. Pada saat itu, semua orang merasa isinya sangat kuat dan saya juga berpikir itu sangat kuat. Saya memutuskan untuk menjadi orang yang mengatakannya.

“Saya bergandengan tangan dengan kawan-kawan mahasiswa saya, menanyakan dengan lantang apakah kami melakukan hal yang benar di sini,” kata Panusaya.

“Jawabannya adalah ya — ini hal yang benar untuk dilakukan. Saya kemudian duduk lagi, merokok sebelum saya naik ke panggung, dan mengeluarkan semua yang ada di kepala saya.”

Dari atas panggung, ia berkata di hadapan orang banyak, “Semua manusia berdarah merah. Kita tidak berbeda.

“Tidak seorang pun di dunia ini yang lahir dengan darah biru. Beberapa orang mungkin terlahir lebih beruntung dari yang lain, tetapi tidak ada yang terlahir lebih mulia dari orang lain.”

Pidato Panusaya telah menimbulkan kehebohan — kombinasi tepuk tangan dari akademisi liberal dan kecaman dari media royalis yang bercampur dengan ketidakpercayaan dari banyak orang Thailand. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.