Minggu, 5 Desember 21

Mahasiswa Sumbar di Aden Kesulitan Keluar Rumah

Mahasiswa Sumbar di Aden Kesulitan Keluar Rumah
* Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno (kiri) mengunjungi rumah Edi Asman Karim, ayah Asyam Hafizd , di Padang, Kamis (9/4/2015). Asyam Hafizd salah seorang mahasiswa di Aden, Yaman. (Foto: Musthafa Ritonga/obsessionnews.com)

Padang, Obsessionnews – Sebanyak 25 mahasiswa asal Sumatera Barat (Sumbar) yang kuliah di Aden, Yaman, kesulitan keluar dari tempat tinggal mereka di Kreiter, Aden, karena wilayah yang mereka diami berada dalam zona konflik.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan, kondisi yang dihadapi mahasiswa di Aden Yaman diketahui setelah dia berkomunikasi langsung dengan Asyam Hafidz, salah seorang mahasiswa yang tinggal Kreiter, Aden, Yaman. Gubernur sempat menelepon Asyam Hafidz selama 20 menit.

“Tadi saya telepon sekitar pukul 17.30 dan waktu setempat sekitar pukul 13.30. Kondisinya aman. Makan dan minum pun cukup, dan tidak masalah meskipun masih terdengar dentuman bom,” kata Irwan Prayitno kepada wartawan usai bersilaturrahmi ke rumah Edi Asman Karim, orangtua Asyam Hafid, Kamis (9/4/2015).

Asyam Hafizd bersama ayahnya
Asyam Hafidz bersama ayahnya

Irwan menyambangi rumah Edi Asman Karim di Perum Lubuk Gading 1 Pengembangan, Blok.II/15, Lubuak Buaya, Kota Padang, untuk mengetahui bagimana kondisi keluarga tersebut sekaligus keadaan anak Edi Asman Karim di Yaman. Asyam Hafidz bersama 24 mahasiswa asal Sumbar satu Asrama bernnama Rabithah Islamiyah.

Mahasiswa asal Sumbar itu tidak bisa keluar ke pelabuhan, meskipun jarak tempuh dari tempat tinggal mereka selama 20 menit, karena situasi kemanan di tempat tinggal mereka tidak bisa diprediksi.

Asyam Hafidz bersama ibunya
Asyam Hafidz bersama ibunya

“Kondisi ini tidak mungkin dilewati untuk sampai ke pelabuhan Nina karena kondisinya tidak aman. Pelabuhan itu juga sering dibom,” ujar Irwan mengutip cerita Asyam Hafidz lewat hanphone.

Sementara itu, Edi Asman Karim mengkhawatirkan kondisi anaknya bersama 24 temannya di Yaman. “Sudah empat kali mereka berencana berangkat ke pelabuhan tidak pernah sampai, karena tidak bisa dilewati akibat tembakan dan bunyi bom masih terus berlangsung,” kata Edi.

Meski khawatir keselamatan anaknya, Edi tetap meminta supaya Asyam Hafidz tetap kuat dan mendengar saran dari warga setempat.

“Jangan memaksakan diri keluar rumah, jika kondisinya tidak memungkinkan,” pungkas Edi. (Musthafa Ritonga)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.