Rabu, 21 Oktober 20

Mahasiswa Singapura Alami Serangan Rasisme di London Dampak Virus Corona, Mahasiswa Singapura Dipukuli di London

<span class=Mahasiswa Singapura Alami Serangan Rasisme di London Dampak Virus Corona, Mahasiswa Singapura Dipukuli di London">
* Mok mengatakan wajahnya "bonyok dan berdarah" akibat bogem mentah para pemuda itu, yang membuatnya "linglung dan syok". (BBC)

Seorang mahasiswa dari Singapura mengatakan dia dipukuli oleh sekelompok pria yang mengatakan kepadanya, “Saya tidak ingin virus coronamu di negara saya.”

Jonathan Mok, yang berusia 23 tahun, mengatakan dia sedang berjalan di Oxford Street, di pusat kota London, Inggris, Senin lalu ketika dia mendengar teriakan “virus corona”.

Tatkala dia berhadapan dengan keempat pria tersebut, ujarnya, mereka tiba-tiba menghujaninya dengan pukulan yang membuatnya terluka parah.

Kepolisian London mengatakan pihaknya memperlakukan serangan itu sebagai “serangan rasial yang menyakitkan”. Namun demikian, tidak ada seorangpun yang ditangkap dalam kasus ini.

Mok, mahasiswa University College London, mengunggah foto-fotonya yang terluka ke laman Facebooknya dan disebarkan secara meluas.

Dia mengaku diserang sekitar pukul 21.15 GMT di dekat stasiun Tottenham Court Road, London.

Dalam keterangan foto, Mok menulis: “Tiba-tiba, pukulan pertama diayunkan ke wajah saya dan membuat saya terkejut.”

Mok mengatakan wajahnya “bonyok dan berdarah” akibat bogem mentah para pemuda itu, yang membuatnya “linglung dan syok”.

Dia mengatakan wabah virus corona digunakan oleh sejumlah orang sebagai alasan untuk “menebarkan kebencian lebih lanjut atas masyarakat yang berbeda dari mereka”.

“Saya hanya berpikir bahwa pengalaman saya ini mencemari citra kota yang indah ini dengan begitu banyak orang baik,” jelas Mok seperti dilansir BBC News Indonesia, Kamis (5/3/2020).

Perlakuan rasisme di Prancis dan Kanada
Sebelumnya, akhir Januari lalu, warga keturunan Tionghoa di Prancis dan Kanada mengatakan mereka mengalami perlakuan rasis di tengah merebaknya wabah virus corona.

Di Prancis mereka menggunakan tagar JeNeSuisPasUnVirus (saya bukan virus) di media sosial, sedangkan di Kanada, muncul serangan daring terhadap restoran China di sana.

Sentimen rasis terhadap warga keturunan Tionghoa sudah dilaporkan terjadi di beberapa negara, termasuk Prancis dan Kanada.

Di Prancis warga keturunan Tionghoa sempat marah ketika surat kabar lokal Le Courier Picard memajang berita utama “Alerte jaune” (Waspada Kuning) dan “Le péril jaune?” (Bahaya Kuning?), dilengkapi foto perempuan China memakai masker pelindung.

Surat kabar ini bergegas minta maaf, menyatakan mereka tak bermaksud menggunakan “stereotip buruk Asia”.

Sementara itu di Kanada, akhir Januari lalu, beberapa media melaporkan adanya sentimen rasisme terhadap warga China di sana, terutama di kota Toronto.

Pengguna Twitter asal Toronto, Terry Chu, dan beberapa ibu lainnya khawatir akan “gelombang rasisme yang tak terhindarkan” seiring menyebarnya virus corona.

Di York, pinggiran kota Toronto, sejumlah orang tua siswa mengedarkan dan menandatangani petisi daring yang meminta siswa yang baru kembali dari China dalam 17 hari terakhir, dilarang masuk ke sekolah.

Sentimen rasis terhadap orang China pernah terjadi di Kanada seiring wabah SARS pada tahun 2003 lalu.

Saat panik terjadi akibat wabah tersebut, banyak bisnis orang China di Kanada mengalami kemerosotan penghasilan.

Kasus virus corona di Inggris melonjak
Inggris melaporkan lonjakan kasus yang terinfeksi virus corona, setelah dua pasien yang dirawat di sebuah rumah sakit positif terjangkit, sehingga jumlah totalnya menjadi 90 orang.

Pejabat kesehatan Inggris Profesor Chris Whitty mengatakan, hampir semua dari 36 pasien baru-baru ini melakukan perjalanan ke negara-negara yang terkena dampak atau tertular dari orang lain yang telah bepergian. Namun belum diketahui pasti bagaimana tiga pasien baru di Inggris ini terserang virus.

Di saat yang bersamaan, rumah sakit King College, London, juga melaporkan dua pasiennya yang terjangkit virus.

Salah seorang kerabat dari pasien lanjut usia di rumah sakit London selatan mengatakan kepada BBC, salah satu dari mereka yang terinfeksi tinggal di ruangan yang sama dengan kerabatnya sebelum didiagnosis.

Pihak rumah sakit mengatakan telah membatasi kunjungan staf dan orang-orang yang membesuk ke ruang perawatan pasien yang terjangkit, dan tengah melacak mereka yang mungkin telah melakukan kontak dengan pasien yang terinfeksi.

Dari 87 kasus yang ada di Inggris, 80 diantaranya terjadi di Inggris, tiga di Skotlandia, satu di Wales dan tiga di Irlandia Utara.

Dua pasien terbaru adalah orang Skotlandia, satu orang tinggal di daerah Grampian dan yang lainnya di Ayrshire.

Satu pasien baru-baru ini bepergian ke bagian utara Italia, sementara pasien lainnya melakukan kontak dengan orang yang positif terjangkit virus.

Kasus-kasus baru virus di Inggris telah dikonfirmasi di Liverpool, York, Carlisle, Newcastle, Torquay dan Manchester, serta di Lancashire dan Derbyshire.

Di Irlandia Utara, seorang mahasiswa pascasarjana Queen’s University, yang baru saja kembali dari Italia utara dan berbaur dengan sesama mahasiswa, dinyatakan positif terjangkit virus.

Sementara itu, para mahasiswa di Universitas Goldsmiths, London diberitahu bahwa ada seseorang yang terinfeksi virus corona berkunjung ke asrama kampus.

Dalam emailnya, pihak universitas mengatakan orang tersebut “telah dirawat” dan mahasiswa yang dikunjungi juga “mengisolasi diri sebagai tindakan pencegahan”.

Universitas Buckingham dan Universitas London menunda acara wisuda untuk meminimalkan penyebaran virus.

Whitty, yang sebelumnya menyebut “kemungkinan bisa terjadi” epidemi di Inggris, mengatakan orang-orang yang telah melakukan kontak dengan pasien baru tengah dilacak.

Dalam “skenario terburuk”, hingga 80% dari populasi Inggris dapat terinfeksi virus corona, yang menyebabkan penyakit Covid-19, katanya.

Namun ia mengatakan langkah untuk mengisolasi seluruh kota di Inggris “sangat tidak mungkin”.

Inggris juga meluncurkan kampanye kesehatan yang mendorong orang-orang agar mencuci tangan secara teratur selama setidaknya 20 detik.

Sekretaris Menteri Kesehatan Matt Hancock mengatakan mencuci tangan secara teratur adalah “satu-satunya hal terpenting yang bisa dilakukan orang-orang”.

Badan Kesehatan Inggris menganjurkan untuk menggunakan pembersih tangan dengan alkohol setidaknya 60% jika sabun dan air tidak tersedia. Mereka juga menyarankan bahwa mencuci tangan sangat penting setelah bepergian dengan transportasi umum.

Sebelumnya pada Rabu (4/3), Perdana Menteri Boris Johnson mengumumkan undang-undang darurat yang memperbolehkan para pekerja memperoleh gaji sakit saat mereka tidak bekerja untuk membantu mengendalikan virus.

Johnson mengatakan kepada Majelis Rendah bahwa orang yang mengisolasi diri “harus digaji karena melakukan hal yang benar”.

Pemerintah mengatakan seperlima dari pekerja mungkin mengambil cuti sakit selama puncak epidemi virus korona di Inggris.

Sekitar 90.000 orang telah terinfeksi secara global sejak berjangkitnya virus corona di Provinsi Hubei, Cina, pada bulan Desember.

Pekan lalu, seorang pria Inggris yang terjangkit di kapal pesiar Diamond Princess yang dikarantina di Jepang menjadi warga negara Inggris pertama yang meninggal karena virus corona. (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.