Jumat, 17 September 21

Mahasiswa Jangan Hanya Bisa Ngomong ‘Atas Nama Rakyat’

Mahasiswa Jangan Hanya Bisa Ngomong ‘Atas Nama Rakyat’

Jakarta, Obsessionnews – Mahasiswa bagian dari pemuda yang memiliki tiga fungsi tridharma perguruan tinggi, sebagai agen perubahan, agen pengontrol dan penelitian. Tiga dasar tersebut mahasiswa memiliki tanggungjawab dalam menjalankan peran-peran tersebut guna melakukan perubahan.

Mahasiswa harus turun melakukan pendampingan atau advokasi pada rakyat yang ditindas terhadap kebijakan pemerintah tidak pro rakyat. Tapi sekarang jarang kita menemukan mahasiswa yang melakukan kerja-kerja rakyat, malah mereka selalu bersembunyi dibalik almamaternya dan berteriak ‘Atas nama rakyat.

Melihat kondisi tersebut mantan Aktivis 98 Adian Napitupulu resah dengan kondisi mahasiswa hari ini yang setiap saat kerap mengatas namakan nama rakyat dalam setiap diskusi-diskusi kelembaga kampus yang dia kunjunginya, padahal mereka (mahasiswa) belum pernah melakukan kerja-kerja advokasi atau pendampingan terhadap masyarakat atau korban.

“Dalam sebuah Diskusi dengan BEM dari beberapa universitas, mereka berkali-kali menyampaikan kalimat-kalimat keras dan kritis yang kesemuanya diawali, diselingi atau di akhiri “ATAS NAMA RAKYAT”. Kalimat yang membuat bulu kuduk berdiri dan hati saya bergetar. Tapi selesai pernyataan dan pertanyaan heroik itu, saya pun bertanya balik pada mahasiswanya, kalian pernah mengorgasir Rakyat? Pernah mengadvokasi Rakyat? Dan mereka menjawab “Belum pernah”, ungkapnya, Rabu (24/6/2015)

Menurut Adian, di zamannya untuk berkata “Atas nama Rakyat” tidaklah mudah. Hak untuk berkata “Atas nama Rakyat” tidak serta merta lahir karena status mahasiswa, tidak lahir karena gemerlap jaket almamater. Tidak lahir bagai mantra seketika selesai membaca buku. Untuk berani berkata “Atas nama Rakyat” dulu mereka awali dengan turun berjuang bersama Rakyat dalam pendampingan kasus-kasus Rakyat.

Di Jogja ada kedung Ombo, di Bandung ada Cibereum, Di Bogor ada Cimacan, Tapos dan SUTET di Garut ada Selecta, di Bali ada Serangan dan BNR, di Jakarta ada kasus-kasus PKL dan Rakyat yang digusur. “Untuk berkata “Atas Nama Rakyat” maka dulu kami mulai dengan mengorganisir Buruh di pabrik-pabrik, memperjuangkan hak atas upah, hak berorganisasi hingga cuti hamil,” bebernya.

Dari pendampingan Rakyat yang bertahun itulah kata Adian memahami apa itu penderitaan, kemiskinan, penindasan dan ketidak adilan. Dari kasus-kasus Rakyat itu keberpihakan dan cinta lahir. Dari pendampingan Rakyat itu mereka pernah merasakan sakitnya dipukuli aparat, pongahnya birokrasi dan kejamnya negara. “Ya, semua proses itu yang memberikan kami kekuatan moral untuk berani berkata “ATAS NAMA RAKYAT!,” kenangnya.

Sekjen Pena 98 yang juga anggota perwakilan rakyat di senayan (DPR RI) ini mengaku kalau memahami penderitaan bukan dari buku tapi dari apa yang pernah dialami langsung, begitupun memahami sakit bukan dari cerita saja tapi karena saat itu dipukuli aparat setiap hari.

“Jika kami bicara kemiskinan bukan dari tulisan di media massa tapi dari keras dan apeknya butiran nasi yang kami makan. Kami bicara keadilan bukan mengutip kata-kata para Profesor tapi karena kami hidup dan berdiri di pihak Rakyat yang di zolimi,” pungkasnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.