Jumat, 3 Februari 23

Lukisan “Negeri Tanpa Penistaan Agama” akan Dilelang

Lukisan “Negeri Tanpa Penistaan Agama” akan Dilelang

Jakarta, Obsessionnews.com – Sidang keenam dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur non aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang digelar oleh Pengadilan Negeri  Jakarta Utara (PN Jakut) di gedung Kementerian Pertanian masih terus bergulir. Berbagai aksi ormas ke Islaman yang  mengawal sidang tersebut  dilakukan, seperti  yang  dilakukan oleh Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi).

Aksi seni Parmusi kali ini bertajuk melukis ‘Negeri Tanpa Penistaan Agama‘. “Ini merupakan seruan dari bangsa Indonesia bahwa kita mempunyai gerakan kebudayaan bisa menjadi satu kekuatan perubahan sosial, bahkan perubahan politik,’ ujar Ketua Departemen Seni dan Budaya Parmusi, Chavchay Saifullah kepada Obsessionnews.com di depan gedung Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (17/1/2017).

Menurutnya, seniman budayawan yang mengendapkan perasaan untuk mengekpresikan situasi bangsa yang mutahir itu berada dalam posisi yang paling sunyi. Sehingga apa yang mereka harapkan, mereka ekspresikan  bahwa negeri yang diisi oleh penistaan-penistaan terhadap agama, kebudayaan, adalah sebuah negeri yang miskin secara peradaban.

“Sehingga para pelukis hadir untuk memberi  kabar kepada bangsa Indonesia bahwa negeri  ini harus diurusi secara etika, moral, hukum  dan persoalan-persoalan keadilan.  Sehingga penistaan terhadap keagamaan dapat diekspresikan sebagai sebuah anti dari persoalan-persoalan etik hokum dan lainnya,” kata  Chavchay.

Chavchay berharap, gerakan kebudayaan ini  menyampaikan kepada publik bahwa Islam itu bukan hanya negara perdamaian , tapi juga agama yang sangat mencintai keindahan. “Ini pesan inti dari gerakan ini. Ini yang mereka ekspresikan hari ini, bahwa aksi-aksi kita selama hari ini diisi dengan orasi-orasi juga diisi dengan aksi seni, yaitu melukis,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, masing-masing pelukis, melukis dengan gayanya sendiri. Hasil lukisan ini akan dilelang. “Hasil lelang itu akan dijadikan sebagai modal pergerakan penolakan terhadap penistaan agama,” pungkasnya.

Berikut nama pelukis dan tema lukisannya

Edy Bonetsky,  Konsep lukisannya tentang sekuntum estetika visual untuk peradaban, membaca visual terhadap pengadilan Ahok untuk penegakan hukum.

Sipaindo, yang melukiskan Indonesia dari zaman Reformasi, berbagai peristiwa termasuk  korupsi, pemberantasan korupsi, penistaan agama, itu semua berusaha dibersihkan. “ Jadi Indonesia kemarin sampai hari ini dibersihkan,” paparnya.

Menurut Sipaindo, dalam lukisannya ini baru sedikit pemberantasan korupsi yang dibersihkan. “Belum jelas bisa  dibersihkan semua atau tidak. Seperti di lukisannya tergambar sebuah ember  hitam yang masih misteri, di bawah ember terdapat bendera Indonesia besar dan di atas ember terdapat bendera Indonesia kecil, yang artinya pemberantasan korupsi di Indonesia masih sedikit. Jadi, hanya mengangkat Indonesia kemarin, saat ini dan hari esok masih misteri,” katanya.

Selanjutnya digambarkan oleh Ibnu Alam, yang bertemakan ‘ Merekam aksi 212 kemarin di Monas’. Jadi didalam gambar tersebut memperlihatkan suasana pada aksi 212 di Monas.

Lain lagi yang digambarkan oleh Agus Junewa. Dia menggambar  seorang penista agama. Menurut dia siapa saja orang yang melakukan penista agama itu adalah orang gila. “Saya melukiskan orang gila yang selalu ngomong, dia bawa-bawa agama, dia bawa agama apapun yang dia nistakan demi kepamoran dia,” ujarnya di lokasi yang sama.

“Jadi, orang gila ini adalah gila hormat, gila jabatan, gila pencitraan. Sehingga dia terlalu berat untuk bisa diucapkan, secara tidak langsung lama-lama dia menjadi orang gila yang masuk ke rumah sakit jiwa,” tambahnya.

Ada juga gambar yang dibuat oleh Arif Konte, yang bertemakan  ‘Perjuangan menuju kedamaian’. Digambarkan dengan kuda yang  gagah menuju perdamaian  yang  dilambangkan dengan burung merpati. “Jadi merpati lambang perdamaian dan terbang bebas,’ ungkapnya.

Ahmad kusnandar , membuat gambar yang bertemakan  ‘Indonesia damai tanpa penistaan agama’ digambarkan alam Indonesia  sudah damai dan manusianya juga damai. Menurutnya, karena kedamaian itu indah.

Arie Suswana,  dia ngambil tema jati diri bangsa Indonesia. Menurutnya, dari dulu sampai sekarang Indonesia itu bisa menjadi negera besar, karena dikenal dengan kerukunannya, dengan kekuatannya nasionalismenya.

“Saya menggambarkan jati diri itu adalah singkong. Kalau bercerita dulu, mereka yang berjuang pada zaman dulu makannya singkong.saya mengabil filosofi singkong , apabila dicabut akarnya menyatu dengan tanah Indonesia, tanah bumi pertiwi. Ketika jati diri kita masih utuh, ketika ada penistaan agama, ganguan-gangguan terhadap NKRI, maka tidak akan apa-apa,” terangnya.

Lain lagi yang digambar oleh Abdul Azis,  tema yang diambil adalah surat Albaqarah ayat 284, yang menggabarkan penggalan depannya  yang diambil dari ‘lillahimmafisamawati wamma fil ard’ artinya, kepunyaan Allah lah segala yang ada dilangit dan bumi.

“Visualisasinya di sini adalah kekuasaan Allah meliputi semuanya, jadi jangan sampai kita memiliki segalanya. Jadi divisualkan dari warna biru, kuning, merah dan hitam yaitu pagi, siang sore dan malam,” kata Azis.

Juga Sukamto  yang memvisualisasi Indonesia terbebas dari para setan-setan. “Ini digambarkan leak, jadi setan seperti inilah yang menguasai negeri Indonesia,” jelasnya.

Yang terakhir dibuat dari Tanjung, dengan  temanya tentang bahaya global. Menurut dia, bahaya Internasional yang sedang mencengkram bumi NKRI. “Saya menggambarkan ini , ada sesuatu kekuatan yang  maha dasyat, terutama yang sudah bercokol di Indonesia. Yaitu Salibis, Zionis, Syah dan Komunis,” katanya kepada Obsessionnews.com.

Dari tema tersebut menggambarkan seperti buah catur dan ditambahkan gambar sumpit yang sedang mengambil pion-pion. “Jadi pion ini adalah satu kekuatan  elemen bangsa!” serunya.

Selain itu,  dia juga menggambarkan adanya gambar mangkok, ini sudah digambarkan oleh mereka  kekuatan dari elite bangsa ini tidak lepas dari kedudukan dan masalah uang, dengan cara menyogok jabatan dan sebagainya.

Lalu sumpit ini sudah menunjukan bahwa elit bangsa ini mudah sekali dibeli. Yakni satu persatu pion tersebut diangkat dimasukkan kedalam paham tersebut, apakah itu lewat agamanya, apa itu dari jalur politiknya, apa itu jalur budayanya. “Kekuatan ini memang sudah lama ada di Indonesia, terutama di tingkat Internasional,” tutupnya. (Purnomo)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.