Sabtu, 24 Oktober 20

LSM Dukung TNI Soal Hukum Mati Pelaku Narkoba Australia

LSM Dukung TNI Soal Hukum Mati Pelaku Narkoba Australia

Jakarta, Obsessionnews – LSM ‎Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT) mengapresiasi langkah Panglima TNI Jenderal Moeldoko untuk ikut mengamankan eksekusi hukuman mati terhadap dua terpidana Narkotika asal Australia, Adrew Chan dan Myruran Sukumaran.

Menurut Ketua PEKAT, Markoni Koto, kesiapan dari TNI memang disiapkan untuk mengamankan eksekusi mati yang rencananya akan dilaksanakan di Nusakambangan, Cilacap. Sebab, eksekusi tahap kedua ini banyak mendapat kencaman dari luar, baik dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan juga dari pemerintah Australia.

“Jika dibutuhkan, PEKAT juga siap membantu TNI mengamankan tiap jengkal tanah air dan tumpah darah bangsa Indonesia, dan Presiden Jokowi jangan ragu, rakyat mendukung penuh kebijakan Presiden,”‎ ujarnya di Jakarta, Sabtu (21/2/2015).

Markoni mengatakan, sikap tegas Presiden Jokowi memberikan hukuman mati terhadap para terpidana narkoba memang dibutuhkan. ‎Tujuannya selain untuk memberikan efek jera, juga sekaligus untuk memberikan pesan kepada negara luar bahwa Indonesia bisa berdaulat secara hukum meski mendapat kencaman dari berbagai pihak.

Menurut Markoni, ‎hukuman mati diperlukan sebab Indonesia saat ini sedang darurat narkoba. Setidaknya setiap hari hampir ada orang mati karena narkoba yang menggunanya mencapai 4,2 juta orang menurut data dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Karena itu penanganan narkoba harus dilakukan serius dengan dukungan dari masyarakat dan pemerintah.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko menegaskan, Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan mendukung langkah-langkah hukum Presiden RI Joko Widodo terkait eksekusi hukuman mati, dan Mabes TNI bereaksi atas penolakan Pemerintah Australia terkait rencana eksekusi hukuman mati terhadap dua warganya, Andrew Chan dan Myurn Sukumaran.

Panglima TNI menyatakan bahwa terhadap pelaksanaan hukuman mati atas pelaku narkoba, TNI mendukung sepenuhnya. TNI juga tidak terpengaruh oleh apapun dan siapapun atas hal itu.

“Untuk memperkuat dukungan TNI, saya selaku Panglima TNI dan para Komandan pasukan khusus akan membuat perencanaan yang detail bersama-sama Kejaksaan dan Kementerian Hukum dan HAM. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila ada gangguan-gangguan yang bersifat fisik maupun non fisik,” tegas Jenderal Moeldoko di Mabes TNI, Jumat (20/2).

Unsur intelijen dan alat tempur akan disiagakan yang setiap saat dapat digerakkan. Para komandan sàtuan khusus juga harus bersiap-siap. Kesiapan pasukan khusus TNI ini tentu tidak melihat atau mendefinisikan dari salah satu negara. “Tetapi sekali lagi, TNI sangat memahami kemungkinan-kemungkinan ancaman tersebut. Setelah saya perintahkan hari ini para komandan satuan khusus sudah menyiapkan dirinya dengan baik,” tegas Jenderal Moeldoko.

“Kami sangat memahami resiko atas kemungkinan terjadinya  lost generation akibat narkoba. Kita mendukung sepenuhnya kebijakan Presiden RI Joko Widodo dalam bentuk apapun, termasuk pemberian hukuman mati bagi terpidana kasus narkoba,” tandasnya.

Seperti diketahui, Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengungkit-ungkit bantuan yang pernah diberikan untuk Indonesia saat bencana tsunami 2004 lalu. Dia meminta Indonesia mengingat kebaikan tersebut dengan membatalkan eksekusi dua warga negaranya yang terlibat penyelundupan narkoba (“Bali Nine”).

“Ketika Indonesia dilanda tsunami, Australia memberi bantuan senilai satu miliar dolar. Kami mengirim pasukan angkatan darat dalam jumlah banyak untuk membantu Indonesia di bidang kemanusiaan,” kata Abbott seperti dilansir ABC Australia.

Abbott berharap Indonesia akan membalas kebaikan Australia dengan membatalkan eksekusi mati dua warganya, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.