Jumat, 27 Mei 22

Lobi-lobi Freeport Bisa Bikin RI Repot

Lobi-lobi Freeport Bisa Bikin RI Repot

Jakarta, Obsessionnews – Sebagai mantan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), dan kini duduk sebagai Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PT FI), ‘merah putih’ di hati Maroef Sjamsuddin sepertinya perlu dipertanyakan.

Sebab bukan apa-apa, setelah persoalan ‘Papa Minta Saham’ berangsur mulai tenggelam bahkan gagal memenuhi maunya PT FI, kini giliran pemimpin Papua atau Gubernur setempat yang ‘dikulik’ Maroef.

Kabarnya, ketika Gubernur Papua Lukas Enambe menggelar open house saat perayaan Natal beberapa waktu lalu, Maroef hadir di sana. Patut diduga, kehadiran bos PT FI itu bertujuan merayu Lukas demi mendulang dukungan dalam memuluskan niat perpanjangan Kontrak Karya antara perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu dengan pemerintah Indonesia.

Setelah Lukas, sejumlah tokoh masyarakat setempat di sekitar area penambangan PT FI yang tergabung dalam dari Lemasa (Lembaga suku adat suku Amungme) serta Lemasko (Lembaga Masyarakat Adat suku Kamoro) juga diajak kongkow di Rimba Papua Hotel pada Sabtu pekan lalu. Tujuannya, kemungkinan sama. Mendulang dukungan.

Seorang pengamat energi yakni Yusri Usman mencurigai loby-loby tersebut sebagai upaya membangkitkan sentimen kedaerahan. Sebab dalam pernyataannya, Maroef mengatakan bahwa Lemasa dan Lemasko adalah keluarga besar.

“Tolong kawal kami sebagai keluarga besar dan Freeport tidak dapat berjalan sendiri tetapi jalan bersama tokoh masyarakat Papua,” begitu kira-kira pernyataan Maroef Syamsudin, usai pertemuan tersebut.

Saat ini, banyak orang di luar Papua yang justru seolah lebih tahu seluk-beluk dan kenal betul apa itu Papua dan siapa itu PT FI. Padahal, yang paling mengenal persoalan Freeport itu sendiri adalah masyarakat ‘Bumi Cenderawasih’ khususnya di sekitar area pertambangan seperti suku Amungme dan Kamaro.

Orang-orang yang ribut di Jakarta tidak akan merasakan dampak kalau perusahaan ditutup. Tapi masyarakat Papua itu sendiri. Begitu kira-kira opini yang sedang dimainkan.

“Saya melihat sikap dan gerakan yang dilakukan oleh Maroef sebagai Dirut PT FI sangat berbahaya dalam konteks politik keamanan negara,” kata Yusri melalui pesan singkat kepada obsessionnews.com, Selasa (29/12).

Akibatnya, ada peluang kalau segala opini seperti ini terus dikembangkan justru malah memicu ketegangan antara pemerintah pusat dan daerah. Apalagi, isu soal Papua Merdeka yang sudah lama diusung sekelompok masyarakat di sana bisa saja memanas lagi hingga mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Lukas Enambe akhirnya tegas-tegas meminta bagian saham sebesar 10 persen. Sedangkan sejumlah tokoh masyarakat mendesak agar pemerintah pusat segera memperpanjang Kontrak Karya. Padahal sebelumnya, banyak pihak bahkan anggota legislatif bersuara miring menyikapi aktifitas PT FI yang sudah mendulang kekayaan sejak 48 tahun lalu.

Dosa PT FI bisa dibilang terlalu banyak ditumpuk terhadap republik ini. Bayangkan, soal divestasi saham yang dijanjikan dilaksanakan akhir Desember 2011 sesuai Kontrak Karya yang berlaku saja tak pernah dihiraukan. Belum lagi soal lainnya seperti pembayaran royalti, deviden termasuk pencemaran lingkungan.

Pemerintah pun dianjurkan Yusri segera menyikapi dengan tegas tiap gerak-gerik PT FI yang terkesan mempraktekkan politik ‘adu domba’. Dan yang perlu ditekankan juga, seberapa ‘merah-putihkah’ hati Maroef yang mantan prajurit TNI itu? (Mahbub Junaidi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.