Minggu, 25 September 22

Lima Orang Tersangka OTT KPK di Bengkulu, Dua Hakim

Lima Orang Tersangka OTT KPK di Bengkulu, Dua Hakim
* Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati.

Jakarta, Obsessionnews – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan lima orang sebagai tersangka dari hasil operasi tangkap tangan yang dilakukan sehari sebelumnya di Bengkulu. Dari lima tersangka, dua di antaranya adalah merupakan hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Bengkulu.

Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati mengatakan, lima orang yang ditetapkan sebagai tersangka ialah Ketua Pengadilan Negeri Kepahiang sekaligus Hakim Pengadilan Tipikor Bengkulu Janner Purba, Hakim Ad Hoc Pengadilan Tipikor Bengkulu Tonton, Panitera Pengadilan Tipikor Bengkulu Amsori Bachsin alias Billy, mantan Kepala Bagian Keuangan RSUD Syafri Syafii, dan mantan Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD M Yunus Bengkulu Edi Santroni.

“Setelah melakukan pemeriksaan 1 x 24 jam, KPK melakukan gelar perkara dan memutuskan meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan sejalan penetapan lima orang tersangka,” ujar Yuyuk di kantornya, Jakarta, Selasa (24/5/2016).

Yuyuk menjelaskan penetapan tersangka terhadap kelimanya dilakukan setelah penyidik KPK memeriksa mereka selama 1×24 jam. Selain itu, pasca pemeriksaan KPK juga telah melakukan gelar perkara. Janner dan Toton diketahui merupakan tersangka penerima suap. Sedangkan Syafri dan Edi merupakan tersangka pemberi suap.

Yuyuk mengungkapkan bahwa operasi tangkap tangan yang dilakukan terhadap para tersangka terakit dengan kasus dugaan suap meringankan hukuman dalam kasus korupsi penyalahgunaan dana honor Dewan Pembina RS M Yunus Bengkulu tahun anggaran 2011. Dalam kasus korupsi tersebut, Syafri dan Edi merupakan terdakwa dalam kasus tersebut.

“Kasus tersebut sedang disidangkan di Pengadilan Tipikor Bengkulu dengan terdakwa ES dan SS.” ujarnya.

Selain mengamankan para tersangka, Petugas KPK juga menemukan uang berjumlah Rp 150 juta di mobil milik Janner. Diduga uang tersebut merupakan pemberian dari Syafri. Menurut Yuyuk, pemberian tersebut merupakan yang kedua setelah pada 17 Mei 2016, Janner menerima uang Rp 500 juta dari Edi.

“Diduga uang tersebut untuk memengaruhi putusan karena sidang putusan rencananya akan disidangkan hari ini,” ungkap Yuyuk.

Janner dan Toton disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau c atau Pasal 6 ayat 2 atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sementara itu, Syafri dan Edi disangka melanggar Pasal 6 ayat 1 atau Pasal 6 ayat 1 huruf a atau b dan atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Badaruddin disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau c atau Pasal 6 ayat 2 atau Pasal 5 ayat 2 atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.