Minggu, 27 November 22

Legalkan Ganja, Thailand Mulai Panik Sendiri Warga Banyak Mabuk Ganja

Legalkan Ganja, Thailand Mulai Panik Sendiri Warga Banyak Mabuk Ganja
* Pemerintah Thailand bagi-bagi tanaman ganja. (Insider)

Lucu dan koplak! Akibat pemerintah Thailand legalkan ganja, akhirnya negara ‘gajah putih’ itu mulai panik sendiri karena banyak warganya yang mabuk ganja. Pasca ganja dilegalkan di negara Thailand, saat ini banyak warga yang mulai mabuk dan pesta ganja di mana-mana.

Saking paniknya, buru-buru Pemerintah Thailand segera mengeluarkan aturan baru untuk membatasi akses ganja dan rami kepada orang-orang berusia minimal 20 tahun, setelah terjadi dekriminalisasi ganja sejak 9 Juni 2022 yang memicu banyak keluhan.

Seperti dilansir disway.id, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan Anutin Charnvirakul mengatakan langkah awal yang akan dilakukan adalah dengan menandatangani peraturan pembatasan akses ganja pada Kamis 16 Juni 2022 untuk menetapkan ganja dan rami sebagai tanaman yang dikendalikan.

“Bagi yang berusia di bawah 20 tahun tidak akan diizinkan memiliki dan menggunakannya ganja dan rami kecuali mereka memiliki izin dari dokter,” terang Anutin Charnvirakul.

Langkah ini diambil setelah adanya laporan mengenai 4 pria termasuk siswa berusia 16 dan 17 tahun dirawat setelah mabuk ganja.

Hingga akhirnya, dibawa ke rumah sakit Bangkok minggu kemarin untuk perawatan yang didefinisikan sebagai overdosis ganja.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan yang akan ditentukan oleh Administrasi Metropolitan Bangkok yang akan melarang pihaknya untuk penggunaan ganja di sekolah-sekolah.

Pemerintah juga akan mengeluarkan aturan untuk membatasi atau melarang konsumsi ganja di tempat umum dan mengontrol ganja dalam makanan.

“Aturan-aturan ini akan menjadi alat bagi pejabat untuk mengontrol dan mencegah penyalahgunaan,” kata Anutin.

Pemerintah Thailand hari ini, Kamis 9 Juni 2022 resmi melegalisasi penggunaan ganja untuk kepentingan medis hingga rumah tangga.

Thailand menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang menerapkan aturan tersebut terkait budidaya ganja di rumah.

Kendati legal, bukan berarti tanpa aturan. Dalam pengesahan itu, ganja hanya digunakan untuk kepentingan medis hingga kosmetik.

Pemerintah Thailand mengatakan, tujuan utama dari undang-undang baru ini untuk meringankan kondisi kesehatan tertentu dan meningkatkan kesehatan yang baik di tingkat rumah tangga.

“Setiap warga yang menanam dan budidaya ganja dan rami harus mendaftarkan diri melalui aplikasi Pluk Kan,” kata Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Withid Sariddechaikool dikutip Disway.id dari laporan Bangkok Post.

Withid menjelaskan, Pluk Kan merupakan sebuah aplikasi soal penanaman ganja yang dikembangkan dan dioperasikan Badan Pangan dan Obat-obatan (FDA).

“Bagi siapa saja yang ingin menanam ganja harus memperhatikan sejumlah aturan yang harus dipatuhi,” tegasnya.

Aturan itu di antaranya ekstrak yang mengandung lebih dari 0,2 persen tetrahydrocannabinol (THC), senyawa psikoaktif utama dalam ganja, masih akan dianggap sebagai zat Tipe 5 berdasarkan undang-undang soal pengendalian dan penekanan narkotika.

“Dengan begitu, ekstrak tanaman ganja dengan kadar kandungan tersebut tetap dinilai ilegal,” ujarnya.

Sebelumnya, pria Thailand memotong kemaluannya sendiri menggunakan gunting saat menggunakan ganja.
Menurut laporan dokter dari Departemen Kedokteran Darurat Universitas Chiang Mai dalam Journal of Medical Case Reports, kemaluan pria 23 tahun ini dianggap terlalu kotor dan rapuh untuk direkonstruksi, membuat pria itu harus menjalankan operasi agar bisa buang air kecil.

Mengutip news.com.au, pria itu sempat mengisap ganja selama dua tahun setelah berhasil berhenti tiga bulan sebelum insiden ini terjadi.

Setelah mengisap dua gram ganja, ia mengalami ereksi tanpa stimulasi seksual. Setelah itu, ia merasakan sakit parah dan memutuskan menanggulangi rasa sakit tersebut dengan memotong kulit kelaminnya.

“Berniat untuk menghilangkan rasa sakit, ia memutuskan memotong kulit kelaminnya beberapa kali dan benar-benar mengamputasi kelaminnya menggunakan gunting,” tulis laporan tersebut.

Laporan ini juga menuturkan pria tersebut sadar selama proses pemotongan ini terjadi.

Pria itu mengalami pendarahan selama dua jam, membuatnya dibawa ke rumah sakit dan harus menjalani operasi. Pria ini lalu didiagnosis mengalami gangguan psikotik akibat zat.

Pria tersebut mengaku memiliki halusinasi visual dan pendengaran, seperti ‘melihat bayangan bergerak, mendengar burung berkicau ataupun suara serangga, pun juga mood yang depresi. Namun, pria ini tak memiliki ide untuk bunuh diri.

Setelah dua pekan, pria ini bisa buang air kecil dalam posisi duduk.

“Mengamputasi alat kelamin sendiri karena gangguan yang disebabkan oleh ganja, seperti pada pasien kami, merupakan peristiwa dahsyat yang mengganggu kualitas hidup, seperti disfungsi buang air kecil atau fungsi seksual,” tulis para dokter.

Laporan tersebut juga menilai pemotongan berkali-kali mengindikasikan pria itu mendapatkan ketenangan saat menyakiti diri sendiri dan diduga disebabkan karena psikosis.

Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan Amerika Serikat, psikosis adalah keadaan di mana seseorang tak bisa merasakan kenyataan. Saat orang kemudian menjadi sakit karena hal ini, itu disebut episode psikotik. (Disway.id/CNN/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.