Senin, 25 Oktober 21

LCGC Masih Cerah Meski BBM Naik Turun dan Rupiah Melemah

LCGC Masih Cerah Meski BBM Naik Turun dan Rupiah Melemah

Jakarta – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp12.000 per Dolar AS akhir – akhir ini mulai berdampak pada beban biaya industri otomotif. Disisi lain, dicabutnya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang membawa harga minyak regional untuk mengikuti harga dunia justru membuka peluang untuk segmen Low Cost Green Car (LCGC).

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto saat ditemui usai acara acara Frost & Sullivan di Hotel Mulia Senayan Jakarta, Selasa (27/1/2015).

Menurut dia, saat ini Agen Pemegang Merek (APM) yang bergantung pada produk dan suku cadang impor adalah salah satu orang yang paling merasakan dampak dari menguatnya mata uang asing tersebut.

Karenanya, ia tidak menampik jika perlemahan itu pada gilirannya akan berdampak pada kenaikan harga kendaraann bermotor. “Secara teori perlemahan rupiah memang bisa berdampak pada kenaikan harga kendaraan bermotor,” ujar dia.

Namun karena adanya persaingan yang ketat di sektor otomotif dalam negeri, Jongkie memprediksi dampak tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Pasalnya, setiap perusahaan yang ingin meningkatkan harga jual kendaraannya pasti akan membandingkan dengan harga kendaraan pesaingnya.

“Tetapi kalau saya amati, walau rupiah melemah, tapi karena persaingan ketat di sektor otomotif akibatnya mau naikin harga nengok kiri kana mereka. Lha dia belum naik masa saya naik, pasti mikir kesitu dia,” terang dia.

Sikap wait and see para pengusaha tersebut, lanjut dia, berbuah pada tertahannya harga komuditas kendaraan bermotor. Namun sebagai konsekwensinya, cost produksi mereka menjadi lebih tinggi.

Hasilnya, profit dari para pengusaha otomotif nasional-pun mengalami penurunan yang selaras dengan penurunan nilai tukar Rupiah. “Ini yang saya dengar dari rekan – rekan pengusaha otomotif, profit turun karena tidak sanggup menaikkan harga,” ujar dia.

Meski demikian, lanjut Jongkie, para pengusaha tersebut umumnya masih tetap bertahan kerena melihak prospek industri otomotif di Indonesia masih cukup cerah. Prospek tersebut terlihat dari pertumbuhan income perkapita dan meningkatnya kelas menengah baru yang umumnya menggandrungi segmen Low Cost Green Car (LCGC).

Dikatakan, sejak pertama kali diluncurkan pada September 2013, mobil dengan konsep LCGC tersebut telah membuka segmen baru yang cukup prospektif bagi pasar Indonesia.

Hal itu terjadi karena mobil LCGC tersebut menawarkan harga yang relatif murah, dengan teknologi irit Bahan Bakar Minyak (BBM), dan desain yang menawan.

“LCGC itu saya sudah katakana sudah sejak awal diterbitkan September 2013 ini akan membuka segeman baru, dengan harga jual yang kurang lebih Rp100 juta – Rp110 juta, mobil dengan teknologi canggih desain baik dan semuanya, dan betul kan membuka segmen baru, ini kita sadari, semua orang yang terjun ke segmen ini juga bilang Ok,” kata Jongkie.

Hingga saat ini, hampir semua criteria yang dimiliki LCGC seperti irit bahan bakar itu merupakan faktor penentu orang Indonesia untuk memutuskan membeli kendaraan bermotor, termasuk jenis mobil.

Secara lebih rinci ketua Gaikindo itu juga menyebutkan bahwa penjualan LCGC sepanjang tahun 2014 mengalami kenaikan yang berlipat ganda dari pada angka penjualan ditahun 2013.

Menurut dia, sepanjang tahun 2013 penjualan LCGC hanya tembus 51.180 unit. Namun  di tahun 2014, segmen mobil yang dicanangkan pemerintah itu berhasil terjual 172.120 unit. Namun tentu saja hal itu terjadi karena waktu penjualan di tahun 2013 hanya beberapa bulan setelah LCGC diperkenalkan kepada publik.

Karenanya, Jongkie belum berani memprediksi angka penjualan produk tersebut di tahun 2015 ini. “Kenaikan LCGC itu bisa saja terjadi, karena kembali lagi masalah irit bahan bakar itu merupakan salah satu kriteria pembelian kita. Tapi kami tidak bisa prediksi saat ini, yang jelas para pemain happy – happy saja. Namun saya tidak bisa prediksi turun atau naiknya,” ujar dia.

Lebih lanjut Jongkie juga menyatakan, jika pencabutan subsidi BBM menjadikan harga Premium tidak menentu, atau bahkan mengalami kenaikan yang berkesinambungan, kedepan masyarakat tentu akan memilih mobil irit bahan bakar seperti halnya LCGC. “Karena mobil tersebut konsumsinya sanggup tembus jarak 20 km,” ujar dia.

Dia bahkan mengaku mendukung rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM jenis premium. Karena dengan begitu perbedaan antara harga Premium dan BBM Non Subsidi seperti Pertamax menjadi tidak jauh.

Hal itu dipandangnya justru menguntungkan konsumen karena setelah tahun 2006, industri otomotif dibawah naungan Gaikindo sudah tidak ada yang memproduksi mobil dengan setandar untuk premium.

“Orang sekarang sudah mulai sadar bahwa pakailah BBM yang benar, kalau pakainya premium ya pembakarannya tidak sempurna. Kami dari Gaikindo setuju dengan pengurangan subsidi, bahkan dengan penaikan harga BBM subsidi. Supaya disparitasnya ga terlalu besar,” tambah dia.

Dia bahkan yakin, naiknya harga BBM bersubsidi tidak akan mengganggu angka penjualan mobil. “Enggak mungkin, kan saya bilang tadi asal disparitasnya jangan terlewat tinggi dong, karena kalau income perkapita meningkat terus orang pasti akan memilih beli mobil,” terang dia.

Selain tidak takut dengan ancaman kenaikan harga BBM, Jongkie juga beranggapan semakin baiknya sarana transportasi dan meningkatnya tarif parkir kendaraan juga tidak akan mengganggu tingkat penjualan kendaraan bermotor tersebut.

Bahkan, lanjut dia, kalau misal kota – kota besar di Indonesia dibuat aturan seperti di Tokyo yang memahalkan pajak kendaraan, parkir dan sebagainya angka penjualan mobil akan terus meningkat sejalan dengan terus berkembangnya income perkapita.

“Saya tetap optimis. Karena income perkapita, pendapatan masyarakat Indonesia sepanjang tahun ke tahun itu meningkat terus, kalau sudah begitu pasti mereka mau beli. Hal semacam ini  sudah banyak menjadi fenomena di negara – negara lain,” kata dia.

Lebih lanjut dia memprediksi, seandainya Indonesia sudah memiliki transportasi masal yang baik, aman dan bisa diandalkan sehingga orang – orang berdasi memilih berangkat kerja menggunakan kereta api seperti di Singapura atau Jepang, mobil akan tetap dibeli.

Mobil – mobil tersebut, lanjut dia, akan ditinggal dirumah dan dipakai oleh istri atau ibu – ibu untuk berbagai aktifitasnya seperti pergih kepasar dan mengantar anak – anak ke sekolah. “Nanti di akhir pekan baru mereka sekeluarga keluar berasama dengan mobil itu,” ujar dia.

“Makanya sudah lah tidak usah terlalu dipikirkan. Dibuat saja dulu itu transportasi masal yang bagus. Alhamdulillah MRT sudah mulai bagus, kami tidak takut penurunan angka penjualan itu terjadi. Karena contohnya sudah banyak di negara lain. Di Singapura itu harga mobil gila – gilaan, MRT canggih, tapi mobil tetap dibeli,” sambung dia. (Kukuh Budiman)

Related posts