Rabu, 20 November 19

Lakukan Pelecehan Seks, Pendeta Dipenjara 6 Tahun

Lakukan Pelecehan Seks, Pendeta Dipenjara 6 Tahun
* Kardinal George Pell harus berada di balik jeruji besi sampai paling cepat 2022. (BBC)

Kardinal George Pell, pendeta Katolik paling senior yang dipidanakan atas pelecehan seksual, harus kembali ke penjara setelah gagal dalam upaya banding untuk membatalkan hukumannya di Australia.

Pell dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun pada Maret lalu setelah dinyatakan bersalah melecehkan dua bocah laki-laki di sebuah katedral di Melbourne pada tahun 1990-an. Ia bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah.

Pengadilan banding menolak argumen Pell bahwa putusan hakim terhadapnya tidak adil.

Mantan bendahara Vatikan berusia 78 tahun itu akan berada di balik jeruji besi sampai layak mendapatkan pembebasan bersyarat pada Oktober 2022.

Desember lalu, dewan juri secara aklamasi menghukum Pell karena melakukan pelecehan seksual terhadap anak laki-laki berusia 13 tahun di Katedral St. Patrick di Melbourne.

Pell menantang putusan tersebut dengan berargumen bahwa itu “tidak masuk akal” karena tidak ada cukup bukti bagi dewan juri untuk menghukumnya tanpa keraguan yang beralasan.

Pengacara sang pendeta mengatakan dewan juri terlalu mengandalkan “bukti yang tidak kuat” dari hanya satu korban yang masih hidup. Namun upaya bandingnya ditolak 2-1 oleh panel yang terdiri dari tiga hakim di Pengadilan Banding Victoria pada Rabu (21/08).

“Hakim [Chris] Maxwell dan saya menerima pengajuan jaksa penuntut bahwa pengadu merupakan saksi yang kuat, jelas-jelas bukan pembohong, bukan pengkhayal, dan merupakan saksi yang jujur,” kata Kepala Hakim Anne Ferguson.

Hukuman Pell telah mengguncang Gereja Katolik, tempat ia pernah menjadi salah satu penasihat terdekat Paus.

Para pengunjuk rasa menyambut keputusan Pengadilan Tinggi menolak pengajuan banding Kardinal George Pell. (BBC)

Pell merupakan uskup agung Melbourne pada 1996 ketika ia menemukan dua anak laki-laki di wilayah katedral dan melecehkan mereka secara seksual. Ia melecehkan salah seorang anak laki-laki itu lagi pada 1997.

Di persidangan, majelis hakim mendengarkan kesaksian dari salah seorang korban. Korban lainnya meninggal dunia karena overdosis obat pada 2014.

Dewan juri menolak argumen pembelaan bahwa tuduhan terhadap Pell adalah fantasi. Dewan menyatakan Pell bersalah atas dakwaan memerkosa anak, dan empat dakwaan tindakan tidak pantas terhadap anak.

Hukuman itu dirahasiakan dari publik sampai Februari, ketika jaksa penuntut menarik kembali sejumlah tuduhan tambahan terkait pelecehan seksual terhadap Pell.

Dua hakim yang mempertahankan hukuman Pell mengatakan bahwa mereka “tidak merasakan keraguan” atas putusan tersebut.

“Kami tekankan bahwa Kardinal Pell tidak harus membuktikan apapun selama persidangan. Malah, di semua tahap persidangan, beban bukti ada pada pihak penuntut,” kata Hakim Ferguson.

Pell hadir dalam persidangan. Seandainya upaya bandingnya sukses, sang pendeta bisa langsung dibebaskan pada hari Rabu.

Seorang korban yang masih hidup, yang namanya tidak bisa disebutkan karena alasan hukum, mengatakan ia “bersyukur atas sistem hukum yang bisa dipercaya semua orang.”

Sementara Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan kepada reporter: “Saya berbelasungkawa dengan para korban pelecehan seksual terhadap anak. Tidak hanya pada hari ini, tapi setiap hari.”

Tim legal Pell bisa kembali mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Australia, pengadilan tertinggi di negara itu. Namun tidak ada jaminan kalau pengadilan akan setuju untuk menerima upaya bandingnya. (*/BBC)

Sumber: BBC News Indonesia

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.