Jumat, 25 September 20

Kutip Hadits Nabi, Busyro Muqqodas Kritik Maraknya Politik Dinasti

Kutip Hadits Nabi, Busyro Muqqodas Kritik Maraknya Politik Dinasti
* Ketua PP Muhammadiyah bidang Hukum dan HAM Busyro Muqqodas. (Foto: Dokumen Muhammadiyah)

Jakarta, Obsessionnews.com – Ketua PP Muhammadiyah bidang Hukum dan HAM Busyro Muqqodas melontarkan kritik cukup tajam terkait perkembangan demokrasi bangsa ini yang dianggap semakin sakit. Hal ini kata dia, ditandai dengan banyak politik dinasti yang dipertunjukan oleh kelompok elite.

“Demokrasi kita bukan hanya sedang sakit, tetapi semakin sakit, semakin terpental, semakin mengalami krisis jiwa. Nah, itu ditandai dengan munculnya calon kepala daerah di Pilkada ini ada 10,37 persen yang itu merupakan anomali over-crisis demokrasi kita,” kata Busyro dalam diskusi publik LHKP PP Muhammadiyah ‘Oligarki Parpol dan Fenomena Calon Tunggal’, yang disiarkan di YouTube, Rabu (9/9/2020).

Semua mata masyarakat Indonesia kata Busyro, bisa melihat dengan jelas bagaimana politik dinasti yang bertumpu pada sistem politik oligarki dipertontonkan. Munculnya nama anak pertama Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, yang maju sebagai calon Wali Kota Solo, menantu Jokowi, Bobby Nasution, sebagai calon Wali Kota Medan.

Kemudian anak Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Hanindhito Himawan Pramana, maju calon Bupati Kediri, kata Busyro, ini adalah fakta yang sangat nyata dimana politik dinasti dipertontonkan.

“Kemudian menguatnya calon kepala daerah berbasis politik dinasti keluarga, ini beberapa hari yang lalu ini kita sudah sering menyampaikan ini kepada publik. Dinasti politik ini dinasti politik yang justru dipelopori oleh pejabat elite di Istana sana yang sedang menjabat tentunya,” katanya.

Lantas apa masalahnya dengan politik dinasti? Apakah ada efeknya secara moral?

Menurutnya, jika tidak sedang menjabat, sebenarnya tidak terlalu rumit permasalahannya. Namun, jika orang tuanya menjabat, tentu jika anggota keluarganya terpilih, akan ada hubungan struktural antara kepala daerah dan pejabat di tingkat pusat.

“Tapi ketika seseorang sedang menjabat di jajaran pusat, kemudian ada keluarganya yang didiamkan saja atau bahkan didorong untuk maju dalam proses pilkada, sedangkan nanti apabila itu terpilih, itu ada hubungan struktural fungsional antara kepala daerah yang terpilih yang keluarganya itu dengan orang tua kandungnya yang sedang memimpin sebuah struktur kekuasaan tingkat pusat. Nah inilah yang sesungguhnya menjadi persoalan yang sangat memprihatinkan,” ungkapnya.

Mengapa politik dinasti bisa muncul?

Menurut Busyro, menguatnya politik dinasti itu muncul karena adanya dominasi dari oligarki politik dan bisnis. Dimana kekuasaan bertumpu pada kelompok tertentu. Ia menilai munculnya politik dinasti tersebut menghambat kader unggulan yang dinilai memiliki basis kecerdasan, memiliki rekam jejak baik.

“Kemudian menguatnya faktor tersebut, kita melihat juga adanya dominasi oleh oligarki politik dan oligarki bisnis,” imbuhnya Busyo yang juga mantan Wakil Ketua KPK ini.

Tak hanya itu, politik dinasti dinilai mengkorupsi hak rakyat untuk memperoleh kepemimpinan berbasis the right man on the right job. Ia juga mengutip hadis yang mengandung pesan moral kehancuran.

“Sesungguhnya dengan era terbaru ini, kita sudah mesti harus belajar dengan lebih jujur, dengan lebih rasional, lebih objektif. Terjadi demoralisasi lembaga-lembaga dan sisi kenegaraan secara luas dari dilanggarnya asas-asas manajemen kepemimpinan, yaitu the right man the right job,” ungkapnya.

“Lebih daripada itu nabi kita Nabi Muhammad SAW, di dalam suatu pernyataan moral unggulnya ya atau akhlaknya mengatakan dalam suatu hadits itu, ‘Apabila suatu urusan itu kamu serahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran’. Nah kita sudah banyak belajar fakta atau realitas yang menguatkan hadis dilanggarnya prinsip-prinsip manajemen tersebut,” sambungnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.